5 Tips Mengelola Stres Saat Mengasuh Anak agar Tetap Tenang dan Tak Emosi
- Tuntutan dalam membesarkan anak pada era modern ini cukup banyak, dan sejalan dengan lonjakan tingkat stres yang dialami para ayah dan ibu.
Berdasarkan hasil survei American Psychological Association pada 2023 terhadap 3.185 orang dewasa, hampir separuh dari responden (48 persen) mengaku sering dilanda tekanan hidup yang luar biasa. Beban ini berdampak langsung pada keseharian mereka.
"Tiga dari lima orang mengatakan stres membuat mereka sulit fokus, dan 62 persen mengatakan 'tidak ada yang mengerti betapa stresnya mereka'," ungkap psikolog yang berspesialisasi dalam pengasuhan anak dan masalah kesehatan perempuan, Juli Fraga, Psy.D., dalam tulisannya di CNBC Make It, Minggu (5/4/2026).
Baca juga: Sering Terpancing Emosi pada Anak saat Puasa? Psikolog Sarankan Teknik Jeda
Di tengah rasa lelah, banyak orangtua memilih memendam gejolak emosi atau justru menyalahkan diri sendiri atas ketidaksempurnaan mereka. Fraga menuturkan, pendekatan semacam ini malah memperparah keadaan.
Sebab, stres bukanlah sinyal untuk menahan penderitaan dalam diam, melainkan petunjuk ayah dan ibu untuk segera memperlambat ritme dan mencari solusi.
"Belajar bagaimana merespons ketika ketegangan memuncak dapat membantu," ungkap Fraga.
Lantas, apa saja cara yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk mengelola stres yang dirasakan dari mengasuh anak?
Tips mengelola stres pengasuhan
Ilustrasi. Menciptakan ruangan yang tenang
1. Hadapi kekacauan dengan tenang
Momen saat harus merawat anak yang sakit parah, menghadapi kesulitan ekonomi keluarga, atau sekadar melerai pertengkaran antaranak, kerap terasa amat kacau dan menguras energi.
"Hal ini terjadi karena stres dapat memengaruhi kesejahteraan fisik, psikologis, dan sosial kita. Secara fisik, stres membuat tubuh terasa tegang dan detak jantung meningkat. Secara psikologis, stres dapat memacu kekhawatiran dan kecemasan," papar Fraga.
Beberapa ibu merasa menjadi orangtua terburuk saat butuh waktu istirahat sejenak dari rutinitas. Ada pula yang selalu merasa bersalah tanpa mengerjakan tugas tambahan di sekolah anak.
Menurut Fraga, solusi terbaiknya adalah mengambil jeda. Lima tarikan napas yang dalam dipercaya mampu mengubah pengalaman penuh tekanan menjadi lebih mudah dikendalikan.
2. Ganti perbandingan dengan kasih sayang
Hampir setiap orangtua pernah terjebak dalam siklus toksik membandingkan diri dengan keluarga lainnya.
Fraga menerangkan, bahwa kebiasaan ini sangat berisiko karena dapat menyuburkan kritik internal yang merusak. Menggantinya dengan belas kasih pada diri sendiri mampu memutar balik sudut pandang negatif tersebut.
Baca juga: Pemicu Ibu Sering Merasa Bersalah dalam Mengasuh Anak Menurut Psikolog
Ilustrasi orangtua dan anak.
"Perbandingan dapat membuat kita merasa kurang, tetapi kasih sayang membantu kita merasa terhubung. Belas kasih pada diri sendiri juga menyiapkan diri untuk menanggapi stres anak dengan kebaikan," tutur dia.
3. Jangan ragu meminta bantuan
Meminta pertolongan dari kerabat kadang terasa amat berat karena takut mengekspresikan kebutuhan atau dianggap merepotkan.
Kenyataannya, bersikap terbuka seperti ini justru mengajarkan buah hatimu bahwa sesekali bergantung pada sesama adalah tindakan yang wajar dan berani.
"Menemukan dukungan dapat melindungi kesehatan mentalmu. Memberitahu seorang teman, 'Saya mengalami hari yang berat. Bolehkah saya menelepon kamu?' memberi kesempatan kepada orang-orang terkasih untuk mengungkapkan kepedulian mereka, yang membantu kita merasa tidak terlalu sendirian," jelas Fraga.
Kesejahteraan psikologis orangtua menentukan seberapa jauh stres memengaruhi anak dalam jangka panjang. Oleh karena itu, dukungan lingkungan efektif mencegah penularan masalahmu kepada mereka.
Baca juga: Rasa Bersalah dalam Pengasuhan Anak, Wajar atau Tanda Stres Berlebih?
4. Menunjukkan empati yang tulus
Fraga mengatakan, empati adalah penawar emosional yang ampuh untuk merespons situasi secara lembut.
Ilustrasi orangtua dan anak
Saat waktu-waktu sulit tiba, dengarkan perspektif anak dengan penuh rasa ingin tahu dan ajukan pertanyaan guna memancing respons emosional autentiknya. Dua hal ini mempermudah anak meregulasi perasaan mereka sendiri.
"Penelitian bahkan menunjukkan, orangtua yang berempati merasa lebih percaya diri dan menemukan rasa tujuan yang lebih besar. Hal ini dapat membuat pengasuhan terasa tidak terlalu melelahkan, bahkan di hari-hari yang berat," ucap Fraga.
5. Nikmati emosi positif
Stres bisa merampas kebahagiaan dengan membuat otakmu waspada dan terus mencari masalah baru. Namun orangtua yang tangguh akan selalu menyempatkan diri menangkap secercah sukacita, sekecil apa pun itu.
Misalnya ketika melihat anak tersenyum, mendapat pelukan hangat dari suami atau istri, atau pujian dari sesama orangtua.
"Di momen-momen positif ini, luangkan waktu untuk merasakan bagaimana sukacita terasa di tubuhmu. Sukacita adalah emosi yang luas," ungkap Fraga.
Baca juga: Anak Tantrum di Tempat Umum, Orangtua Harus Apa? Ini Saran Pakar Pengasuhan
"Sukacita membuat kita merasa lebih besar dari kehidupan. Menikmati perasaan itu dapat memperkuat hubungan keluarga dan membantu kita berkembang," sambung dia.
Saat kamu memiliki kapasitas emosional yang baik dalam menangani berbagai tekanan hidup, secara tidak sadar anak akan terdorong mengikuti teladan positif tersebut.
Tag: #tips #mengelola #stres #saat #mengasuh #anak #agar #tetap #tenang #emosi