Anak Terjebak Pertemanan Toksik, Orangtua Harus Apa?
- Anak-anak bebas mengeksplorasi berbagai jenis hubungan pertemanan di luar sana, tetapi terkadang mereka bisa terjebak dengan seorang teman yang memiliki perilaku toksik.
"Teman toksik adalah sosok yang secara konsisten berperilaku dengan cara yang menguras tenaga, memanipulasi, atau menyakiti anakmu, baik secara emosional, sosial, atau bahkan fisik," jelas terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Emily Zeller, LMFT, mengutip Parents, Kais (9/4/2026).
Zeller melanjutkan, ikatan pertemanan yang toksik biasanya menunjukkan pola yang sangat tidak sehat. Contohnya adalah selalu bersikap negatif dengan mengejek atau menjatuhkan rasa percaya diri anak.
Baca juga: 6 Tanda Punya Kakak atau Adik yang Toksik, Menurut Terapis
Teman semacam ini juga sering kali posesif, suka mengatur interaksi anak, dan menciptakan drama manipulatif untuk menguji kesetiaan.
Selain itu, mereka gemar menuntut tanpa mau memberikan dukungan balik, serta memicu tekanan teman sebaya untuk melakukan tindakan berisiko seperti bolos sekolah.
Sangat wajar jika kamu tidak menyukai semua teman pergaulan si kecil. Meski begitu, menghadapi situasi semacam ini tentu sangat membingungkan bagi para orangtua.
Kamu mungkin ragu tentang cara campur tangan yang paling tepat, agar sang buah hati tidak merasa dihakimi.
Ketika anak terjebak pertemanan toksik
Mengenali ciri persahabatan beracun
Kondisi yang merugikan ini jarang disadari secara langsung oleh sang anak karena mereka umumnya belum memiliki kosakata yang cukup untuk memahami dinamika sosial tersebut.
“Anak-anak tidak selalu memiliki kata-kata untuk mengungkapkan 'hubungan ini terasa tidak beres', tetapi perilaku dan suasana hati mereka akan memberi tahu kamu segalanya," ungkap terapis kecemasan, trauma, dan kelekatan, Cheryl Groskopf, LMFT, LPCC.
Jika sang buah hati mulai bertingkah tidak seperti biasanya, lebih pendiam, gampang gelisah, atau malah menjauhi orang terdekat, hal itu bisa menjadi sinyal bahaya. Groskopf menyarankan kamu untuk mengawasi kondisi mereka usai bermain.
“Perhatikan bagaimana keadaan mereka setelah mereka bergaul dengan teman ini. Apakah (energi) mereka terkuras? Mudah marah? Sedih? Perubahan emosional itu adalah data," imbau Groskopf.
Baca juga: Tanpa Disadari, 7 Kebiasaan Toksik Ini Bisa Ganggu Kebahagiaan
Cara mengajak anak berbicara
Membahas masalah pertemanan ini tidaklah mudah bagi anak. Groskopf mengingatkan orangtua untuk menahan diri, agar tidak menunjukkan emosi negatif secara berlebihan saat mengobrol.
“Walaupun sangat menggoda, ini adalah saat ketika kamu tidak boleh sepenuhnya masuk ke mode orangtua dan mulai menjelek-jelekkan teman itu. Itu hanya akan mendorong anakmu lebih dekat dengan mereka," jelas Groskopf
Sebaliknya, ia menyarankanmu untuk memancing diskusi secara halus. Kamu bisa bertanya seperti, “Apakah kamu merasa aman menjadi diri sendiri sepenuhnya di sekitar mereka?” atau “Apa yang terjadi jika kamu tidak setuju akan sesuatu? Dapatkah kamu berbicara?”.
Kamu juga dapat menanyakan respons fisik tubuh mereka saat berinteraksi.
“Tujuannya bukan untuk memberi label pada teman itu. Tujuannya adalah untuk membantu anak kamu mendengarkan sistem alarm batin mereka sendiri,” terang Groskopf.
Bagaimana jika anak tidak memandang persahabatannya toksik?
Jika anak tetap tidak menyadari situasi tersebut, Zeller melarangmu untuk melabeli temannya sebagai sosok yang buruk. Tanyakanlah secara terbuka, “Bagaimana perasaanmu saat berada di dekat mereka?”.
Bantu mereka berefleksi dengan menyampaikan hasil observasimu secara lembut. Katakanlah bahwa kamu melihat anak tampak sangat sedih setelah bermain dengan teman tersebut. Lalu, tanya apakah benar anak merasakan hal tersebut.
Pastikan kamu juga mencontohkan wujud ikatan pertemanan yang sehat. Bantulah anak membangun batasan yang tegas, alih-alih langsung memaksa mereka memutus hubungan sepihak yang biasanya justru akan berujung pada sikap defensif.
Kapan harus mencari bantuan?
Jika rentetan usaha di rumah tidak membuahkan hasil, bantuan profesional sangat dibutuhkan.
Zeller memperingatkan, intervensi klinis harus segera dilakukan jika perilaku anak kian memburuk secara drastis, mulai melukai diri sendiri, terlibat perundungan, atau sama sekali tak mampu melepaskan diri dari lingkaran setan tersebut secara mandiri.
Baca juga: 5 Sinyal Awal Hubungan Berubah Jadi Toksik, Waspadai Sebelum Terlambat
Jangan menunda hingga masalah kesehatan mental anak semakin membesar. Segera hubungi dokter atau psikolog pada tanda peringatan pertama.
“Seorang terapis dapat membantu anakmu mencari tahu apa yang terjadi dalam persahabatan tersebut, bagaimana cara membela diri sendiri, dan bagaimana membangun batasan tanpa harus menutup diri sepenuhnya,” pungkas Groskopf.