Jangan Asal Borong Makanan Instan untuk Sahur dan Buka Puasa
Ilustrasi belanja di supermarket.(Unsplash)
10:10
27 Februari 2026

Jangan Asal Borong Makanan Instan untuk Sahur dan Buka Puasa

- Euforia menyambut bulan suci Ramadan sering kali diikuti dengan perubahan perilaku belanja masyarakat yang cukup drastis.

Fenomena memborong bahan makanan di berbagai pusat perbelanjaan ini menjadi pemandangan rutin yang terlihat bahkan sejak satu hari sebelum puasa dimulai.

"Sehari sebelum Ramadhan datang, saya cek kebiasaan masyarakat di supermarket, minimarket, dan pasar tradisional. Ternyata, masyarakat banyak yang memborong makanan apa saja, semua di rak diambil sampai trolinya banyak. Padahal di hari-hari biasa, enggak segitunya. Katakanlah di belanja bulanan, itu nggak sebanyak itu."

Hal ini dituturkan oleh seorang Quality Assurance Specialist di sebuah perusahaan food and beverage, Erwin Setiawan, di Group media Interview TikTok bertajuk "#SerunyadiTikTok: Kiat Jalani Bulan Ramadan dengan Lebih Sehat dan Seimbang bersama Kreator TikTok" di Jakarta Selatan, Kamis (26//2/2026).

Baca juga: Kesalahan Sahur yang Bikin Tubuh Cepat Lemas Saat Puasa, Apa Saja?

Fenomena menyetok makanan jelang Ramadan

Bagi sebagian orang, menyetok makanan dalam jumlah besar dianggap sebagai persiapan agar ibadah di bulan Ramadan berjalan lebih praktis.

Namun, di balik keranjang belanja yang penuh tersebut, ada aspek kesehatan dan keseimbangan gizi yang kerap kali terabaikan oleh konsumen saat memilih produk.

Quality Assurance Specialist di sebuah perusahaan food and beverage, Erwin Setiawan, sekaligus kreator konten Tiktok @anakpanganindonesia, di Group media Interview TikTok bertajuk #SerunyadiTikTok: Kiat Jalani Bulan Ramadan dengan Lebih Sehat dan Seimbang bersama Kreator TikTok di Jakarta Selatan, Kamis (26//2/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Quality Assurance Specialist di sebuah perusahaan food and beverage, Erwin Setiawan, sekaligus kreator konten Tiktok @anakpanganindonesia, di Group media Interview TikTok bertajuk #SerunyadiTikTok: Kiat Jalani Bulan Ramadan dengan Lebih Sehat dan Seimbang bersama Kreator TikTok di Jakarta Selatan, Kamis (26//2/2026).

Hal ini menjadi perhatian serius bagi Erwin yang sering mengedukasi warganet perihal pangan lewat akun TikToknya @anakpanganindonesia.

Berdasarkan pengamatannya langsung di lapangan, masyarakat cenderung menjadi kurang selektif saat mengambil produk dari rak supermarket akibat terburu-buru ingin memenuhi kebutuhan stok selama sebulan.

"Kebiasaan masyarakat itu beli banyak banget makanan tanpa melihat apa yang dia beli, salah satunya adalah komposisinya," terang dia.

Baca juga: Manfaat Jalan Kaki Setelah Sahur dan Buka Puasa bagi Kesehatan

Ia menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk kembali sadar akan apa yang mereka masukkan ke dalam troli belanja, terutama terkait kandungan nutrisi yang akan dikonsumsi saat sahur dan berbuka.

“Kalau ke supermarket atau ke pasar, harus tahu kira-kira apa yang dibeli. Karena kalau kita enggak tahu, itu jadi enggak gizi seimbang,” sambung Erwin.

Persiapan stok yang melimpah ini sering kali membuat masyarakat lupa bahwa tubuh tetap membutuhkan "bahan bakar" yang berkualitas untuk bertahan selama berpuasa.

Padahal, pemilihan produk yang sembarangan justru bisa memicu masalah kesehatan di tengah bulan suci

Tetap penuhi kebutuhan makro dan mikronutrien

Puasa bukan berarti mengabaikan asupan nutrisi harian. Tubuh tetap memerlukan asupan yang lengkap agar fungsi organ tetap berjalan optimal, meski tidak mendapat asupan makanan selama belasan jam di siang hari.

