Rupiah Sudah Anjlok sampai 17.600 per Dollar AS, Apa Sebabnya?
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS.(KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA)
15:32
15 Mei 2026

Rupiah Sudah Anjlok sampai 17.600 per Dollar AS, Apa Sebabnya?

 Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (15/5/2026).

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Sentimen itu mencakup tensi geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS, serta tren suku bunga tinggi.

"Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga Kontributor Pertumbuhan Ekonomi Saat Rupiah Melemah

Ibrahim menjelaskan, pasar global sedang mencermati ketegangan di Selat Hormuz yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Situasi memanas setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di kawasan tersebut.

Insiden kapal kargo yang tenggelam di perairan Oman juga menambah kekhawatiran pasar. Penahanan sejumlah kapal oleh Iran ikut meningkatkan kecemasan terhadap keamanan jalur distribusi minyak dunia.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat harga minyak dunia naik. Investor pun memburu aset safe haven berupa dolar AS.

Reuters melaporkan, indeks dolar AS berada di posisi 98,98 pada Jumat. Posisi tersebut menjadi level tertinggi dalam dua minggu.

Secara mingguan, indeks dolar AS diperkirakan menguat lebih dari 1 persen. Kenaikan itu menjadi yang terbesar sejak awal Maret 2026.

Baca juga: BI Rate Bisa Naik demi Jaga Rupiah, Apa Dampaknya ke Cicilan Kredit?

Ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat juga memperkuat indeks dolar AS. Bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) diperkirakan masih menahan suku bunga di level tinggi.

"Ada kemungkinan besar di tahun 2026 ini, bank sentral Amerika tidak akan menurunkan suku bunga. Ini mengindikasikan bahwa mempertahankan suku bunga lebih tinggi lagi ini akan berdampak terhadap penguatan indeks dollar, apalagi dibarengi dengan perang dagang nanti," kata dia.

Sentimen domestik ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah. Ibrahim menilai pasar domestik sedang libur panjang, sehingga intervensi Bank Indonesia (BI) hanya berjalan melalui pasar internasional.

Pasar domestik libur panjang karena peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus pada 14 Mei 2026. Libur tersebut berlanjut dengan cuti bersama dan akhir pekan hingga Minggu.

"Intervensi di pasar internasional itu tidak terlalu signifikan. Karena kita lihat bahwa liburnya pasar di Indonesia ini membuat tekanan yang begitu besar secara eksternal, sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional itu begitu luar biasa dampaknya," ucap Ibrahim.

Meski begitu, Ibrahim menilai upaya BI melakukan intervensi cukup baik. Rupiah mulai menunjukkan penguatan ke level Rp 17.596 per dolar AS pada Jumat pukul 15.00 WIB, setelah pagi tadi berada di level Rp 17.600 per dolar AS.

"Ini artinya BI benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar di hari Senin," katanya.

Ibrahim menambahkan, tingginya impor minyak mentah Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang membebani rupiah. Menurut dia, sekitar 85 persen impor minyak digunakan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM).

"Permasalahan anggaran yang cukup besar untuk subsidi minyak mentah ini salah satu penyebab pelemahan rupiah,” ucap Ibrahim.

Ibrahim memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Ada kemungkinan besar Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga 25 sampai 50 basis point untuk menstabilkan rupiah," katanya.

Meski demikian, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Mayoritas kepemilikan obligasi pemerintah masih didominasi investor domestik.

Tag:  #rupiah #sudah #anjlok #sampai #17600 #dollar #sebabnya

KOMENTAR