Kisah Tentara Ukraina Kurus Kering di Garis Depan, 17 Hari Tanpa Kiriman Makanan
Tentara Ukraina dari batalion Aidar berjalan di garis depan dekat Kota Bakhmut, wilayah Donetsk, 22 April 2023 ketika perang Rusia-Ukraina berkecamuk.(AFP/ANATOLII STEPANOV)
15:18
15 Mei 2026

Kisah Tentara Ukraina Kurus Kering di Garis Depan, 17 Hari Tanpa Kiriman Makanan

Kondisi empat tentara Ukraina yang tampak kurus kering memicu perhatian publik setelah foto dan permohonan mereka beredar pada akhir April 2026.

Mereka dilaporkan bertahan di garis depan tanpa pengiriman makanan hingga 17 hari dan berbulan-bulan tidak mendapat rotasi.

Anastasia Silchuk, istri salah satu prajurit dari Brigade Mekanisasi ke-14, mengatakan para tentara sampai pingsan akibat kelaparan dan terpaksa meminum air hujan.

“Para pejuang pingsan karena kelaparan, mereka minum air hujan,” tulis Silchuk di media sosial pada 22 April 2026.

Baca juga: Trump Umumkan Rusia-Ukraina Sepakat Gencatan Senjata Mulai Hari Ini

Menurut Silchuk, para prajurit itu terjebak di tepi kiri Sungai Oskil setelah serangan bom Rusia menghancurkan jembatan penghubung dengan brigade mereka di tepi kanan.

Ia juga menulis bahwa suaminya sempat berteriak melalui radio dan meminta bantuan karena tidak ada makanan maupun air.

Terjebak di garis depan setelah jembatan hancur

Situasi para prajurit Ukraina di tepi Sungai Oskil menggambarkan persoalan baru dalam perang yang telah berlangsung sejak invasi skala penuh Rusia pada 2022.

Kehancuran jembatan membuat posisi mereka terisolasi dan sulit dijangkau oleh jalur logistik konvensional.

Al Jazeera melaporkan, kelompok tersebut berada di wilayah Donetsk tenggara saat pasokan makanan tidak dapat masuk secara teratur.

Silchuk mengatakan permintaan bantuan suaminya tidak mendapat respons yang memadai melalui radio.

“Mereka tidak didengarkan di radio, atau mungkin tidak ada yang mau mendengarkan mereka,” tulis Silchuk.

Kasus itu kemudian mendorong Kementerian Pertahanan Ukraina memerintahkan penyelidikan terhadap kekurangan pasokan makanan di brigade tersebut dan dua unit militer lain di dekatnya.

Kementerian menyatakan pada 28 April bahwa masalah kekurangan makanan tidak boleh menjadi persoalan sistemik. Komandan brigade tersebut kemudian dilaporkan dicopot dari jabatannya.

Baca juga: Rusia dan Ukraina Kembali Lancarkan Serangan Usai Saling Tuduh Langgar Gencatan Senjata

Prajurit hanya makan cokelat dan oat selama berminggu-minggu

Kelaparan di medan perang juga dirasakan Oleksandr, prajurit Ukraina berusia 31 tahun yang sedang memulihkan diri dari luka kaki di Kyiv.

Ia mengatakan, makanan hangat menjadi hal yang paling dirindukan selama bertugas di bunker terpencil di garis depan tenggara Ukraina.

“Anda memimpikan makanan hangat, karena yang Anda dapatkan selama berminggu-minggu hanyalah cokelat batangan, bubur oat, dan sebotol air setiap hari,” kata Oleksandr kepada Al Jazeera.

Oleksandr merahasiakan nama belakang dan detail tugasnya sesuai protokol masa perang.

Ia menggambarkan garis depan sebagai ruang yang makin sulit ditembus setelah perkembangan teknologi drone mengubah cara perang berlangsung.

Bunker, parit, dan titik pertahanan kini tidak lagi mudah dijangkau kendaraan pengirim pasokan.

Kebutuhan dasar seperti makanan, air, obat-obatan, amunisi, dan generator listrik berubah menjadi persoalan hidup dan mati.

Drone ubah cara perang dan hambat jalur pasokan

Perkembangan drone militer membuat zona tempur semakin berbahaya bagi tentara dan kendaraan logistik.

Drone kini dapat beroperasi hampir sepanjang waktu di area yang membentang hingga sekitar 25 kilometer dari kedua sisi garis depan.

Kondisi itu membuat parit penghubung dan kendaraan pasokan konvensional nyaris tidak lagi efektif.