Baca juga: Minum Kopi dan Teh Saat Sahur, Amankah? Ini Efeknya bagi Tubuh Menurut Ahli Gizi

Ilustrasi belanja di supermarket.Unsplash Ilustrasi belanja di supermarket.

Menurut Erwin, konsep gizi seimbang harus mencakup dua kelompok besar nutrisi, yakni makronutrien dan mikronutrien. Kebutuhan karbohidrat, lemak, dan protein harus tetap dibarengi dengan asupan vitamin dan mineral yang cukup.

Sayangnya, selama bulan Ramadan, kecenderungan masyarakat untuk mengonsumsi makanan instan meningkat pesat demi kemudahan waktu dan persiapan makanan.

Baca juga: 6 Tips Sahur agar Tidak Lemas dan Cepat Lapar Saat Puasa

Oleh karena itu, proses kurasi atau pemilihan produk menjadi langkah yang tidak boleh dilewatkan. Masyarakat harus lebih sadar akan komposisi yang bagus dan tidak bagus untuk tubuh.

Kebutuhan gizi yang lengkap sering kali berbenturan dengan keinginan untuk serba praktis saat menyiapkan santapan.

Namun, menurut Erwin, makanan instan tidak selalu buruk bagi kesehatan asalkan kita jeli melihat proses pembuatan dan teknologinya

Memilih makanan instan yang lebih sehat

Memang tidak ada larangan untuk belanja makanan instan sebagai santapan sahur dan buka puasa.

Belanja dalam jumlah banyak pun tidak apa-apa, asalkan tidak dilakukan secara asal-asalan "yang penting murah", alias tidak memerhatikan komposisinya.

Baca juga: Bahaya Anak Puasa Tanpa Sahur, Dokter Ungkap Risikonya

Ilustrasi belanja di supermarket.Unsplash Ilustrasi belanja di supermarket.

Sebab, tidak semua makanan instan memiliki nilai gizi yang tinggi. Erwin mencontohkan makanan instan yang tergolong sehat, seperti makanan buatan rumah (homemade).

"Misalnya makanan instan daging homemade, rendang yang hanya di-microwave saja (untuk disantap), itu bagus karena memang tidak ada pengawet yang lain. Hanya menggunakan teknologi pengemasan seperti vacuum sealer," ungkap dia.

Makanan instan yang dikemas dengan teknologi modern bisa menjadi pilihan yang jauh lebih baik daripada produk olahan pabrikan yang penuh pengawet.

Produk seperti rendang siap saji, misalnya, dianggap lebih aman karena tidak memerlukan tambahan pengawet kimia. "Pengawet" hanya mengandalkan teknologi pengemasan yang canggih untuk menjaga kualitasnya.

Baca juga: Olahraga Setelah Sahur Apakah Boleh?

Batasi konsumsi makanan kaleng saat sahur

Meski teknologi vakum menjadi opsi yang lebih aman, kenyataannya produk kalengan masih sering menjadi pilihan utama masyarakat karena faktor harga dan kemudahan akses.

Di sinilah konsumen perlu lebih waspada terhadap kandungan tersembunyi yang ada di balik kemasan kaleng tersebut.

Ilustrasi belanja di supermarket.Unsplash Ilustrasi belanja di supermarket.

Salah satu jenis makanan instan yang paling populer sebagai stok sahur adalah makanan kalengan seperti sarden. Meski praktis, Erwin mengingatkan adanya risiko kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan, terutama karena kadar garam yang sangat tinggi.

Garam atau gula sering kali digunakan dalam proses pengawetan sederhana pada produk kalengan agar tahan lama. Dampaknya, rasa makanan kaleng cenderung sangat ekstrem antara terlalu asin atau terlalu manis.

"Boleh enggak sih makan sarden setiap hari untuk sahur? Ya boleh-boleh saja makan, tapi seminggu tiga kali aja karena kandungan natriumnya tinggi. Kenapa tinggi? Karena proses pengawetan paling sederhana ya menggunakan natrium atau gula,” tutur Erwin.

Menurut dia, kesadaran masyarakat untuk membaca label komposisi produk menjadi kunci utama dalam menjalani Ramadan yang sehat.

Baca juga: Kenapa Makanan Siap Saji Mudah Terkontaminasi? Ini Kata Ahli Pangan

Tag:  #jangan #asal #borong #makanan #instan #untuk #sahur #buka #puasa

KOMENTAR