Partai Gerakan Rakyat: Peluang dan Tantangan
Ketua Umum Gerakan Rakyat Sahrin Hamid (ketujuh kiri) bersama Anggota Kehormatan Gerakan Rakyat Anies Baswedan (kedelapan kiri) berfoto bersama jajaran pengurus DPP yang baru dilantik pada Rakernas I 2026 Gerakan Rakyat di Jakarta, Sabtu (17/1/2026). Rakernas tersebut diisi dengan pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Rakyat periode 2025-2030 sekaligus penyampaian orasi kebangsaan dari Anies Baswedan dengan tema Keadilan Ekologis: Kembalikan Hutan Indonesia.
10:54
21 Januari 2026

Partai Gerakan Rakyat: Peluang dan Tantangan

KEMUNCULAN Partai Gerakan Rakyat sebagai partai baru dalam sistem demokrasi di Indonesia menghadirkan dinamika politik yang menarik untuk dicermati.

Partai ini dideklarasikan di Jakarta, dalam rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Gerakan Rakyat menjadi bagian transformasi dari organisasi kemasyarakatan (ormas) menjadi partai politik.

Dalam menghadapi kontestasi demokrasi ke depan, Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat Sahirin Hamid, berharap kebesaran figur Anies Baswedan sebagai magnet elektoral dalam menarik perilaku pemilih pada pemilihan umum.

Kehadiran figur Anies Baswedan tidak hanya berfungsi sebagai magnet elektoral semata. Anies juga menjadi pembentuk identitas Partai Gerakan Rakyat di tengah persaingan dengan partai politik yang sudah mapan di Tanah Air.

Anies Baswedan merupakan capres dalam Pilpres 2024 dengan perolehan suara sebesar 24,9 persen, peringkat kedua setelah pasangan Proibowo Subianto dan Gibran Rakabuming. Ini menjadi modal politik yang kuat untuk menuju kontestasi Pilpres 2029.

Dalam demokrasi elektoral, orientasi figur dalam penentuan keputusan politik pemilih menjadi faktor penting.

Figur kuat, kharismatik, popular dan memiliki elektabilitas tinggi menjadi penentu dalam kompetisi sistem demokrasi.

Apalagi Anies Baswedan seorang aktor komunikasi politik yang memiliki kekuatan retorika politik yang piawai dalam membangun impresi kepada publik.

Dalam konsep retorika politik, Anies memiliki modal politik yang kuat untuk membangun logos, pathos dan ethos untuk meyakinkan pemilih.

Ketiga konsep retorika politik tersebut, Anies tidak hanya efektif sebagai figur politik, tetapi juga sebagai figur yang mempu memperkuat legitimasi dan daya tarik elektoral dalam pemilihan umum.

Oleh karena itu, rekam jejak, kepemimpinan, pengalaman politik dan birokrasi menjadi modal politik seorang figur untuk membesarkan partai baru di mata publik.

Namun demikian, selain mengandalkan ketergantungan dan kekuatan figur Anies Baswedan, partai baru ini diharapkan segera memperkuat kelembagaan partai, melakukan proses kaderisasi dan platform ideologi partai, dan tidak semata-mata tergantung pada personalisasi tokoh besar.

Basis dukungan dan tantangan 

Tantangan utama Partai Gerakan Rakyat, yakni pada basis dukungan partai. Basis dukungan partai menjadi kebutuhan fundamental untuk partai politik baru karena akan menjadi penentu daya saing dalam kontestasi pemilu.

Tanpa basis dukungan yang jelas, partai hanya menjadi pelengkap dalam meramaikan rutinitas pemilu, tidak pernah memiliki kontribusi signifikan karena tidak pernah menang dalam kontestasi.

Oleh karena itu, ada beberapa tantangan yang dihadapi Partai Gerakan Rakyat.

Pertama, basis sosial. Sebagai partai baru, Partai Gerakan Rakyat belum cukup kuat memiliki ikatan psikologis dan emosional terhadap kelompok sosial di masyarakat sebagaimana yang dimiliki partai-partai lama.

Mereka perlu bekerja jauh lebih keras dalam pendekatan terhadap kelompok-kelompok sosial yang menjadi target konstituennya.

