Kemenangan Como, Cermin yang Tidak Nyaman
Para suporter Como membentangkan spanduk raksasa klub mereka pada laga Liga Italia Como 1907 vs Napoli di Stadion Giuseppe Sinigaglia pada Sabtu (2/5/2026).(AFP/PIERO CRUCIATTI)
08:24
26 Mei 2026

Kemenangan Como, Cermin yang Tidak Nyaman

SENIN dini hari, 25 Mei 2026. Como 1907 mengalahkan Cremonese 4-1 dan untuk pertama kali dalam sejarah 119 tahun klub itu, tim berjulukan I Lariani tersebut akan berlaga di Liga Champions.

Di seluruh Indonesia, media sosial meledak. Tagar Como trending. Orang-orang merayakan seolah timnas kita baru saja lolos ke Piala Dunia.

Tapi mari kita berhenti sejenak di sini. Apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?

Kapital, Bukan Prestasi

Como 1907 adalah klub Italia. Dilatih oleh orang Spanyol. Beranggotakan pemain-pemain dari Argentina, Yunani, Perancis, dan Spanyol.

Bermarkas di kota Italia. Berkompetisi di liga Italia. Musim depan, mereka akan menghadapi klub-klub Eropa di panggung yang selama ini hanya bisa kita tonton dari jauh.

Yang Indonesia dalam semua itu adalah satu hal: uangnya.

Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono: dua bersaudara pewaris kerajaan kretek Djarum dan pemegang saham pengendali Bank Central Asia, membeli Como pada April 2019 seharga sekitar 850.000 euro, ketika klub itu bangkrut dan terdampar di Serie D.

Dalam tujuh musim, mereka mengangkatnya dari divisi amatir ke Liga Champions.

Pencapaian itu luar biasa; sebagai kisah bisnis, sebagai bukti kompetensi manajerial, sebagai studi kasus investasi olahraga.

Baca juga: Menanti Ketegasan Presiden

Tapi pencapaian bisnis keluarga Hartono bukan pencapaian sepakbola Indonesia.

Mencampuradukkan keduanya bukan hanya tidak tepat, ini menyesatkan, karena mengaburkan pertanyaan yang jauh lebih penting: mengapa kapital dan visi sekelas ini hanya bisa bekerja di luar negeri?

Indonesia adalah rumah bagi dua orang yang kekayaan gabungannya oleh berbagai lembaga pemeringkat ditaksir melampaui 40 miliar dolar AS.

Dengan modal itu, mereka membangun sebuah klub di Italia yang kini akan bersaing dengan Real Madrid dan Bayern Muenchen.

Sementara itu, tim nasional Indonesia belum pernah sekali pun lolos ke putaran final Piala Dunia.

Kedua fakta ini hidup berdampingan tanpa ketegangan, seolah-olah normal.

Seolah-olah wajar bahwa uang terbesar dalam olahraga yang lahir dari tanah Indonesia mengalir ke sebuah kota kecil di tepi Danau Como, bukan ke Gelora Bung Karno atau ke akademi-akademi sepak bola di Jawa dan Sulawesi.

Kita tidak mempertanyakan ini karena Como memberi kita sesuatu yang lebih mudah dari kemajuan nyata: kebanggaan yang tidak menuntut apa pun dari kita.

Kemenangan Como bisa kita nikmati tanpa harus membenahi satu pun dari masalah struktural sepak bola kita sendiri.

Ini adalah kebanggaan yang murah dan justru karena murahnya, ia kontraproduktif.

Sistem yang Tidak Ramah Visi

Pertanyaan yang lebih adil bukan mengapa Hartono bersaudara memilih Como, melainkan: apakah mereka punya pilihan yang setara di dalam negeri?

Jawaban jujurnya: tidak.

Ekosistem sepakbola Indonesia belum menyediakan infrastruktur yang memungkinkan proyek sekelas Como tumbuh di sini.

Tata kelola kompetisi yang belum sepenuhnya profesional, ketidakpastian regulasi, keterbatasan infrastruktur stadion yang memenuhi standar internasional, dan pasar hak siar yang masih terfragmentasi, semuanya membuat investasi besar di sepakbola domestik datang dengan risiko yang sulit dikalkulasi.

Sementara di Italia, sistemnya sudah mapan: regulasi jelas, pasar ada, brand value kota Como sudah dikenal dunia bahkan sebelum satu pun bola ditendang.

Hartono bersaudara bukan meninggalkan Indonesia. Mereka hanya pergi ke tempat di mana sistem memungkinkan visi mereka bekerja.

Ini bukan kritik terhadap pilihan mereka. Ini adalah kritik terhadap sistem yang tidak berhasil membuat mereka memilih untuk tinggal.

Baca juga: Di Balik Ambisi Danantara

Maka pertanyaannya kembali: kemenangan Como malam tadi, milik siapa?

Milik Hartono bersaudara, tentu. Milik Cesc Fàbregas dan para pemainnya, pastilah.

Milik kota Como dan para tifosi yang sudah menantinya selama lebih dari satu abad, sudah pasti juga.

Milik Indonesia? Hanya dalam pengertian yang paling longgar bahwa dua warga negara kita kebetulan menandatangani cek yang membuat semua ini mungkin.

Merayakan Como sebagai kemenangan Indonesia bukan sekadar berlebihan.

Ini adalah cara kita menghibur diri dari sebuah kenyataan yang lebih keras: bahwa sepak bola Indonesia: sebagai sistem, sebagai ekosistem, sebagai proyek kolektif bangsa, masih jauh dari panggung yang Como baru saja capai.

Como adalah cermin. Dan yang tercermin di sana bukan kebanggaan, melainkan jarak yang masih harus kita tempuh.

Merayakan boleh. Tapi jangan sampai perayaan itu membuat kita lupa bertanya: kapan giliran kita membangun Como versi kita sendiri, di tanah kita sendiri?

Tag:  #kemenangan #como #cermin #yang #tidak #nyaman

KOMENTAR