Kenali Gejala Hipotermia pada Balita Saat di Gunung
- Kejadian pilu menimpa seorang balita berusia 1,5 tahun di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, Sabtu (11/4/2026).
Dalam video yang beredar luas di media sosial, ia tampak lemas dan diduga mengalami hipotermia berat akibat paparan udara dingin di jalur pendakian.
Paparan dingin di ketinggian bukan sekadar menyebabkan tubuh menggigil, melainkan ancaman kegagalan fungsi organ jika suhu inti tubuh merosot tajam.
Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., MKes., CHt., FISQua, menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh akumulasi berbagai faktor lingkungan yang sering kali disepelekan oleh para pendaki.
"Hipotermia itu adalah kondisi ketika suhu tubuh turun terlalu rendah dari ambang toleransi. Nah, pada bayi dan anak, itu penyebab utamanya enggak cuman satu ya, bukan cuman perubahan altitude-nya saja, tapi kombinasi dari beberapa faktor," ujar dr. Arifin saat dihubungi Kompas.com, Selasa (14/4/2026).
Baca juga: Bayi 1,5 Tahun Disebut Hipotermia di Gunung Ungaran, Dokter UNS: Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa
Mengapa balita sangat rentan terkena hipotermia?
Secara biologis, fisik anak berusia di bawah tiga tahun belum memiliki kemampuan memproduksi panas tubuh seefektif orang dewasa.
Menurut dokter spesialis anak yang berpraktik di RS Sari Asih Ciledug, Tangerang ini, ada alasan mendasar mengapa suhu tubuh mereka bisa "bocor" dengan begitu cepat saat berada di gunung.
"Secara fisiologis, anak kecil lebih rentan untuk terjadi hipotermia karena ukuran tubuhnya kecil dan kehilangan panasnya lebih cepat, terkait dengan rasio permukaan tubuh yang lebih besar. Dan produksi panasnya itu pun juga lebih sedikit dibandingkan orang dewasa," papar dr. Arifin.
Kondisi ini diperparah oleh aktivitas fisik yang minim selama pendakian. Berbeda dengan orangtuanya yang terus bergerak sehingga menghasilkan energi panas (kalor), balita biasanya hanya duduk diam di dalam gendongan.
Posisi pasif ini membuat tubuh mereka tidak memproduksi panas dari aktivitas otot, sedangkan angin kencang dan pakaian yang lembap terus menyedot suhu tubuh mereka.
Baca juga: Mendaki Gunung Andong via Temu Kidul yang Lagi Ramai, Seperti Ini Kondisi Jalurnya
Gejala yang sering luput dari perhatian
Menggigil memang jadi tanda seseorang yang hipotermia, namun pada balita tanda-tandanya sering kali muncul secara samar.
"Orangtua perlu curiga anaknya hipotermia, atau ada serangan itu, pada saat tubuhnya dingin saat diraba, pucat atau kemerahan pada kulit, lemas, sangat ngantuk, kurang responsif, menangisnya semakin lemah, malas minum," terang dr.Arifin.
Ia menekankan agar orangtua jangan pernah menyamakan alarm bahaya hipotermia pada balita dengan orang dewasa.
"Kalau orang dewasa, kita biasanya menunggu adanya shivering, menggigil sebagai tanda alarm. Pada bayi dan anak kecil, kita enggak bisa menunggu itu. Gejala-gejalanya lebih cenderung kayak orang yang kehabisan tenaga. Energinya turun drastis," tegas dr. Arifin.
Baca juga: Tanda Menyusui Efektif, Berat Badan Bayi Bertambah
Langkah pencegahan adalah kunci utama
Menilik risiko tinggi yang mengintai, dr. Arifin menuturkan bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan setelah kejadian.
Prinsip utamanya adalah menahan agar panas tubuh tidak keluar dan menjaga tubuh tetap kering. Penggunaan pakaian berlapis sangat disarankan, termasuk melindungi area-area vital yang sering terlupakan.
"Pada anak itu biasanya rasio kepala lebih besar, jadi lindungi kepala karena pelepasan kalor juga bisa terjadi di situ. Juga lindungi tangan, kaki dan dada dari angin," dr. Arifin berujar.
Selain itu, orangtua harus disiplin untuk segera mengganti pakaian anak jika mulai terasa lembab karena keringat atau embun.
Asupan cairan dan kalori yang cukup juga sangat wajib diperatikan agar mesin tubuh anak tetap memiliki "bahan bakar" untuk melawan dingin.
Baca juga: Pergi ke Alam Terbuka Bisa Meningkatkan Fokus, Benarkah?
Pentingnya menurunkan ego orangtua
Terlepas dari segala persiapan teknis, dr. Arifin mengingatkan bahwa gunung adalah lingkungan ekstrem yang tidak ramah bagi balita.
Jika cuaca mulai memburuk, orangtua harus berani mengambil keputusan untuk membatalkan niat mencapai puncak.
"Batasi paparan saat cuaca mulai berubah. Jadi kalau hujan, ada kabut atau angin kencang, usahakan untuk tidak melanjutkan pendakian," imbau dia.
"Jadi kalau anak sudah tidak nyaman, lesu, tangannya dingin, terus habis itu kayaknya sudah enggak aman nih, ayuk turun sekarang. Jadi jangan dipaksakan untuk sampai ke atas," kata dr. Arifin.
Jika tetap ingin memperkenalkan alam, orangtua bisa membawa anak ke wisata gunung yang ramah anak dari segi ketinggian, cuaca, durasi, dan akses naik-turun yang cepat.
Selain itu, area gunung yang dituju sebaiknya memiliki titik wisata yang mudah diakses dengan kendaraan roda dua atau roda empat. Dan sebisa mungkin, lanjut dr. Arifin, lokasinya dekat dengan fasilitas kesehatan.
Baca juga: Pembatasan Gawai pada Anak Tak Cukup dengan Aturan, Peran Keluarga Penting
Tag: #kenali #gejala #hipotermia #pada #balita #saat #gunung