Generasi Tanpa Tiruan
Suasana toko pakaian bekas atau thrifting di Depok Town Square, Jawa Barat, pada Senin (3/11/2025).(Aliyah Shifa Rifai/KOMPAS.com)
08:22
25 Mei 2026

Generasi Tanpa Tiruan

SAAT ini kita sering menyaksikan bagaimana Generasi Z (Gen-Z) seakan-akan sedang melakukan sebuah perlawanan terhadap narasi besar dalam industri penampilan.

Kita tahu, beberapa dekade terakhir marak sekali peniruan terhadap produk-produk kreatif dari brand terkenal dengan dalih ingin tetap tampil gaya mengikuti tren, namun kemampuan terbatas.

Maka sebagian dari generasi sebelum ini rela membeli barang-barang yang dianggap mirip, karena secara visual kadang nyaris tidak ada bedanya, terutama kalau mau ditampilkan di sosial media.

Namun tampaknya, bagi Gen Z, hal seperti ini bertentangan dengan perspektif mereka tentang gaya, tentang penampilan, tentang memvisualkan hal yang dimiliki, dan sebagainya.

Baca juga: Politik Bengkel Bandara Kertajati, Membaca Tawaran Amerika

Karena bagi mereka, penampilan tidak lagi hanya diukur pada seberapa kuat sebuah logo mewah melekat pada tubuhnya, tetapi justru ditekankan pada seberapa mampu kita konsisten pada otentisitas dari sebuah produk.

Gen Z lebih memilih baju bekas atau outfit yang sudah dipakai bertahun-tahun oleh pemilik pertamanya, namun ia merupakan produk yang original.

Sehingga dari sini mereka kemudian juga harus memahami bagaimana jejak historis yang melekat pada produk tersebut.

Inilah yang kemudian di lapangan kita temukan sebagai fenomena thrifting. Dengan kata lain, thrifting hari ini sudah menjadi subkultur yang masif.

Tampaknya hal ini telah tertanam pada perilaku dan tindakan langsung yang diekspresikan oleh Gen Z.

Jadi sepertinya mereka tengah memberikan pesan kepada orang tuanya agar jangan menyerah pada visualisasi artifisial yang kemudian kehilangan aura otentisitas.

Jika secara teoritik kita memahami fenomena ini, misalnya mengapa kepalsuan visual mulai tidak menarik bagi Gen Z, maka apa yang dikatakan oleh Pierre Bourdieu begitu menarik.

Bourdieu mengatakan bahwa konsumsi budaya pada hakikatnya adalah medan laga untuk menegaskan perbedaan kelas atau distingsi. 

Jika generasi sebelumnya kerap terjebak pada habitus ingin meniru dan menjadi seperti apa yang tengah populer, termasuk mengorbankan hal-hal yang sifatnya internal dari suatu produk.

Tindakan ini dipraktikkan dalam tindakan menerima dan mengonsumsi barang KW demi memanipulasi kapital budaya dan kapital simbolik, maka ternyata bagi Gen Z hal ini begitu memuakkan.

Karena kemewahan artifisial ini justru hanya menggoreskan luka batin: betapa seseorang tidak jujur dengan apa yang dia kenakan demi sesuatu yang sifatnya eksternal.

Bourdieu mengatakan, “selera mengklasifikasikan, dan ia mengklasifikasikan pengklasifikasi itu sendiri.”

Dengan kata lain, subjek-subjek sosial yang diklasifikasikan oleh klasifikasi mereka membedakan diri melalui distingsi yang mereka buat.

Dalam perspektif Gen Z, ini adalah sebuah jebakan.

Maka dari itu mereka kemudian melakukan perlawanan terhadap cara pandang tersebut.

Mereka lebih memilih berburu baju bekas dan outfit bekas di pasar-pasar thrifting itu.

Meski kemudian barang-barang yang mereka kenakan terlihat memang lebih usang ketimbang yang baru, namun dalam pandangan mereka itu jauh lebih berharga ketimbang sekadar menggunakan busana tiruan.

Dalam perspektif lain, jika kita melihat pendekatannya Michel Foucault, apa yang terjadi dalam konteks membanjirnya busana KW atau produk-produk tiruan itu karena bisa disebut bahwa produk tiruan pun merupakan anak kandung dari sistem kapitalisme.

Di mana dengan kekuasaannya, mereproduksi perspektif agar orang tampak sama di depan semua orang meskipun di dalamnya ada kepalsuan.

Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan bekerja tidak hanya melalui represi fisik, namun juga melalui normalisasi dan pengawasan tak terlihat seperti panopticon. 

Dalam ekosistem media utama dan aksesibilitas media sosial, maka kemudian berbagai gaya yang ditampilkan dan sampai kepada mata para pengguna adalah bentuk normalisasi dan hegemoni pada seseorang, di mana seseorang tidak akan dianggap ada dalam entitas tersebut ketika dia tidak mampu mengikuti tren yang sedang berkembang di situ.

Namun kemudian, jika kita bedah melalui praktik thrifting, ternyata Gen Z menerapkan apa yang disebut sebagai technologies of the self atau teknik mengelola diri sendiri.

Baca juga: Indonesia Menonton Sepak Bola, Negara Lain Menjualnya

Ini merupakan sebuah ekspresi bahwa mereka merasa dan mempraktikkan semangat otonom, serta ingin dengan sangat kuat melepaskan diri dari standarisasi industri fashion cepat yang eksploitatif. 

Mereka kemudian juga membangun perspektif sendiri tentang budaya, tentang diri, tentang tubuh, termasuk ketika ingin diekspresikan dalam ruang yang lebih luas.

Dari sini kemudian kita bisa melihat bahwa apa yang disampaikan oleh Gen Z adalah sebuah fenomena “Generasi Tanpa Tiruan”.

Dan ini adalah tamparan pada kesadaran generasi sebelumnya yang terlalu lama dikuasai oleh external force atau kekuatan eksternal yang akhirnya mengganggu bahkan menghilangkan jati diri otentik.

Inilah yang mungkin sedikit bisa kita singgung dari apa yang disampaikan oleh Jean Baudrillard tentang simulakrum, yaitu kondisi ketika tiruan yang dipuja bahkan akhirnya melampaui aslinya sendiri, di mana citra permukaan jauh lebih diagungkan ketimbang otentisitas.

Nah, dari sini Gen Z, dengan segala keberanian kulturalnya, melakukan dekonstruksi massal terhadap kepalsuan tersebut.

Mereka seakan sedang mengingatkan kita bahwa identitas manusia tidak semestinya dibangun di atas pondasi kosmetik palsu yang rapuh. 

Maka dengan memilih baju bekas yang original, mereka sebenarnya bukan sekadar membeli barang bekas, tetapi sedang menunjukkan bahwa kesadaran dibangun melalui sebuah perasaan otentik, murni, dan tentu saja menghargai budaya serta kreativitas.

Karena kita tahu, budaya dan kreativitas adalah sumbu dan api peradaban yang menyambungkan berbagai semangat antargenerasi. 

Tag:  #generasi #tanpa #tiruan

KOMENTAR