Anak Perempuan Kini Terobsesi Skincare, Ahli Peringatkan Fenomena ''Cosmeticorexia''
Rutinitas skincare yang dulu identik dengan orang dewasa kini semakin banyak dilakukan anak-anak.
Bahkan, sebagian anak perempuan menggunakan beragam produk perawatan kulit dan kosmetik setiap hari demi mendapatkan kulit yang dianggap sempurna.
Fenomena ini menjadi perhatian para ahli dan dermatolog karena dinilai dapat memicu obsesi terhadap penampilan sejak usia dini.
Dalam laporan BBC (6/6/2026), kondisi tersebut bahkan mulai dikenal dengan istilah cosmeticorexia, yaitu obsesi tidak sehat untuk mendapatkan kulit "sempurna" melalui penggunaan produk kosmetik secara berlebihan sejak usia muda.
Baca juga: Anak SD FOMO Parfum Viral, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?
Apa itu cosmeticorexia?
Istilah cosmeticorexia diperkenalkan oleh dermatolog dan akademisi yang mengamati meningkatnya penggunaan skincare pada anak-anak dan remaja.
Profesor Giovanni Damiani, dermatolog dari University of Milan, Italia, mengatakan ia mulai meneliti fenomena ini setelah melihat sejumlah pasien muda menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan terkait skincare.
Dalam penelitiannya terhadap 55 pasien berusia 8 hingga 14 tahun, anak-anak yang menunjukkan tanda cosmeticorexia diketahui menghabiskan banyak waktu menonton konten skincare di media sosial.
Mereka juga menggunakan hingga 10 produk perawatan kulit setiap hari dan merasa tidak percaya diri untuk bersosialisasi tanpa memakai kosmetik.
Menurut Damiani, media sosial menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya perilaku tersebut.
Baca juga: Mengapa Anak SD Mudah FOMO Barang Viral? Ini Penjelasan Psikolog
Mengapa skincare begitu populer di kalangan anak?
Ilustrasi anak. Semakin banyak anak perempuan menggunakan skincare berlapis-lapis setiap hari, tetapi para ahli memperingatkan risiko fenomena yang disebut cosmeticorexia.
Konten bertema skincare kini banyak beredar di media sosial, mulai dari video get ready with me hingga ulasan produk kecantikan oleh influencer anak.
Survei yang dilakukan merek skincare Pai terhadap 1.500 anak usia 9 hingga 12 tahun menemukan hampir setengah responden menggunakan beberapa produk skincare setiap minggu.
Dari jumlah tersebut, sekitar setengahnya mengaku menggunakan produk tersebut untuk mengatasi masalah kulit yang mereka rasakan.
Peneliti media sosial dari Cornell University, Brooke Erin Duffy, menilai tren ini menunjukkan perubahan besar dalam cara industri kecantikan memengaruhi anak perempuan.
"Perempuan usia 30-an dan 40-an sudah lama menjadi sasaran perusahaan skincare yang menjual gagasan bahwa penuaaan adalah masalah yang harus diperbaiki," kata Duffy.
"Namun sekarang tekanan yang sama mulai diberikan kepada anak perempuan," lanjutnya.
Baca juga: Dokter Kulit Sebut 5 Produk Skincare Ini Cuma Buang Uang, Masih Banyak yang Pakai
Apa risiko penggunaan skincare berlebihan pada anak?
Dermatolog konsultan Dr. Jean Ayer mengatakan kulit anak sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat baik secara alami.
"Ironisnya, mereka sebenarnya sudah memiliki kulit yang sempurna. Saat masih kecil, kondisi kulit berada dalam keadaan terbaiknya," ujar dr. Ayer.
Menurut dia, banyak produk yang populer saat ini dibuat untuk pasar anti-penuaan sehingga tidak dibutuhkan oleh anak-anak.
"Pada kondisi terbaik, mereka memang tidak memerlukan produk tersebut. Pada kondisi terburuk, kandungannya justru bisa merusak kulit anak yang masih sensitif," kata dr. Ayer.
Ia mengaku semakin sering menemukan anak-anak dengan jerawat, dermatitis kontak, hingga iritasi akibat penggunaan berbagai produk skincare.
Salah satu bahan yang menjadi perhatian adalah retinol, zat aktif yang umum digunakan untuk mengurangi kerutan dan mempercepat pergantian sel kulit.
Pada anak-anak, proses tersebut sebenarnya sudah berlangsung secara alami sehingga retinol tidak memberikan manfaat berarti.
Sebaliknya, penggunaan retinol dapat memicu retinol burn, yaitu kondisi ketika lapisan pelindung kulit mengalami kerusakan dan menyebabkan kemerahan, ruam, hingga sensitivitas jangka panjang.
Baca juga: Kulit Sehat Tidak Cukup dengan Skincare, Nutrisi Jadi Kunci Utama
Dampaknya tidak hanya pada kulit
Selain risiko fisik, para ahli juga menyoroti dampak psikologis dari fenomena cosmeticorexia.
Psikolog Italia Alberto Stefana mengatakan banyak anak mulai membangun harga diri berdasarkan jumlah likes atau komentar yang mereka terima di media sosial.
"Anak-anak yang terobsesi dengan skincare cenderung dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di media sosial," kata Stefana.
Menurut dia, sebagian anak bahkan mengalami rasa malu dan kecemasan karena terus membandingkan diri dengan orang lain di dunia digital.
Stefana menambahkan bahwa sejumlah temuan awal menunjukkan adanya keterkaitan antara cosmeticorexia dan body dysmorphic disorder (BDD), yaitu gangguan kesehatan mental yang membuat seseorang terus-menerus merasa tidak puas terhadap penampilannya.
Karena itu, para ahli menilai penggunaan skincare pada anak perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan kulit, serta tidak didorong oleh standar kecantikan yang muncul di media sosial.
Baca juga: Tren Remaja Pakai Skincare Anti-aging, Perlukah?
Tag: #anak #perempuan #kini #terobsesi #skincare #ahli #peringatkan #fenomena #cosmeticorexia