Penelitian Ungkap Hal yang Paling Diingat dari Orang Setelah Meninggal
Banyak orang ternyata lebih ingin dikenang lewat nilai hidup, cerita, dan cara mereka memperlakukan orang lain dibanding harta atau pencapaian besar.
Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa memikirkan legacy atau warisan hidup sejak dini bisa membantu seseorang menemukan makna hidup dan menjaga kesehatan mental.
Melansir BBC (22/5/2026), sejumlah peneliti menyebut warisan hidup bukan hanya soal harta, nama besar, atau karya monumental.
Hal-hal kecil seperti nilai hidup, cerita keluarga, hingga cara seseorang memperlakukan orang lain ternyata lebih sering dikenang setelah seseorang meninggal dunia.
Baca juga: 6 Kebiasaan Orang Finlandia, Negara Paling Bahagia di Dunia
Legacy tidak selalu tentang kekayaan
Profesor Bowling Green State University di Ohio, Amerika Serikat, Beth Hunter, mengatakan banyak orang sebenarnya meninggalkan warisan tanpa sadar.
“Semua orang meninggalkan legacy, entah mereka menyadarinya atau tidak,” ujar Hunter, yang meneliti konsep legacy dalam konteks penyintas kanker.
Hunter menceritakan pengalamannya bersama sang ayah yang didiagnosis Alzheimer. Alih-alih membicarakan kematian atau hubungan keluarga secara mendalam, ayahnya memilih menulis pengalaman perang yang pernah ia alami. Menurut Hunter, itulah bentuk warisan yang dianggap paling penting oleh ayahnya.
Peneliti kemudian membagi legacy ke dalam beberapa bentuk, mulai dari warisan biologis, warisan materi, hingga warisan nilai hidup seperti budaya, keyakinan, dan cara berpikir.
Baca juga: Bahagia Tak Selalu soal Uang, Hidup Sederhana Justru Lebih Memuaskan
Nilai hidup justru paling ingin ditinggalkan
Ilustrasi lansia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa nilai hidup dan cara seseorang memperlakukan orang lain justru lebih dikenang dibanding harta atau pencapaian besar setelah meninggal.
Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan kebanyakan orang lebih ingin dikenang lewat nilai dan pengalaman hidup dibanding kekayaan.
Dalam salah satu studi terhadap perempuan dari berbagai usia dan kondisi kesehatan, banyak peserta mengaku ingin mewariskan pengalaman, prinsip hidup, hingga pelajaran moral kepada generasi berikutnya.
Cara mereka melakukannya pun beragam, mulai dari menulis autobiografi, merekam cerita keluarga, hingga meninggalkan surat dan jurnal pribadi.
“Legacy of values” atau warisan nilai disebut memberi dampak emosional yang kuat, baik bagi orang yang meninggalkan maupun keluarga yang menerimanya.
Beberapa lansia yang membuat dokumen tentang nilai hidup mereka bahkan mengaku lebih damai, lebih menerima masa lalu, dan merasa hidup mereka memiliki arti.
Baca juga: Pakar Ungkap Cara Sederhana agar Hidup Lebih Bahagia, Bukan soal Uang
Memikirkan legacy bisa bantu kesehatan mental
Konsep legacy ternyata juga berkaitan erat dengan kesehatan mental. Penelitian menunjukkan aktivitas yang membantu seseorang merefleksikan hidupnya dapat mengurangi kecemasan dan depresi, terutama pada pasien yang menghadapi penyakit berat atau perawatan akhir hayat.
Di sejumlah rumah sakit dan hospice, pasien bahkan difasilitasi membuat “legacy activities”, seperti scrapbook, surat untuk keluarga, proyek seni, hingga ethical will atau dokumen non-hukum yang berisi pesan hidup dan nasihat untuk orang tercinta.
Aktivitas semacam itu membantu pasien merasa hidupnya tetap bermakna meski menghadapi kematian.
Profesor manajemen dan organisasi dari Duke University, Kimberly Wade-Benzoni, mengatakan dorongan meninggalkan legacy sering muncul dari kesadaran bahwa hidup manusia terbatas.
“Kematian benar-benar berada di inti psikologi legacy,” kata Wade-Benzoni.
Ia menjelaskan bahwa memikirkan legacy dapat membantu seseorang berpindah dari rasa takut akan kematian menjadi refleksi hidup yang lebih sehat.
Baca juga: Terapis Ungkap 7 Ciri Orangtua yang Tidak Dewasa Secara Emosional
Mengapa orang ingin dikenang?
Psikolog dari University of Otago, Selandia Baru, Jesse Bering, menyebut manusia pada dasarnya ingin hidupnya terasa memiliki cerita dan makna.
“Kita melihat diri kita sebagai karakter utama dalam sebuah perjalanan hidup,” ujar Bering.
Menurutnya, manusia juga memiliki kebutuhan kuat untuk dicintai dan diterima, bahkan setelah meninggal dunia. Karena itu, banyak orang berharap tetap dikenang secara positif.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa seseorang sebenarnya tidak bisa sepenuhnya mengendalikan bagaimana dirinya akan dikenang.
Namun, Wade-Benzoni mengatakan memikirkan legacy sejak muda tetap memberi manfaat besar karena dapat membantu seseorang mengambil keputusan hidup yang lebih bermakna.
Penelitian yang ia lakukan menemukan orang yang memikirkan legacy cenderung lebih peduli pada lingkungan, lebih dermawan, dan lebih ingin memberi dampak positif bagi generasi berikutnya.
Baca juga: Filipina Jadi Negara Nomor 2 dengan Pekerja Paling Bahagia di Asia Pasifik
Tag: #penelitian #ungkap #yang #paling #diingat #dari #orang #setelah #meninggal