6 Tanda Anak Sensitif yang Sering Tidak Disadari Orangtua
Ilustrasi balita(Thinkstock)
20:10
25 Februari 2026

6 Tanda Anak Sensitif yang Sering Tidak Disadari Orangtua

- Tidak semua anak mengekspresikan emosi dan merespons lingkungan dengan cara yang sama. Sebagian anak merasakan segala sesuatu dengan lebih dalam, lebih intens, dan lebih detail dibandingkan anak seusianya. 

Anak dengan karakter ini kerap disebut sebagai highly sensitive child (HSC) atau anak yang sensitif.

Menurut para ahli, anak sensitif bukanlah anak yang manja atau lemah. Mereka justru memiliki kepekaan tinggi terhadap rangsangan, emosi, dan situasi di sekitarnya. 

Mengenali tanda-tandanya sejak dini penting agar orangtua dapat memberikan pola asuh yang tepat dan mendukung tumbuh kembang emosional anak. Berikut enam tanda anak sensitif yang sering muncul dalam keseharian.

Baca juga: Bagaimana Cara Mengetahui Kulit Anak Sensitif atau Tidak?

6 Tanda anak sensitif

1. Sangat sensitif terhadap suara, bau, cahaya, dan sentuhan

Anak sensitif cenderung bereaksi lebih kuat terhadap rangsangan indra. Suara keras seperti vacuum cleaner, lampu yang terlalu terang, aroma parfum menyengat, atau label baju yang terasa gatal bisa membuat mereka tidak nyaman.

Psikiater dan penulis buku The Highly Sensitive Rabbit, Judith Orloff menjelaskan, anak sensitif merasakan rangsangan seolah-olah dengan intensitas berlipat.

“Mereka merasakan sesuatu seperti memegang benda dengan 50 jari, bukan lima jari,” ujarnya, seperti disadur HuffPost, Rabu (25/2/2026).

Akibatnya, anak sensitif mudah merasa kewalahan di tempat ramai atau lingkungan yang kacau. Orangtua disarankan membantu anak mempersiapkan diri sebelum menghadapi situasi yang berpotensi memicu overstimulasi.

Baca juga: Mengenal Multilearning, Teknik Stimulasi Otak Anak agar Tumbuh Cerdas dan Kreatif

2. Cenderung hati-hati dan butuh waktu beradaptasi

Dalam situasi baru, anak sensitif biasanya tidak langsung berbaur. Mereka lebih memilih mengamati terlebih dahulu sebelum merasa aman untuk ikut terlibat. Misalnya, saat ada acara keluarga atau bertemu orang baru, anak sensitif bisa terlihat menyendiri atau berjarak.

Psikolog anak Cara Goodwin menyebut sikap ini sebagai bentuk pemrosesan lingkungan yang lebih mendalam.

Anak sensitif perlu waktu untuk memahami suasana, bukan karena takut, melainkan karena mereka menyerap banyak informasi sekaligus.  Memaksa anak untuk langsung berinteraksi justru bisa membuat mereka semakin tertekan.

Baca juga: Anak Mudah Marah? Psikolog Jelaskan Faktor Emosi dan Lingkungan yang Berperan

Ilustrasi anak. Perubahan suasana hati anak setelah liburan sering dianggap biasa, padahal bisa menjadi tanda tekanan emosional yang perlu diperhatikan orangtua.Freepik Ilustrasi anak. Perubahan suasana hati anak setelah liburan sering dianggap biasa, padahal bisa menjadi tanda tekanan emosional yang perlu diperhatikan orangtua.

3. Emosinya kuat dan mudah meledak

Anak sensitif merasakan emosi lebih dalam dan lebih lama dibandingkan anak lain. Hal ini membuat mereka rentan mengalami ledakan emosi atau tantrum yang tampak ekstrem.

Psikolog klinis Becky Kennedy menjelaskan, anak sensitif mengalami eskalasi emosi yang cepat.

“Mereka bisa meningkat sangat cepat, dari nol ke 60,” katanya.

Hal-hal sepele seperti tersandung kursi atau kelelahan bisa memicu tangisan hebat. Kurang tidur dan rasa lapar juga berdampak lebih besar pada anak sensitif, sehingga orangtua perlu lebih peka terhadap kebutuhan dasar mereka.

Baca juga: Wajib Tahu, Ini Fondasi Perkembangan Emosi Anak

4. Sulit menghadapi kejutan

Rutinitas dan prediktabilitas memberikan rasa aman bagi anak sensitif. Perubahan mendadak atau kejutan, bahkan yang dimaksudkan sebagai hal menyenangkan, dapat membuat mereka kewalahan.

Kennedy mencontohkan, kehadiran orangtua secara tiba-tiba di kelas atau sorakan keras saat pertandingan olahraga bisa memicu reaksi emosional yang intens.

“Menjadi pusat perhatian secara tiba-tiba dapat sangat membebani anak yang merasakan segalanya secara mendalam,” ungkap dia.

Orangtua disarankan melatih anak menghadapi perubahan secara bertahap dan membekali mereka dengan keterampilan mengelola emosi sebelum situasi sulit terjadi.

Baca juga: Psikiater Anak Ingatkan Perasaan Anak Tidak Bisa Disepelekan

5. Mudah menyerap emosi orang lain

Anak sensitif memiliki empati tinggi dan sangat peduli pada perasaan orang di sekitarnya. Mereka bisa ikut merasakan stres, kesedihan, atau kecemasan orangtuanya.

Orloff menjelaskan, anak sensitif bahkan bisa merasa bahwa emosi negatif orang lain adalah kesalahan mereka.

“Penting bagi orangtua untuk menegaskan bahwa masalah orang dewasa bukanlah tanggung jawab anak,” ujarnya.

Mengajarkan batasan emosional menjadi kunci agar anak tetap empatik tanpa perlu menyerap emosi dari lingkungan sekitarnya.

Baca juga: Empati Lingkungan Bisa Ringankan Tekanan Mental Anak, Ini Kata Psikolog

6. Sangat peka terhadap detail kecil

Kepekaan anak sensitif juga terlihat dari kemampuannya menangkap hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain.  Mereka bisa menyadari perubahan nada suara, ekspresi wajah, bahkan kebohongan kecil.

“Mereka sangat perseptif dan memperhatikan segalanya,” kata Kennedy.

Kepekaan ini membuat anak sensitif cepat merespons perubahan pola asuh. Ketika orangtua mulai memahami dan menyesuaikan pendekatan, anak sensitif biasanya menunjukkan perkembangan positif dalam mengelola emosi dan hubungan sosial.

Anak sensitif bukan anak bermasalah, melainkan anak dengan sistem saraf yang lebih responsif. 

Dengan pemahaman yang tepat, kepekaan ini justru bisa menjadi kekuatan, seperti empati tinggi, kreativitas, dan kedalaman emosi. 

Peran orangtua sangat penting untuk membantu anak sensitif tumbuh percaya diri dan merasa aman di dunia yang sering terasa terlalu bising bagi mereka.

Baca juga: Pahami 4 Perasaan Anak saat Ia Terlihat Putus Asa, Menurut Psikolog

Tag:  #tanda #anak #sensitif #yang #sering #tidak #disadari #orangtua

KOMENTAR