“Sudah berlalu masa-masa ketika Anda bisa keluar dari bunker hanya untuk merokok,” kata Ihor, komandan unit drone di Ukraina timur.

Drone bunuh diri berukuran kecil, murah, dan membawa bahan peledak membuat tank serta kendaraan lapis baja semakin rentan.

Baca juga: Gencatan Senjata Rusia-Ukraina Saat Paskah, Ini Fakta dan Dampaknya

Oleksandr mengatakan kendaraan yang masih mungkin lolos dari serangan drone adalah mobil berpenggerak empat roda yang melaju sangat cepat dan berzigzag.

Risiko tetap besar karena medan perang dipenuhi kawah ledakan dan ranjau darat. “Suatu kali, kami kehilangan empat mobil pikap dalam satu hari,” ujar Oleksandr.

Pasokan udara jadi jalur penyelamat

Di tengah ancaman drone Rusia, Ukraina mengandalkan drone dan gerobak robot untuk mengirimkan makanan, amunisi, serta peralatan ke pos terdepan.

Gerobak robot beroda dengan kamera dapat membawa pasokan dan mengevakuasi prajurit terluka.

Namun, alat itu tetap memerlukan drone pengintai ringan sebagai pemandu.

Drone yang lebih berat, terutama jenis pembom, kerap menjadi satu-satunya jalur penyelamat karena mampu membawa muatan beberapa kilogram.

Andriy Pronin, salah satu pelopor perang drone Ukraina, mengatakan logistik garis depan sebagian besar sudah ditangani drone atau gerobak robot selama setidaknya satu tahun terakhir.

“Semua teman saya di garis depan mendapatkan semuanya tepat waktu, sekali sehari, sekali setiap dua hari, semuanya sesuai jadwal,” kata Pronin.

Namun, peneliti Universitas Bremen, Nikolay Mitrokhin, meragukan luasnya cakupan pasokan lewat drone.

Menurut Mitrokhin, tidak lebih dari 10 persen tentara Ukraina mendapat makanan yang dijatuhkan melalui drone.

Gangguan terhadap pengiriman drone disebut dapat memicu kasus kelaparan seperti yang dialami para prajurit Ukraina tersebut.

Perwira brigade mengatakan dalam pernyataan bahwa pengiriman segala kebutuhan, mulai dari roti hingga generator yang dibongkar, dilakukan melalui udara.

Baca juga: Iran: Barat Munafik, Ribut soal PLTN Ukraina tapi Diam Saat AS-Israel Serang PLTN Kami

Mereka juga menyebut pasukan Rusia berusaha mencegat dan menembak jatuh sebanyak mungkin drone pengirim pasokan.

Tentara Rusia juga dilaporkan mengalami kelaparan

Kelaparan di garis depan tidak hanya dilaporkan terjadi di pihak Ukraina. Sejumlah tentara Rusia juga disebut dikirim dalam misi berisiko tinggi dengan bekal makanan sangat terbatas.

Mohammad, seorang buruh migran asal Tajikistan yang mengaku ditipu untuk “sukarela” berperang melawan Ukraina, mengatakan hanya mendapat sebotol kecil air dan dua atau tiga cokelat kecil.

Ia mengaku bertahan hampir sebulan di sebuah desa yang ditinggalkan di wilayah Luhansk timur.

Saat pengiriman drone jarang datang, ia mencari makaroni mentah dan sisa makanan.

Mohammad mengatakan berat badannya turun dari 76 kilogram menjadi 60 kilogram, bahkan setelah beberapa minggu mendapat makan tiga kali sehari di pusat penahanan tawanan perang Ukraina.

Pada Oktober 2025, intelijen Ukraina mengeklaim ratusan hingga ribuan tentara Rusia ditinggalkan di pulau-pulau Sungai Dnipro antara wilayah Kherson yang diduduki Rusia dan wilayah yang dikuasai Ukraina.

Mereka disebut mengalami masalah serius terkait pasokan makanan dan amunisi.

Baca juga: Tentara Korut yang Ditangkap Ukraina Pilih ke Korsel, Takut Hukuman 3 Generasi di Negaranya

Laporan lain juga menyebut adanya dugaan kasus kanibalisme di antara prajurit Rusia yang kelaparan, meski klaim tersebut belum terverifikasi secara independen.

Pada akhir April, The Times mengutip percakapan yang disadap antara dua perwira Rusia tentang seorang tentara yang disebut membunuh sesama prajurit dan hendak memakannya sebelum akhirnya ditembak mati oleh prajurit lain.

Tag:  #kisah #tentara #ukraina #kurus #kering #garis #depan #hari #tanpa #kiriman #makanan

KOMENTAR