Penelitian CENAGO ITB Simpulkan Cuaca Ekstrem Penyebab Utama Banjir Sumatera 2025, Ini Datanya
– Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) Institut Teknologi Bandung (ITB) menyimpulkan bahwa banjir Sumatera pada akhir 2025 dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sangat ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar. Kondisi ini menyebabkan, sistem pengendalian banjir yang ada tidak mampu menahan skala tersebut.
Kesimpulan ini didapat berdasarkan kajian forensik berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai (DAS Badiri, Garoga, dan Batang Toru), perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi-hidrolika.
Sementara terkait faktor perubahan tutupan lahan oleh sejumlah korporasi seperti PT NSHE, PT AGR, dan PT TBS yang dianalisis hasilnya relatif kecil. Cuaca ekstrem lebih dominan dibanding faktor di atas.
Koordinator Tim Riset CENAGO ITB, Heri Andreas mengatakan, perubahan tutupan lahan menunjukkan porsi alih fungsi lahan tiga korporasi terhadap luas DAS relatif kecil. PT AR sekitar 1,6 persen, PT TBS 0,4 persen, dan PT NSHE 0,02 persen.
“Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak (strict liability) terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas,” kata Heri, Sabtu (21/2).
Dalam riset ini, CENAGO ITB menggunakan digitasi citra satelit untuk mengklasifikasikan tutupan lahan. Peneliti juga menggabungkan data presipitasi BMKG dan NOAA Amerika Serikat, pendefinisian DAS dan sub-DAS, digital elevation model (DEM), serta data standar parameter hidrologi hidrolika.
Hasil analisa citra satelit resolusi tinggi mendapati data bahwa banjir dipicu oleh fenomena Siklon Tropis Senyar dengan anomali presipitasi yang sangat jarang terjadi. Curah hujan pada akhir November 2025 tercatat mencapai level ekstrem (150-300 milimeter per hari) hingga sangat ekstrem (lebih dari 300 milimeter per hari).
"Model probabilitas kami menunjukkan ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50," jelas Heri.
Tingginya intensitas hujan ini dianggap sudah melampaui kapasitas pengendalian banjir yang berlaku.
Akademisi ITB dari Kelompok Keahlian (KK) Geologi, Ahmad Imam Sadisun menambahkan, area longsor yang dipengaruhi hujan ekstrem masif terjadi di zona Toba Tuff dengan kemiringan sangat curam. Kondisi alam ini banyak terdapat di hulu DAS Garoga dan hutan lindung.
Dari sisi geomorfologi, area tambang PT AR yang jauh posisinya dengan Desa Garoga dan berbeda sub-DAS dipastikan tidak berkontribusi terhadap banjir di sekitar Desa Garoga. Secara prinsip aliran, air tidak mungkin mengalir dari elevasi lebih rendah menuju wilayah lebih tinggi. Adapun, PT TBS berada di luar DAS Garoga.
Dalam simulasi banjir model hidrologi dan hidrolika dengan berbagai skenario, menunjukkan PT AR tercatat hanya berkontribusi 0,32 persen terhadap banjir atau penambahan runoff (air hujan yang tidak meresap ke tanah) sebesar 0,71 persen. Adapun, PT NSHE tercatat hanya 0,05 persen dan 0,01 persen, serta PT TBS berkontribusi terhadap banjir 1,7 persen atau penambahan runoff sekitar 0,06 persen.
“Masih ada pekerjaan rumah sangat besar, yaitu penggunaan data dan informasi, seperti data geoscience, bagi penelaahan dan pengambilan keputusan berbagai masalah,” ujarnya.
Tag: #penelitian #cenago #simpulkan #cuaca #ekstrem #penyebab #utama #banjir #sumatera #2025 #datanya