Rupiah Melemah ke Rp 17.796 per Dolar AS, Risiko PHK Industri Meningkat
Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup tertekan pada perdagangan Selasa (26/5/2026).
Rupiah terdepresiasi 53 poin atau 0,29 persen ke level Rp 17.796 per dolar Amerika Serikat (AS).
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar global.
Tekanan itu muncul saat kondisi ekonomi domestik belum stabil akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Baca juga: Rupiah Tertekan, Kurs Dollar AS di Bank Besar Nyaris Rp 17.900
Laporan pada Senin malam (25/5/2026) menyebut AS melancarkan serangan baru terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di wilayah selatan Iran.
Militer AS mengklaim serangan tersebut dilakukan untuk kepentingan membela diri.
AS juga menegaskan gencatan senjata dengan Iran masih berlaku.
Meski begitu, tanggapan Teheran terhadap aksi militer terbaru tersebut belum terlihat jelas.
Situasi ini dinilai berpotensi mempersulit proses negosiasi perdamaian antara AS dan Iran.
Baca juga: Nilai Tukar Rupiah ke Dollar AS Selasa (26/5) di Bank Mandiri, BCA, dan BNI
Sebelumnya, Teheran beberapa kali memperingatkan Washington agar tidak kembali melancarkan serangan tambahan.
Aksi militer terbaru itu juga menahan sentimen positif dari laporan sebelumnya.
Laporan tersebut menyebut AS dan Iran telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Harga minyak dunia sempat turun tajam pada Senin setelah muncul laporan peluang perdamaian tersebut.
Meski begitu, ketidakjelasan kondisi di lapangan membuat penurunan harga minyak mentah menjadi terbatas.
Presiden AS Donald Trump pada Senin juga mengisyaratkan perkembangan dalam proses negosiasi dengan Iran.
Trump mengeklaim Iran bersedia menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya.
Iran sebagian besar membantah rencana pelepasan cadangan uranium tersebut.
Meski begitu, sejumlah laporan menyebut Teheran masih membuka ruang negosiasi lebih lanjut terkait aktivitas nuklirnya.
Ibrahim menilai tekanan eksternal mulai berdampak terhadap ekonomi domestik Indonesia.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang belum menunjukkan kepastian pemulihan dinilai mulai memunculkan krisis kepercayaan.
Kondisi tersebut berpotensi berujung pada perlambatan ekonomi.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap peningkatan biaya produksi perusahaan.
Tekanan paling besar dirasakan industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor.
Akibatnya, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) dinilai semakin meningkat.
Lonjakan PHK disebut mulai terlihat dalam satu bulan terakhir.
Sejumlah perusahaan mulai melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional usaha.
Tekanan terhadap sektor industri tidak hanya dipicu pelemahan rupiah.
Konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri nonsubsidi.
Kenaikan biaya energi tersebut semakin membebani ongkos produksi perusahaan.
“Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, namun konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak industri nonsubsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan,” ujar Ibrahim, Selasa.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah penutupan operasional pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat.
Penutupan tersebut menyebabkan sekitar 350 pekerja terkena PHK.
Kondisi itu disebut dipengaruhi tekanan biaya impor dan melemahnya pasar ekspor.
Tekanan juga mulai dirasakan industri otomotif.
Kenaikan harga kendaraan akibat mahalnya komponen impor dinilai mulai menekan permintaan pasar.
Perusahaan otomotif CV Asri di Sidoarjo, Jawa Timur, disebut telah melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja akibat penurunan penjualan kendaraan.
Tekanan serupa juga mulai dirasakan industri tekstil, garmen, hingga alas kaki.
Industri tersebut menghadapi kenaikan biaya produksi saat daya beli masyarakat melemah.
Ibrahim memperkirakan potensi PHK di sektor formal industri dapat mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan.
Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja terdampak PHK mencapai 15.425 orang sepanjang Januari hingga April 2026.
Jumlah tersebut masih berpotensi meningkat apabila tekanan global dan pelemahan ekonomi domestik terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Tag: #rupiah #melemah #17796 #dolar #risiko #industri #meningkat