Di Brussels Economic Security Forum, Menko Airlangga Bicara Pembangunan Kembali Arsitektur Ekonomi Internasional
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Director for Global Affairs, European Policy Center Almut Motter dalam sesi Ministerial Keynote and Conversation pada Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussel, Belgia, Jumat (05/06).(DOK. Kemenko Perekonomian)
11:18
6 Juni 2026

Di Brussels Economic Security Forum, Menko Airlangga Bicara Pembangunan Kembali Arsitektur Ekonomi Internasional

- Dinamika geopolitik global yang semakin kompleks memberikan tekanan baru terhadap sistem ekonomi internasional, mulai dari ketahanan rantai pasok hingga stabilitas perdagangan dan investasi.

Kondisi tersebut menuntut hadirnya kerangka kerja sama yang lebih erat serta pentingnya membangun arsitektur ekonomi internasional yang tetap terbuka, inklusif, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Seperti diberitakan ekon.go.id, Sabtu (6/6/2026), Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, arsitektur ekonomi internasional saat ini jelas sedang mengalami perubahan.

"Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat membangun kembali framework yang mampu mempertahankan manfaat keterbukaan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi," kata Airlangga Hartarto pada Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussel, Belgia, Jumat (05/06/2025).

Baca juga: Kunjungan Kerja ke Prancis dan Belgia, Menko Airlangga Kawal Aksesi OECD dan Ratifikasi I-EU CEPA

Menko Airlangga meyakini bahwa jawabannya bukan terletak pada decoupling, melainkan pada diversification. Bukan pada fragmentation, melainkan pada cooperation and partnerships.

BESF merupakan forum tahunan yang diselenggarakan oleh European Policy Centre (EPC) dan menjadi salah satu forum utama di Brussel untuk membahas isu keamanan ekonomi, ketahanan rantai pasok, perdagangan, investasi, teknologi, dan dinamika ekonomi global.

Forum tersebut dihadiri oleh para pejabat tinggi Uni Eropa, pemerintah negara mitra, pelaku usaha, hingga media internasional. Forum ini diskusi difokuskan pada berbagai isu strategis terkait keamanan dan ketahanan ekonomi di tengah dinamika global.

Menko Airlangga memaparkan pendekatan Indonesia dalam memperkuat economic security dan ketahanan ekonomi nasional, sekaligus menyampaikan perkembangan kerja sama ekonomi Indonesia dan Uni Eropa, termasuk proses penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Selain itu, Menko Airlangga juga menyampaikan pandangan Indonesia mengenai pentingnya memperkuat kerja sama internasional, mendorong diversifikasi rantai pasok global, serta mencegah fragmentasi ekonomi yang berpotensi menghambat pertumbuhan dan stabilitas perekonomian dunia.

Baca juga: Menko Airlangga hingga Gubernur BI Datangi Istana di Tengah Isu Rupiah Anjlok

Pada kesempatan tersebut, Menko Airlangga menjelaskan bahwa berbagai konflik global, termasuk yang terjadi di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah menunjukkan bagaimana gangguan geopolitik dapat dengan cepat berdampak pada rantai pasok, investasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Tren tersebut menunjukkan bahwa gangguan geopolitik dapat dengan cepat memicu peningkatan biaya, menurunkan investasi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Kondisi tersebut mendorong banyak negara untuk menerapkan berbagai kebijakan guna memperkuat keamanan ekonomi (economic security), antara lain melalui kebijakan industri, penyaringan investasi (investment screening), serta pengendalian ekspor (export controls) untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Di tengah tantangan tersebut, Indonesia mampu menjaga ketahanan ekonomi dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen (year-on-year) pada triwulan I tahun 2026, inflasi yang tetap terkendali, serta cadangan devisa kuat dan surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama lebih dari 70 bulan berturut-turut.

Lebih lanjut, Menko Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia saat ini terus mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, pengembangan manufaktur, transformasi digital, dan ekonomi hijau.

Baca juga: Misi Ekonomi di Kazan: Menko Airlangga Amankan Komitmen Strategis Indonesia-Rusia

Indonesia, kata Menko Airlangga, juga terus memperkuat posisinya dalam rantai pasok global, termasuk pada sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan energi terbarukan.

Indonesia telah berkembang menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dunia dengan menarik investasi dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara pada sektor produksi baterai, material katoda, hingga perakitan kendaraan listrik.

Perkembangan tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan industri nasional, tetapi juga berkontribusi terhadap diversifikasi rantai pasok energi bersih global sehingga menjadi lebih tangguh dan berkelanjutan.

Indonesia juga terus mendorong transformasi digital sebagai salah satu pilar penting dalam memperkuat keamanan dan ketahanan ekonomi nasional.

Nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan melampaui 130 miliar dollar AS dalam gross merchandise value (GMV) pada 2025, menjadikan Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Baca juga: Dampingi Presiden di KTT ASEAN Ke-48, Menko Airlangga Pimpin Delegasi RI pada AECC Meeting

Selain itu, Indonesia juga terus memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi melalui pengembangan energi terbarukan domestik dan implementasi program biodiesel B50.

Kebijakan tersebut diperkirakan mampu mengurangi impor bahan bakar hingga 4 juta kiloliter per tahun, sekaligus meningkatkan kemandirian energi nasional dan mendukung transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Pada kesempatan tersebut, Menko Airlangga juga menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memperluas kerja sama ekonomi melalui berbagai perjanjian perdagangan strategis termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Canada CEPA, dan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) serta proses aksesi Indonesia ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Sebagai anggota ASEAN, G20, dan BRICS, serta melalui proses aksesi menuju OECD, Indonesia terus memperkuat perannya sebagai jembatan antara negara maju dan negara berkembang.

Baca juga: Menko Airlangga Melayat ke Rumah Latifah Oetama: Semoga Keluarga Diberi Ketabahan

Peran tersebut menjadi penting dalam mendorong dialog, memperkuat kerja sama internasional, serta membangun solusi bersama yang inklusif guna menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.

Rangkaian Brussels Economic Security Forum (BESF) ditutup oleh European Commissioner for Trade and Economic Security Maroš Šef?ovi? yang menegaskan pentingnya penguatan kerja sama internasional dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik global.

“Mari kita bekerja sama membangun kerangka keamanan ekonomi yang lebih baik, yang mampu memperkuat ketahanan sekaligus menjaga keterbukaan, inklusivitas, dan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi semua,” ujar Menko Airlangga.

Tag:  #brussels #economic #security #forum #menko #airlangga #bicara #pembangunan #kembali #arsitektur #ekonomi #internasional

KOMENTAR