AS Serang Radar Iran, Konflik di Selat Hormuz Memanas
Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.(ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP)
16:28
6 Juni 2026

AS Serang Radar Iran, Konflik di Selat Hormuz Memanas

– Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah militer AS menyerang sejumlah fasilitas radar pantai Iran pada Sabtu (6/6/2026). Serangan itu dilakukan setelah pasukan AS menembak jatuh sejumlah drone Iran yang terbang di kawasan Selat Hormuz.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan diarahkan ke lokasi radar dan pengawasan Iran di Goruk dan Pulau Qeshm, dua titik strategis yang berada di sekitar Selat Hormuz.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (6/6/2026), seorang pejabat AS mengatakan empat drone Iran yang ditembak jatuh diduga ditujukan untuk mengancam lalu lintas maritim di kawasan tersebut.

Baca juga: Jika Perang Iran Selesai, Krisis Energi Tak Bisa Pulih Seketika

Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengklaim telah menargetkan empat kapal tanker yang mencoba melintas di Selat Hormuz tanpa izin Teheran.

Di tengah meningkatnya ketegangan, media pemerintah Kuwait melaporkan sistem pertahanan udara negara itu mencegat sejumlah rudal dan drone yang asalnya belum diumumkan secara resmi. Sirene peringatan juga terdengar di Bahrain dan warga diminta berlindung.

Iran mengklaim telah menyerang pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain menggunakan rudal balistik. Namun, militer AS menyebut enam rudal berhasil dicegat dan satu rudal lainnya tidak mencapai sasaran.

Upaya damai kembali terhambat

Eskalasi terbaru ini memperumit proses negosiasi yang selama beberapa bulan terakhir berlangsung antara Washington dan Teheran.

Kedua negara diketahui tengah berupaya mencapai kesepakatan sementara untuk menghentikan perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Baca juga: Trump Buka-bukaan Soal Iran: Mereka Kuat, Punya Harga Diri Tinggi

Namun, sejumlah isu utama, termasuk program nuklir Iran, masih menjadi hambatan besar dalam perundingan.

Iran menuntut akses terhadap miliaran dollar AS pendapatan minyak yang dibekukan, pelonggaran sanksi ekspor minyak mentah, pencabutan blokade pelabuhan, serta pengaruh yang lebih besar terhadap pengelolaan Selat Hormuz.

Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute energi terpenting dunia. Sebelum perang pecah, sekitar seperlima perdagangan minyak global melintasi selat tersebut.

Trump: Iran masih memiliki sekitar seperlima rudalnya

Presiden AS Donald Trump mengatakan kemampuan militer Iran telah jauh berkurang setelah berbagai fasilitas produksi drone dan rudalnya dihancurkan dalam serangan sebelumnya.

Meski demikian, Trump menilai Iran masih memiliki persediaan rudal yang cukup besar.

"Mereka masih memiliki rudal dan drone. Saya memperkirakan sekitar 21 persen hingga 22 persen dari total persediaan rudal mereka masih tersisa," kata Trump dalam wawancara dengan program "Meet the Press" NBC News.

Baca juga: Perang yang Melelahkan, Iran yang Bertahan

Trump mengakui para pemimpin Iran belum menunjukkan sikap yang lebih lunak dalam perundingan meski menghadapi tekanan militer yang besar.

Menurut dia, faktor kebanggaan nasional menjadi salah satu alasan Teheran belum bersedia menerima seluruh tuntutan Washington.

Harga energi dan rantai pasok terganggu

Perang yang dimulai setelah AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu telah berdampak luas terhadap ekonomi global.

Iran merespons operasi tersebut dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz pun mengalami gangguan signifikan.

Ketegangan itu mendorong kenaikan harga minyak dunia serta mengganggu rantai pasok berbagai komoditas.

Baca juga: Partai Republik Panik, Trump Janji Akhiri Perang Iran dengan Cepat

Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) bahkan memperingatkan bahwa lonjakan biaya bahan bakar dan transportasi berisiko mendorong jutaan orang lebih dekat ke ancaman kelaparan.

Sementara itu, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyebut peluang perdamaian bergantung pada keputusan AS untuk mencairkan aset Iran senilai 24 miliar dollar AS yang saat ini dibekukan.

Ia juga memperingatkan bahwa Washington akan memasuki "koridor gelap" apabila kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

Konflik Lebanon menambah rumit situasi

Ketegangan regional juga meningkat akibat pertempuran yang terus berlangsung antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan.

Hizbullah mengklaim telah melancarkan dua serangan terhadap pasukan Israel, termasuk di sekitar Kastel Beaufort yang baru-baru ini dikuasai militer Israel.

Di sisi lain, aparat keamanan Lebanon melaporkan serangan udara Israel terus menyasar sejumlah wilayah di Lebanon selatan.

Baca juga: AS Tembak Jatuh 4 Drone dan Hancurkan Radar Iran

Iran kembali menegaskan dukungannya terhadap Hizbullah dan menuntut Israel menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan. Teheran bahkan menjadikan penghentian konflik Israel-Hizbullah sebagai salah satu syarat dalam kesepakatan damai dengan AS.

Pemimpin Hizbullah Naim Qassem sebelumnya juga menolak kesepakatan yang dimediasi AS antara pemerintah Lebanon dan Israel karena tidak mengatur penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.

Hingga kini, baku tembak masih terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Lebanon, Gaza, Israel utara, dan Kuwait, meski AS telah mengupayakan berbagai kesepakatan gencatan senjata dalam beberapa pekan terakhir.

Tag:  #serang #radar #iran #konflik #selat #hormuz #memanas

KOMENTAR