Dalam strategi komunikasi politik, Partai Gerakan Rakyat perlu menyusun program kerja yang dibutuhkan publik. Perlu kehadiran nyata di tengah masyarakat agar partai tidak hanya dikenal membangun pencitraaan saja, tetapi juga berkontribusi di tengah masyarakat secara nyata.

Kedua, basis ideologi. Basis ideologi menjadi penentu eksistensi partai, karena menjadi identitas utama dalam membedakan (deferensiasi) dengan partai politik lain, juga sekaligus menjadi garis perjuangan partai politik.

Ideologi tidak hanya sekadar membangun nilai-nilai partai, tetapi juga memperkokoh loyalitas pemilih dan kader partai.

Oleh karena itu, tanpa basis ideologi partai yang jelas, maka partai akan terjebak dalam pragmatisme dan tidak memiliki pedoman dalam memperjuangkan nilai-nilai organisasi.

Oleh karena itu, penguatan ideologi menjadi penting dalam membangun sikap, loyalitas dan keberlanjutan dalam sistem demokrasi.

Ketiga, basis material. Kekuatan material atau finansial partai politik juga berperan strategis karena beririsan dalam bagaimana partai menjalankan fungsi organisasi, proses kaderisasi dan aktivitas elektoral dalam kontestasi pemilu.

Ketersediaan basis material ini juga menjadi indikator penting dalam melihat sejauh mana partai bisa menjalankan kampanye, publisitas politik, sosialisasi, pendidikan politik dan membangun jejaring di berbagai daerah pemilihan.

Tanpa basis materi yang kuat, partai baru akan kesulitan menggerakkan roda organisasi. Basis material menjadi syarat penting dalam menjalankan operasi partai politik secara efektif, mandiri dan berkelanjutan.

Keempat, infrastruktur dan sebaran kader. Insfrasturktur dan sebaran kader merupakan fondasi utama bagi Partai Gerakan rakyat dalam membangun kekuatan politik yang berkelanjutan.

Insfrastruktur yang kuat mulai dari kepengurusan pusat hingga daerah akan menjadi indikator strategis dalam menjalin koordinasi, komunikasi dan mobilisasi partai politik secara efektif.

Sementara itu, sebaran kader yang merata, dari Sabang hingga Merauke menjadi penentu partai politik dalam memastikan kehadirannya hingga di akar rumput.

Tanpa itu semua, partai politik akan mengalami kesulitan dalam mengonsolidasi dan bersaing dengan partai-partai lama yang sudah mapan.

Oleh karena itu, tanpa keempat basis partai tersebut, maka Partai Gerakan Rakyat hanya menjadi aktor politik jangka penddek yang sulit bersaing dengan partai lain.

Presidential threshold dan peluang elektoral

Penghapusan ambang batas presiden (presidential Threshold) menjadi faktor penting dan strategis khususnya bagi partai politik baru.

Penghapusan ambang batas ini sudah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi pada 2 Januari 2025, melalui putusan No 62/PUU-XXII 2024.

Sebelumnya, syarat mengusung capres dan cawapres harus memiliki 20 persen kursi DPR RI atau meraih 25 persen suara sah di tingkat nasional.

Putusan MK sangat menguntungkan partai politik kecil, mengengah dan partai baru dalam kontestasi pemilihan presiden pada pemilu 2029.

Bagi Partai Gerakan Rakyat, putusan ini mendukung strategi partai mengusung Anies Baswedan nanti dalam Pilpres 2029, dan tidak memiliki ketergantungan struktural terhadap koalisi partai-partai besar.

Selama ini, partai kecil dan menengah hanya menjadi ekor dan pelengkap bagi partai besar dalam sistem kontestasi demokrasi elektoral.

Namun, peluang ini juga harus dilengkapi dengan kesiapan logistik, proses kaderisasi yang kuat, dan kekuatan membangun narasi komunikasi politik yang baik.

Tidak semua kandidat mendapatkan apresiasi elektoral dari pemilih, sehingga diperlukan deferensiasi untuk meningkatkan daya saing dalam pemilihan presiden.

Tag:  #partai #gerakan #rakyat #peluang #tantangan

KOMENTAR