Sering Makan Larut Malam saat Stres? Penelitian Ungkap Dampaknya pada Usus
Ilustrasi ngemil. Penelitian terbaru menemukan bahwa makan larut malam saat sedang stres berkaitan dengan risiko lebih tinggi mengalami gangguan pencernaan, termasuk sembelit dan diare.(FREEPIK)
19:05
11 Juni 2026

Sering Makan Larut Malam saat Stres? Penelitian Ungkap Dampaknya pada Usus

Kebiasaan makan larut malam saat sedang stres ternyata bisa berdampak pada kesehatan pencernaan. Penelitian terbaru menemukan bahwa kombinasi keduanya berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan buang air besar, seperti sembelit dan diare.

Melansir CNN (8/6/2026), hal ini sejalan dengan riset yang dipresentasikan dalam ajang Digestive Disease Week pada Mei 2026.

Meski penelitian tersebut masih berupa data awal dan belum ditinjau sejawat (peer-reviewed), hasilnya menunjukkan adanya hubungan yang menarik antara waktu makan, tingkat stres, dan kesehatan usus.

Peneliti menemukan bahwa orang yang mengonsumsi lebih dari 25 persen total kalori harian setelah pukul 21.00, sekaligus mengalami stres tinggi, memiliki risiko hingga 2,5 kali lebih besar mengalami pola buang air besar yang tidak normal dibandingkan kelompok lainnya.

Baca juga: 8 Hal yang Diam-diam Memicu Stres, Termasuk Gangguan Suara Bising

Bukan makan malam saja, tetapi kombinasi dengan stres

Penulis utama penelitian, Dr. Harika Dadigiri, mengatakan bahwa sebagian besar penelitian sebelumnya lebih banyak menyoroti dampak makan larut malam terhadap tidur, diabetes, obesitas, atau penyakit asam lambung.

Karena itu, ia tertarik meneliti hubungan kebiasaan makan malam dengan kesehatan usus.

"Saya sendiri termasuk orang yang sering makan larut malam, dan saya tidak menemukan banyak penelitian tentang topik ini," kata Dadigiri.

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti menganalisis data kesehatan lebih dari 11.000 peserta dari National Health and Nutrition Examination Survey milik Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, serta lebih dari 4.100 peserta dari American Gut Project.

Menariknya, makan larut malam saja tidak ditemukan berhubungan langsung dengan gangguan fungsi usus. Dadigiri mengatakan bahwa faktor yang tampaknya berperan adalah kombinasi antara makan malam larut dan stres kronis.

Baca juga: Hindari Stres Finansial Saat Tahun Ajaran Baru dengan Sinking Fund

Keragaman bakteri usus juga lebih rendah

Ilustrasi sakit perut. Penelitian terbaru menemukan bahwa makan larut malam saat sedang stres berkaitan dengan risiko lebih tinggi mengalami gangguan pencernaan, termasuk sembelit dan diare.FREEPIK Ilustrasi sakit perut. Penelitian terbaru menemukan bahwa makan larut malam saat sedang stres berkaitan dengan risiko lebih tinggi mengalami gangguan pencernaan, termasuk sembelit dan diare.

Analisis terhadap peserta American Gut Project menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan makan malam larut dan tingkat stres tinggi juga cenderung memiliki keragaman bakteri usus yang lebih rendah.

Menurut Dr. Geoffrey Preidis, Associate Professor of Pediatrics di Baylor College of Medicine dan Texas Children's Hospital yang tidak terlibat dalam penelitian ini, keragaman mikrobioma usus penting untuk menjaga kesehatan tubuh.

"Mikrobiota usus adalah kumpulan seluruh organisme, termasuk bakteri, virus, dan jamur yang hidup di dalam usus," jelas Preidis.

Ia menambahkan bahwa mikrobioma yang beragam cenderung lebih mudah pulih dari berbagai gangguan, seperti penyakit, penggunaan obat, maupun stres.

Selain membantu penyerapan nutrisi, mikroorganisme usus juga berperan dalam mengatur sistem kekebalan tubuh serta berkomunikasi dengan otak yang memengaruhi kualitas tidur dan suasana hati.

Meski demikian, Preidis mengingatkan bahwa penelitian ini belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat antara perubahan mikrobioma dan gangguan pencernaan.

Baca juga: Bukan Hanya Mental, Studi Ungkap Stres Kronis Bisa Pengaruhi Fisik

Mengapa makan malam larut bisa berpengaruh?

Menurut para ahli, tubuh dan mikrobioma usus memiliki ritme sirkadian alami yang mengatur berbagai fungsi biologis sepanjang hari.

Perubahan waktu makan berpotensi mengganggu ritme tersebut.

"Baik tubuh maupun mikrobioma usus memiliki ritme sirkadian alami yang dapat terganggu oleh perubahan pola makan atau waktu makan," kata Preidis.

Gangguan tersebut diduga dapat memengaruhi hormon, sistem kekebalan tubuh, komunikasi antara usus dan otak, serta pergerakan makanan di sepanjang saluran cerna.

Kapan waktu terbaik berhenti makan sebelum tidur?

Meski penelitian ini masih memerlukan kajian lanjutan, para ahli tetap menyarankan untuk memberi jeda antara waktu makan dan waktu tidur.

Direktur Gastrointestinal Motility Laboratory di Massachusetts General Hospital sekaligus Associate Professor di Harvard Medical School, Dr. Kyle Staller, mengatakan bahwa idealnya seseorang tidak makan dalam tiga hingga empat jam sebelum tidur.

Dengan demikian, tubuh memiliki cukup waktu untuk mengosongkan lambung sebelum memasuki fase istirahat.

Jika harus makan pada malam hari, Staller dan Preidis menyarankan memilih porsi kecil dan menghindari makanan berat, berminyak, atau tinggi lemak.

Sebagai gantinya, buah-buahan, sayuran, karbohidrat kompleks, dan sumber protein tertentu dinilai lebih mudah dicerna sebelum waktu tidur.

Baca juga: Pengalaman Ikut Event Nyanyi Bareng di Yogyakarta, Jadi Momen Pelepas Stres

Tag:  #sering #makan #larut #malam #saat #stres #penelitian #ungkap #dampaknya #pada #usus

KOMENTAR