8 Tips Co-parenting Sehat Tanpa Drama demi Kebahagiaan Anak
- Meski sudah tak terikat dalam pernikahan, banyak pasangan suami istri yang tetap memilih untuk bekerja sama demi kebahagiaan dan tumbuh kembang anak. Konsep ini disebut juga dengan co-parenting.
Bukan hal yang mudah, tentu saja. Perbedaan pandangan, emosi yang belum sepenuhnya reda, hingga pola asuh yang tidak selalu sejalan kerap menjadi tantangan.
Tantangan dalam menjalankan co-parenting juga dialami pengusaha Insanul Fahmi dan mantan istrinya, Wardatina Mawa. Mereka kembali berseteru, kali ini perihal pertemuan Insanul dengan anak-anaknya.
Insanul merasa bahwa waktu dirinya bertemu dengan anak-anaknya dibatasi, dan berniat untuk melaporkan hal ini pada Komnas Anak.
Baca juga: Merasa Waktu Bertemu Anak Dibatasi, Insanul Fahmi Berniat Mengadu ke Komnas Anak
"Makanya dalam beberapa waktu ini, kalau misalnya memang masih belum ada respons buat ketemu anak, kayaknya aku sama Bang Tomi pengin tegas ke Komnas,” kata Insanul di Jakarta baru-baru ini, dikutip dari Kompas.com, Selasa (24/2/2026).
“Tapi sebenarnya itu mungkin opsi terakhir karena kami enggak pengin dramanya panjang,” tambah dia.
Sementara itu, Mawa mengaku heran dengan keluhan itu lantaran Insanul belum lama ini bertemu dengan anak-anaknya. Ia pun berharap agar perseteruan ini tidak berujung pada fitnah, terutama di bulan suci Ramadan.
Tips parenting bebas drama agar anak bahagia
Jika berjalan dengan baik, co-parenting dapat menjadi jembatan yang memastikan anak tetap merasa aman, dicintai, dan didukung oleh kedua orang tuanya.
Berikut tips co-parenting bebas drama agar anak tetap bahagia, meski sudah tidak lagi serumah dengan salah satu orangtuanya.
Ilustrasi orangtua bersama anak.
1. Tetap fokus pada anak
Menurut Psikolog Alida Shally Maulinda, M.Psi., kedua belah pihak harus selalu ingat untuk tetap menjadi orangtua dari sang buah hati, terlepas dari alasan perceraian terjadi.
Psikolog klinis anak dan remaja yang berpraktik di Sentra Pendidikan Khusus Amadeus, Manado, Sulawesi Utara itu melanjutkan, hal tersebut diperlukan agar mereka bisa lebih fokus pada anak ketimbang satu sama lain.
“Dan tentu, peran ayah dan ibu yang terpisah secara fisik dan emosional ini, tetap akan saling berpengaruh dalam perkembangan anak,” kata Alida, diwawancarai beberapa waktu lalu.
Meskipun perasaan marah dan kesal masih tertinggal di hati, kesampingkan dulu demi memprioritaskan keselamatan dan kesehatan anak guna menunjang tumbuh kembang mereka.
Baca juga: Zack Lee Ungkap Resep Sukses Co-parenting Bareng Nafa Urbach
2. Membangun komunikasi yang efektif dan terarah
Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, M.Psi., mengingatkan pentingnya menyampaikan informasi secara ringkas dan terfokus pada urusan anak.
Jika interaksi tatap muka berisiko menimbulkan perdebatan, manfaatkan platform pesan teks atau aplikasi manajemen jadwal sebagai media komunikasi.
3. Mengedepankan solusi yang saling menguntungkan
Fokuslah pada prinsip negosiasi win-win. Ingatlah bahwa target utamanya bukan memenangkan ego atas mantan pasangan, melainkan memastikan anak memperoleh kualitas hidup yang optimal.
Baca juga: Menjaga Hubungan Pribadi Setelah Bercerai, Ini Peran Co-parenting
Ilustrasi orangtua berinteraksi dengan anak.
4. Memanfaatkan bantuan profesional
Apabila perselisihan sulit menemukan titik temu, jangan ragu untuk melibatkan pihak ketiga yang netral, seperti psikolog atau mediator keluarga, guna membantu menyelesaikan masalah.
