Ujung Polemik Cerdas Cermat MPR di Kalbar: Final Ulang Ditolak 2 Sekolah
- Polemik penilaian dalam final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) 2026 berujung pada situasi yang tak terduga.
Setelah MPR RI memutuskan final akan diulang akibat kontroversi penilaian juri, dua sekolah yang menjadi finalis justru kompak menolak pelaksanaan final ulang.
SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas sama-sama telah menyampaikan sikap resmi mereka, dan memilih mengakhiri polemik dengan meminta semua pihak kembali mengedepankan nilai persatuan, sportivitas, dan pendidikan.
Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Abraham Liyanto mengaku bangga dengan sikap kedua sekolah tersebut.
Menurut dia, respons kedua sekolah mencerminkan nilai-nilai Empat Pilar yang selama ini disosialisasikan melalui ajang LCC.
"Saya menanggapi respons kedua SMA ini dengan sangat bangga. Karena sebenarnya mereka telah mengimplementasikan apa yang mereka dapat dalam pelajaran 4 Pilar ini," ujar Abraham kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026).
Baca juga: MPR Bangga Final Ulang Lomba Cerdas Cermat Ditolak Dua Sekolah
"Mengutamakan persatuan, mencari keadilan, menunjukkan toleransi yang tinggi lewat pernyataan-pernyataan mereka yang demokratis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan," imbuh dia.
Abraham menjelaskan, LCC Empat Pilar memang dirancang bukan sekadar sebagai kompetisi, melainkan sarana menanamkan pemahaman kebangsaan kepada generasi muda.
Menurut dia, metode lomba dipilih karena dinilai lebih menarik dibandingkan sosialisasi biasa. Kegiatan itu bertujuan menyiapkan generasi muda agar memahami kehidupan berbangsa dan bernegara dengan benar.
Selain itu, kegiatan itu juga untuk meningkatkan wawasan kebangsaan dan cinta Tanah Air, serta mendorong pemahaman tentang demokrasi, toleransi, persatuan, dan konstitusi negara.
"Membentuk karakter pelajar yang nasionalis, dan berintegritas. Menumbuhkan budaya berpikir kritis, kerja sama tim dan sportivitas dalam berlomba," kata Abraham.
Baca juga: MPR Tegaskan Tak Ada Tuduhan Kecurangan pada Final Cerdas Cermat, Hanya Salah Paham
SMAN 1 Pontianak: Kami tidak bertujuan menganulir hasil
SMAN 1 Pontianak menjadi sekolah pertama yang menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan ulang final LCC Empat Pilar tingkat Kalbar.
Sikap itu disampaikan melalui pernyataan resmi yang ditandatangani Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, Kamis (14/5/2026), menyusul polemik yang berkembang setelah final lomba digelar.
Dalam keterangannya, pihak sekolah menegaskan bahwa langkah yang mereka lakukan sejak awal bukan untuk menyerang ataupun menjatuhkan kredibilitas lembaga, panitia, maupun individu tertentu.
Sekolah menyebutkan, upaya protes dilakukan semata-mata untuk memperoleh konfirmasi dan klarifikasi agar mekanisme lomba berjalan transparan, objektif, dan akuntabel.
"SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan hanya untuk memperoleh kejelasan terhadap poin-poin yang dipersoalkan," tulis Indang.
Baca juga: MPR Tegaskan Tak Ada Tuduhan Kecurangan pada Final Cerdas Cermat, Hanya Salah Paham
SMAN 1 Pontianak juga menyatakan tetap menghormati hasil lomba yang telah ditetapkan serta memberikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalbar di tingkat nasional.
Selain itu, pihak sekolah turut menyampaikan apresiasi atas perhatian berbagai pihak yang ikut menyoroti persoalan tersebut. Mereka juga meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi dan mengajak semua pihak menyelesaikan persoalan dengan semangat kebersamaan serta saling menghargai.
SMAN 1 Sambas juga tolak final ulang, bantah tuduhan curang
Sehari setelahnya, SMAN 1 Sambas juga menyampaikan sikap resmi melalui pernyataan tertulis yang diunggah di media sosial sekolah, Jumat (15/5/2026).
Dalam pernyataan tersebut, sekolah menegaskan menolak pelaksanaan pertandingan final ulang, dan membantah berbagai tuduhan kecurangan yang diarahkan kepada mereka.
Pernyataan itu disebut sebagai hasil komitmen bersama dewan guru, staf tata usaha, peserta lomba, dan orang tua siswa untuk menjaga marwah pendidikan serta kesehatan mental peserta didik.
"SMAN 1 Sambas menolak pertandingan final ulang tingkat Provinsi Kalimantan Barat," demikian salah satu poin pernyataan sikap sekolah.
Baca juga: SMAN 1 Sambas Tolak Final Ulang LCC Empat Pilar MPR, Tepis Tuduhan Curang
Pihak sekolah menegaskan tetap menghormati seluruh keputusan resmi yang telah ditetapkan dalam mekanisme penyelenggaraan lomba.
Mereka juga meyakini tim LCC SMAN 1 Sambas telah mengikuti kompetisi sesuai tata tertib yang ditetapkan panitia dan disepakati seluruh peserta.
Namun, sekolah menyayangkan sikap penyelenggara yang dinilai belum maksimal dalam meluruskan informasi yang berkembang di publik. Akibatnya, SMAN 1 Sambas merasa terus berada dalam posisi terpojok di tengah opini publik.
