Bukan Oversharing, Ini Ciri Berbagi Pengalaman yang Sehat di Media Sosial
Mengumpat dan mencaci di medsos saat puasa Ramadhan, apakah bisa membatalkan ibadah. ini penjelasan hadis dan pandangan ulama.(Ilustrasi ini dibuat dengan AI.)
17:05
26 Februari 2026

Bukan Oversharing, Ini Ciri Berbagi Pengalaman yang Sehat di Media Sosial

– Media sosial kerap menjadi ruang aman untuk berbagi pengalaman hidup, emosi, dan refleksi diri. Namun, jika dilakukan untuk meluapkan perasaan tanpa adanya filter maka itu akan menjadi oversharing. 

Lantas, bagaimana membedakan berbagi pengalaman yang sehat dengan kebiasaan membagikan informasi secara berlebihan?

Perbedaan keduanya dapat dilihat dari tujuan, batasan, hingga dampak emosional setelah membagikan cerita tersebut.

Psikolog Klinis Winona Lalita R menjelaskan, berbagi pengalaman secara sehat di dunia digital dapat dipahami melalui beberapa aspek yang saling berkaitan. Ia merujuk pada penelitian Dr. Brown tentang dunia digital dan konsep being vulnerable.

Baca juga: Kenapa Orang Gemar Oversharing di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikolog


Tujuan berbagi, membangun koneksi dan memberi nilai

Winona menekankan, tujuan menjadi fondasi utama dalam membedakan berbagi sehat dan oversharing. Ketika seseorang memiliki tujuan yang jelas, unggahan di media sosial tidak sekadar menjadi pelampiasan emosi sesaat.

“Kalau kita mau sharing secara sehat dari tujuannya, maka ini membangun koneksi dan kalau bisa jadi diskusi dengan orang lain ataupun memberikan edukasi terhadap orang lain,” kata Winona saat dihubungi Kompas.com, Senin (23/2/2026).

Dengan tujuan yang konstruktif, berbagi pengalaman justru dapat membuka ruang dialog, memperluas perspektif, dan memberi manfaat bagi orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri.

Baca juga: Awas Bahaya Oversharing Medsos, Penjahat Siber Bisa Curi Data Pribadi dan Uangmu

Ilustrasi viral, media sosial. Dok. Shutterstock Ilustrasi viral, media sosial.


Batasan yang jelas sebagai bentuk menghargai diri

Aspek kedua yang tidak kalah penting adalah batasan atau boundaries. Menurut Winona, berbagi secara sehat selalu disertai dengan kesadaran akan privasi dan penghormatan terhadap sudut pandang orang lain.

“Dari segi batasan, kita menghargai diri, punya privacy, dan juga menghargai orang lain punya sudut pandang yang lain, sehingga batasannya jelas di situ,” ujarnya.

Batasan ini membantu seseorang menentukan bagian mana dari pengalaman hidup yang layak dibagikan ke ruang publik dan mana yang sebaiknya tetap disimpan secara personal.

Baca juga: Oversharing di Media Sosial, Haus Validasi atau Bentuk Minta Tolong?

Sensitivitas terhadap konteks dan isu yang berkembang

Winona juga menyoroti pentingnya konsen atau konteks saat membagikan cerita di media sosial. Ia mengingatkan, situasi sosial yang sedang sensitif dapat memengaruhi cara unggahan diterima publik.

“Terkait dengan konsen, kita perlu cek juga, kira-kira apa yang terjadi belakangan ini lagi ada isu sensitif enggak? Yang kalau kita enggak hati-hati, apa yang kita share itu bisa memperkeruh suasana dan beresiko terhadap diri sendiri,” jelasnya.

Kesadaran terhadap konteks membantu seseorang menghindari dampak negatif yang tidak diinginkan, baik secara sosial maupun emosional.

Baca juga: Apa Itu Yapping? Ini Arti dan Maknanya yang Viral di Media Sosial

Dampak emosional setelah berbagi

Aspek terakhir adalah dampak yang dirasakan setelah membagikan pengalaman. Winona menilai, respons emosional pasca-unggahan dapat menjadi indikator penting.

“Kalau setelah kita share, merasa lega dan bermanfaat untuk orang lain, itu masih positif,” ujarnya.

Pandangan ini selaras dengan penjelasan Psikolog Klinis Dewasa Adelia Octavia Siswoyo, yang menekankan perasaan setelah berbagi sebagai pembeda utama.

“Berbagi pengalaman secara sehat cenderung memberikan perasaan positif bagi diri sendiri maupun pembaca, tidak menimbulkan perasaan cemas dan takut selama membagikan informasi itu,” jelas Adelia.

Sebaliknya, ia menyebut oversharing sering kali dilakukan tanpa filter dan bersifat impulsif.

“Kita cukup aware dengan hal apa yg kita sampaikan. Berbeda dengan oversharing, cenderung tidak ada filter dan terkesan impulsif,” katanya.

Baca juga: Sering Curhat ke Chatbot AI, Waspadai Risiko Ketergantungan Emosional

Adelia menambahkan, tanda lain oversharing adalah munculnya penyesalan setelah berbagi.

“Seringkali situasi setelah sharing menyebabkan kita mempertanyakan konten yang kita share, bingung bahkan membuat kita malu.”

Dengan memahami tujuan, batasan, konteks, dan dampak emosional, berbagi pengalaman di media sosial dapat menjadi proses yang sehat, bermakna, dan tetap menjaga kesejahteraan diri di ruang digital.

Tag:  #bukan #oversharing #ciri #berbagi #pengalaman #yang #sehat #media #sosial

KOMENTAR