5. Menjaga kestabilan emosi orangtua
Kesehatan mental orangtua sangat berpengaruh pada anak. Anak lebih memerlukan sosok orangtua yang tenang dan peka terhadap kebutuhan mereka, dibandingkan orangtua yang terlalu menuntut kesempurnaan atau emosional.
6. Fleksibilitas yang terukur
Meskipun penyesuaian jadwal bisa dilakukan sewaktu-waktu, stabilitas rutinitas harian anak tetap harus dijaga. Konsistensi ritme hidup sangat penting agar anak tidak merasa cemas atau bingung.
7. Memberikan ruang suara bagi anak
Libatkan anak dalam diskusi mengenai jadwal atau kebutuhan mereka sesuai dengan tingkat usianya. Semakin dewasa, suara dan keinginan mereka perlu lebih didengarkan.
Baca juga: Berkaca dari Gunawan Dwi Cahyo, Ini Alasan Mengabari Mantan Jika Menikah Lagi Setelah Cerai
8. Pandai memposisikan diri
Ilustrasi orangtua dan anak sedang membaca secara interaktif.
Psikolog Lydia Agnes Gultom, M.Psi., mengatakan bahwa orangtua juga harus bisa memposisikan diri ketika mereka sedang menjadi ayah dan ibu, dan ketika mereka sedang menjadi mantan suami dan mantan istri.
Maksudnya, ketika sedang bersama dengan anak, ubah pola pikir menjadi “Saya adalah ayah atau ibu yang sedang menemani anak”, bukan “Saya sedang menemani anak bersama mantan suami atau istri”.
Ketika masih memposisikan diri sebagai mantan pasangan, konflik berpotensi muncul karena masih ada perasaan kesal.
Selama menerapkan co-parenting, perasaan apapun yang sifatnya personal, sepenuhnya harus dikesampingkan demi anak.
“Kalau hubungan antara mantan suami dan mantan istri memang enggak baik karena konflik, saat co-parenting ya diubah perannya. Kita perlu sadar bahwa peran kita sebagai orangtua, bukan mantan suami dan mantan istri,” terang Agnes.
Menurut dia, hal tersebut memang tidak semudah seperti apa yang dikatakan. Namun, orangtua harus berusaha, dengan kerendahan hati, untuk benar-benar fokus hanya memikirkan dan mementingkan yang terbaik untuk anak, bukan untuk diri sendiri.
Baca juga: 78 Persen Kasus Cerai di Indonesia 2024 Berasal dari Gugatan Istri, Ini Laporannya
Pretend play termasuk aktivitas bonding orangtua dan anak. Orangtua bisa bercerita dengan alat seadanya, tak harus membeli mainan mahal.
Mengapa co-parenting bebas drama penting?
Berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 23 Tahun 2002 dan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, orangtua wajib mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak.
Kewajiban itu melekat tanpa melihat status hubungan perkawinan. Meskipun sepasang laki-laki dan perempuan sudah bukan lagi suami istri, status keduanya tetap sebagai ayah dan ibu bagi anak mereka.
“Di pengadilan agama dan pengadilan negeri pun, putusan saat perceraian mengatur pola pertemuan dan pembagian tanggung jawab orangtua terhada pengasuhan anak,” ungkap Agnes.
Psikolog Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., menyebut penerapan konsep co-parenting penting agar anak tidak merasa bingung secara emosional setelah orangtuanya berpisah.
Selain itu, co-parenting bukan sekadar berbagi jadwal mengasuh, melainkan upaya membangun konsistensi dan rasa aman bagi anak.
“Anak membutuhkan kepastian bahwa ayah dan ibu masih menjadi bagian penting dalam hidupnya, meski sudah tidak lagi tinggal serumah,” ujarnya.
Ketika ayah dan ibu mampu menjaga komunikasi yang sehat dan menekan konflik, anak akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan perubahan. Sebaliknya, pertengkaran yang terus-menerus justru bisa menimbulkan luka emosional yang panjang.
Baca juga: 6 Tanda Siap Menikah Lagi Setelah Cerai Menurut Psikolog
Tag: #tips #parenting #sehat #tanpa #drama #demi #kebahagiaan #anak