Prabowo Minta BMKG Gencarkan Modifikasi Cuaca Hadapi El Nino Saat Kemarau
Presiden saat menghadiri kegiatan panen raya udang dan peninjauan proses sortir hasil panen di kawasan Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (23/5/2026).(Dok Kominfo Kebumen )
16:02
23 Mei 2026

Prabowo Minta BMKG Gencarkan Modifikasi Cuaca Hadapi El Nino Saat Kemarau

- Presiden Prabowo Subianto meminta BMKG memperkuat operasi modifikasi cuaca (OMC) di berbagai wilayah Indonesia, untuk mengantisipasi fenomenaEl Nino yang diperkirakan terjadi bersamaan dengan musim kemarau tahun ini.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fatani mengatakan, instruksi itu diberikan agar pemerintah lebih siap menghadapi potensi kekeringan dan menjaga ketahanan pangan nasional.

“Bapak Presiden itu memberikan instruksi, memberikan direktif kepada BMKG agar memperkuat operasi modifikasi cuaca di Indonesia agar kita dapat mengantisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Nino ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Faisal, saat ditemui di Senayan, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Faisal, operasi modifikasi cuaca nantinya akan dilakukan secara bertahap di seluruh Indonesia untuk menjaga ketersediaan air di waduk, embung, hingga daerah tangkapan air.

Baca juga: BMKG: El Nino Bakal Berlangsung Mulai Juni 2026 hingga Mei 2027

“Jadi, OMC (Operasi Modifikasi Cuaca) ini akan bertahap di seluruh Indonesia,” kata dia.

Faisal menuturkan, pemerintah perlu mengantisipasi dampak El Nino karena fenomena tersebut berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

“Dan itu yang perlu kita waspadai ketika di bulan Juni, Juli, Agustus, nanti puncak musim kemarau Agustus, September, itu dapat membuat kemarau di Indonesia akan lebih panjang dan juga lebih kering dari yang terjadi dalam rata-rata 30 tahun terakhir,” ungkap dia.

BMKG sebelumnya memprediksiEl Nino mulai aktif pada Juni 2026 dan berlangsung hingga sekitar Maret sampai Mei 2027 dengan intensitas moderate hingga kuat.

Faisal mengatakan, operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk memastikan cadangan air nasional tetap terjaga, terutama demi mendukung target swasembada pangan pemerintah.

“Nah, kemudian nanti ketika musim kemarau terjadi tentunya kita harus siap apabila ingin swasembada pangan maka kita punya 220 bendungan di Indonesia kurang lebih, itu apakah sanggup untuk dapat mengairi irigasi, untuk air minum, untuk pembangkit listrik,” tutur Faisal.

Baca juga: Prabowo: Dunia Banyak Pertikaian, Indonesia Harus Bangun Pertahanan

Dia mencontohkan, BMKG sebelumnya telah melakukan operasi modifikasi cuaca secara masif di kawasan Danau Toba bersama Perum Jasa Tirta I dan Inalum.

Langkah itu dilakukan untuk menjaga tinggi muka air Danau Toba agar tetap normal sehingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA), kebutuhan irigasi, dan pasokan air minum tetap aman selama musim kemarau.

“Jadi, kita melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menjamin bahwa permukaan airnya tetap dalam kondisi normal sehingga pembangkit listrik bisa tetap beroperasi, kemudian untuk air minum, untuk irigasi dan sebagainya,” kata Faisal.

Menurut Faisal, investasi operasi modifikasi cuaca jauh lebih kecil dibandingkan manfaat ekonomi yang dihasilkan, terutama untuk menjaga operasional PLTA dan ketahanan air.

Selain menghadapi musim kemarau, BMKG sebelumnya juga menggunakan operasi modifikasi cuaca saat musim hujan untuk mengurangi potensi bencana hidrometeorologi, termasuk ketika periode arus mudik berlangsung.

Baca juga: Perbedaan Kemarau dan El Nino, Ini Dampak dan Waktu Terjadinya di 2026

BMKG mencatat wilayah yang paling terdampakEl Nino umumnya berada di bawah garis khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara wilayah Sumatera bagian utara dan Kalimantan utara diperkirakan tidak terdampak signifikan.

Tag:  #prabowo #minta #bmkg #gencarkan #modifikasi #cuaca #hadapi #nino #saat #kemarau

KOMENTAR