Sekolah juga mengecam berbagai opini dan tuduhan di media sosial yang dinilai menyerang sekolah, guru, staf tata usaha, siswa, hingga alumni.
Menurut pihak sekolah, situasi tersebut telah mencemarkan nama baik sekolah dan menimbulkan tekanan psikologis terhadap pihak-pihak yang terdampak.
"Membantah keras tuduhan kecurangan, penyuapan, tindak nepotisme, dan prasangka setting kemenangan yang dituduhkan kepada SMAN 1 Sambas," tulis pihak sekolah.
Selain menolak final ulang, SMAN 1 Sambas juga mendesak penyelenggara memulihkan nama baik sekolah serta memberikan jaminan keamanan terhadap kondisi psikis siswa sebelum mewakili Kalbar di tingkat nasional.
Pihak sekolah berharap semua pihak dapat menahan diri dan mengedepankan penyelesaian yang objektif, bijaksana, dan berkeadilan agar polemik tidak semakin meluas.
Berawal dari jawaban benar yang disalahkan juri
Kontroversi LCC Empat Pilar tingkat Kalbar bermula saat babak final digelar di Pontianak pada Sabtu (9/5/2026). Saat itu, tiga sekolah yang lolos ke babak final adalah SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Persoalan muncul ketika sesi rebutan jawaban menghadirkan pertanyaan mengenai lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR dalam memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi peserta pertama yang menjawab.
"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," ujar seorang siswi Regu C.
Namun, dewan juri justru mengurangi nilai Regu C sebesar lima poin. Pertanyaan kemudian dilempar ke regu lain dan dijawab oleh Regu B dari SMAN 1 Sambas dengan jawaban yang dinilai sama.
"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," jawab peserta Regu B.
Juri kemudian menyatakan jawaban Regu B benar.
"Inti jawaban sudah benar. Nilai sepuluh," kata juri.
Baca juga: Akhir Polemik Lomba Cerdas Cermat MPR: Final Diulang, Juri Terancam Sanksi
Keputusan itu langsung diprotes Regu C dari SMAN 1 Pontianak karena merasa memberikan jawaban yang sama.
"Izin, kami tadi menjawabnya sama seperti Regu B," kata peserta Regu C.
Juri kemudian menjelaskan bahwa Regu C dianggap tidak menyebut unsur "pertimbangan DPD". Namun, Regu C membantah penjelasan itu dan meminta audiens memberikan kesaksian.
Meski protes berlangsung, hasil akhir perlombaan tidak berubah.
MPR akui ada kekhilafan
Polemik yang viral di media sosial akhirnya mendorong pimpinan MPR RI mengambil langkah evaluasi. Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengumumkan bahwa final LCC Empat Pilar tingkat Kalbar akan diulang.
"Lomba Cerdas Cermat di tingkat Kalimantan Barat yang final akan kita lakukan ulang pada waktu yang akan segera diputuskan secepatnya," kata Muzani dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Muzani mengakui terdapat kekurangan dan kekhilafan dalam penyelenggaraan lomba, khususnya pada babak final.
"Dalam kasus Kalimantan Barat, kami mengucapkan terima kasih atas segala masukan dan kami semuanya memahami ada kekurangan, ada keterbatasan, ada kekhilafan dalam penyelenggaraan itu," ujar dia.
Petinggi Partai Gerindra itu memastikan pimpinan MPR akan mengawasi langsung pelaksanaan lomba apabila digelar kembali.
"Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat akan mengawasi langsung jalannya lomba tersebut dari awal sampai akhir," kata Muzani.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengaku belum mengetahui gugatan yang diajukan advokat David Tobing terkait polemik penilaian dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Muzani juga mengapresiasi peserta yang menyampaikan protes karena dinilai menjadi bagian dari praktik demokrasi.
"Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada peserta lomba yang menggunakan haknya untuk menyampaikan pandangan, kebebasan berbicara, dan menyampaikan protes atas ketidakpuasannya, dan kami mendengar itu sebagai sebuah cara untuk melatih mereka menjadi contoh demokrasi yang baik," ungkap dia.
MPR, lanjut Muzani, akan terus mengevaluasi pelaksanaan LCC Empat Pilar agar kejadian serupa tidak terulang.
Tegaskan tak ada kecurangan
Di tengah tudingan yang berkembang di masyarakat lewat media sosial, Abraham Liyanto menegaskan bahwa tidak ada kecurangan dalam final LCC Empat Pilar tingkat Kalbar.
"Saya kira tidak ada tuduhan curang dari dan bagi pihak manapun. Yang terjadi hanya kesalahpahaman, dan mereka ingin meluruskan dan memastikan itu lewat protes tadi," ujar Abraham.
Menurut dia, akar persoalan justru muncul karena juri dan pembawa acara tidak memberikan ruang yang cukup untuk mencari kejelasan saat protes disampaikan oleh SMAN 1 Pontianak.
"Sayangnya juri dan pembawa acara tidak memberikan ruang dan waktu yang banyak untuk mencari kebenaran tersebut. Tapi lebih menekankan pada hak dan kewenangan dewan juri dalam menentukan nilainya," tutur Abraham.
"Inilah akar permasalahan sehingga terjadi polemik yang panjang dan viral, dan sebenarnya tidak sesuai dengan tujuan sosialisasi 4 Pilar tersebut," pungkas dia.
Tag: #ujung #polemik #cerdas #cermat #kalbar #final #ulang #ditolak #sekolah