



Kisah Seniman Bali Sulap Limbah Pecahan Kaca Jadi Karya Mahal hingga Laris di pasar Eropa
Dia tak lain adalah I Gede Rediawan, seorang seniman sekaligus pemilik galeri seni St Factory Blowing Glass di kawasan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Di tangan Rediawan, limbah pecahan kaca yang biasanya berakhir di tempat sampah, berhasil disulapnya menjadi karya yang mendatangkan omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.
Rediawan mengolah limbah pecahan kaca menjadi aneka kerajinan kaca tiup, karya seni yang dibuat dengan teknik meniupkan kaca cair menjadi gelembung atau lonjong menggunakan pipa tiup. Biasanya, kaca tiup digunakan sebagai aquarium mini, tempat buah, hingga tempat tanaman hias.
Lewat galeri seni miliknya, Rediawan sudah memulai usaha kaca tiup dari limbah pecahan kaca ini sekira 2017 lalu. Jauh sebelumnya, Rediawan sempat menggeluti usaha kaca mozaik. Namun, seiring redupnya permintaan, Rediawan pindah haluan dengan mencoba membuat kerajinan kaca tiup.
Menariknya, ide bisnis kaca tipu ini didapatkan Rediawan dari kenalannya seorang WNA asal Jepang yang kala itu sedang berkunjung ke Bali. Usut punya usut, kenalannya itu sudah lebih dulu memiliki bisnis kaca tiup di Jepang. Rediawan tampaknya terdorong untuk membuat kerajinan serupa yang akan kembali dijualnya.
Dengan sedikit memodifikasi ide sang kenalan, Rediawan pun mulai mencoba membuat kerajinan kaca tiup yang bermodalkan hanya aneka pecahan limbah kaca sudah tak terpakai, yang dibelinya seharga Rp1.000 per kilogram.

Limbah kaca yang dibelinya itu kemudian dibersihkan. Setelahnya, Rediawan melebur limbah pecahan kaca pada suhu 1.600 derajat celcius. Kaca yang sudah dilebur kemudian diproses menjadi berbagai bentuk barang kerajinan dengan cara ditiup.
Mulanya, segumpal cairan kaca yang diambil, dimasukkan ke dalam alat yang biasa disebut “mal” sambil ditiup dan diputar-putar. Setelah terbentuk benda yang diinginkan, kemudian dimasukkan kembali ke dalam oven pendingin hingga semalaman.
Rediawan juga turut melakukan inovasi dari kaca tiup yang dibuatnya. Di mana, dengan memberikan wadah kayu pada bagian bawah sebagai alas. Menariknya, kayu yang menjadi alas dari kaca tiup tersebut juga diolah Rediawan dari limbah kayu.
Kaca tiup milik Rediawan berhasil laris di pasaran, bahkan sudah terjual ke berbagai negara, khususnya Eropa. Berbagai produk kaca tiup itu dijual dengan harga mulai dari Rp50 ribu dan hingga Rp15 juta.
"Saat ini permintaan terbanyak dari Eropa. Pengiriman barangnya sekitar dua kontainer per bulan," kata Rediawan, Rabu (12/10/2022).
Kesuksesan Rediawan mengembangkan bisnisnya itu juga tak lepas dari bantuan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Bermodalkan Rp50 juta yang dipinjamnya itu, Rediawan berhasil mengolah bisnis kaca tiupnya datang mendatangkan omzet ratusan juta setiap bulannya, sekira Rp300 juta.
Selain pinjaman modal, Rediawan mengaku juga mendapat berbagai bantuan dari PMN, mulai dari pelatihan memasarkan barang lewat sosial media, kunjungan ke berbagai pameran, dan berbagai pelatihan lainnya.
Berkat pinjaman modal dan bimbingan dari PMN itu, usaha Rediawan berkembang pesat. 2022 lalu, ia sudah memiliki 60 karyawan, padahal semula hanya dibantu istri dan tiga orang karyawan.
#LokalAsri #ArahkanAksiAsrikanIndonesia #TribunNetwork #MataLokalMenjangkauIndonesia.
Tag: #kisah #seniman #bali #sulap #limbah #pecahan #kaca #jadi #karya #mahal #hingga #laris #pasar #eropa