Program MBG Bukan Beban Pendidikan, Pakar IPB: Gizi dan Sekolah Tak Bisa Dipisahkan
Ilustrasi menu makan MBG. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang).
11:32
24 Januari 2026

Program MBG Bukan Beban Pendidikan, Pakar IPB: Gizi dan Sekolah Tak Bisa Dipisahkan

 

–Perdebatan mengenai anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat di ruang publik. Sejumlah pihak menilai alokasi dana untuk program ini berpotensi menggerus anggaran pendidikan.

Namun, pandangan tersebut dinilai tidak sepenuhnya tepat. Sejumlah akademisi dan pengamat kebijakan justru menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak dan pendidikan formal merupakan dua aspek yang saling terkait dan tidak seharusnya dipertentangkan.

Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB University Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman MS menilai, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya dipahami sebagai bagian dari ekosistem pendidikan nasional. Peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak hanya ditentukan kurikulum dan tenaga pendidik, tetapi juga kondisi fisik dan kesehatan peserta didik.

”Program makan bergizi itu bukan beban pendidikan, justru bagian dari pendidikan itu sendiri. Anak yang sehat dan tercukupi gizinya akan lebih siap menerima pelajaran,” kata Prof. Ahmad dalam keterangannya.

Dia menekankan bahwa peran guru dan program gizi tidak bisa saling menggantikan, melainkan harus berjalan beriringan. Pendidikan karakter, akademik, dan pemenuhan kebutuhan dasar seperti nutrisi merupakan fondasi yang sama pentingnya dalam membentuk generasi muda.

Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW) Iskandar Sitorus. Dia mengkritik narasi yang membandingkan program pendidikan dengan MBG seolah-olah keduanya saling mengorbankan. Pendekatan tersebut keliru dan mengabaikan fakta mendasar tentang proses belajar anak.

”Sulit berharap anak bisa fokus belajar kalau kebutuhan gizinya tidak terpenuhi. Pendidikan dan nutrisi adalah hak konstitusional yang seharusnya dilihat sebagai satu kesatuan,” ujar Iskandar.

Dia menambahkan, berbagai riset kesehatan dan pendidikan menunjukkan bahwa kekurangan gizi berdampak langsung pada konsentrasi, daya serap materi, hingga perkembangan kognitif anak. Kondisi tersebut, kata dia, akan berpengaruh pada capaian pendidikan dalam jangka panjang.

”Kalau fondasi kesehatannya rapuh, hasil pendidikannya juga tidak akan optimal,” lanjut Iskandar.

Secara ilmiah, keterkaitan antara asupan gizi dan prestasi belajar telah banyak dibuktikan. Prof. Ahmad menjelaskan, anak yang memperoleh gizi seimbang secara rutin cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik, daya ingat yang lebih kuat, serta stabilitas emosi yang mendukung proses belajar.

”Studi internasional menunjukkan anak dengan asupan gizi memadai lebih mampu berkonsentrasi di kelas dan menunjukkan performa akademik yang konsisten,” ungkap Ahmad Sulaeman.

Praktik pemenuhan gizi siswa melalui program makan sekolah sebenarnya bukan hal baru di tingkat global. Sejumlah negara maju telah lama menjadikan program ini sebagai bagian dari kebijakan pendidikan dan kesehatan.

Di Amerika Serikat, misalnya, School Breakfast Program dan National School Lunch Program menjadi instrumen negara untuk memastikan siswa datang ke sekolah dalam kondisi siap belajar. Melalui kebijakan tersebut, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran akademik, tetapi juga sebagai ruang perlindungan sosial bagi anak-anak, khususnya dari keluarga berpenghasilan rendah.

Pendekatan ini dinilai efektif dalam meningkatkan kehadiran siswa, konsentrasi belajar, dan kesehatan jangka panjang. Selain berdampak pada kualitas pendidikan, Program Makan Bergizi Gratis juga dinilai memiliki potensi efek pengganda terhadap perekonomian.

Jika dirancang dengan tata kelola yang baik, program ini dapat melibatkan petani, peternak, UMKM pangan, hingga koperasi lokal dalam rantai pasok. Iskandar menilai keterlibatan pelaku usaha lokal dapat mendorong perputaran ekonomi di daerah serta memperkuat ketahanan pangan nasional.

”Ini bukan sekadar program sosial, tapi juga peluang untuk menggerakkan ekonomi rakyat,” terang Ahmad Sulaeman.

Pengalaman Amerika Serikat melalui program Women, Infants, and Children (WIC) menunjukkan bahwa intervensi gizi yang dikelola negara dapat berjalan seiring dengan penguatan sektor pertanian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis dinilai perlu diarahkan pada aspek efektivitas, transparansi, dan tata kelola anggaran, bukan pada dikotomi sempit antara gizi dan pendidikan. Para pakar sepakat, investasi pada pemenuhan gizi anak merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing bangsa.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah

Tag:  #program #bukan #beban #pendidikan #pakar #gizi #sekolah #bisa #dipisahkan

KOMENTAR