Mengapa GERD dan Maag Sering Kambuh Saat Puasa? Ini Kata Dokter
Ilustrasi serangan Gerd(PEXELS/Sora Shimazaki)
20:10
21 Januari 2026

Mengapa GERD dan Maag Sering Kambuh Saat Puasa? Ini Kata Dokter

– Keluhan maag dan GERD kerap muncul pada awal bulan puasa. Sensasi perih di ulu hati, dada terasa panas, hingga tenggorokan seperti terbakar menjadi keluhan yang sering dirasakan sebagian orang.

Perubahan pola makan, tidur, serta kebiasaan berbuka membuat sistem pencernaan harus beradaptasi dalam waktu singkat. Proses adaptasi inilah yang menjadi pemicu utama munculnya keluhan.

Tubuh sedang berada dalam fase adaptasi

Pada awal Ramadan, tubuh belum sepenuhnya terbiasa dengan perubahan jam makan dan istirahat. Lambung yang sebelumnya menerima asupan secara teratur harus menyesuaikan diri dengan waktu makan yang jauh lebih terbatas.

“Di awal-awal puasa itu pasti terjadi adaptasi. Pola makan berubah, pola tidur berubah. Biasanya muncul maag dan GERD,” ujar dr. Irwan Heriyanto, MARS, Board of Medical Excellence Halodoc dalam acara Halodoc Talks di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).

Dalam fase ini, sistem pencernaan lebih sensitif terhadap perubahan, sehingga gangguan lambung lebih mudah muncul meski hanya dipicu oleh kebiasaan kecil.

Porsi makan yang banyak saat berbuka

Kebiasaan langsung makan dalam porsi besar saat berbuka membuat lambung bekerja lebih berat setelah seharian kosong. 

Perubahan mendadak ini memicu peningkatan produksi asam lambung yang kemudian menimbulkan rasa perih, panas di dada, hingga sensasi terbakar di tenggorokan.

“Begitu buka, melihat makanan kayaknya semuanya pengin dimakan. Yang manis-manis dulu biasanya,” kata Irwan.

Ia menjelaskan bahwa karakteristik asam lambung sendiri memang sangat kuat. Dalam kondisi normal, asam tersebut berfungsi membantu proses pencernaan. Namun, ketika jumlahnya berlebihan, asam justru menjadi sumber iritasi.

Ilustrasi buka puasa. Jadwal dan bacaan doa buka puasa Asyuro yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram.Pexels/RDNE Stock project Ilustrasi buka puasa. Jadwal dan bacaan doa buka puasa Asyuro yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram.

Peran katup antara lambung dan kerongkongan

Dokter Irwan menjelaskan bahwa secara anatomi, lambung dan kerongkongan dipisahkan oleh sebuah katup yang berfungsi menahan asam agar tidak naik.

“Di antara lambung dan kerongkongan itu ada pintu, ada katup, supaya asam lambung tidak naik ke kerongkongan,” jelasnya.

Dalam kondisi normal, katup tersebut bekerja menjaga asam tetap berada di dalam lambung. 

Namun, tekanan yang meningkat akibat makan berlebihan, posisi tubuh setelah makan, atau produksi asam yang tinggi dapat membuat katup tidak bekerja optimal.

Akibatnya, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi panas.

“Kalau sampai naik, kerongkongan itu nggak tahan dengan pH yang rendah, maka rasanya panas terbakar, itu yang disebut heartburn,” kata dr. Irwan.

Pola makan yang berubah

Perubahan jam makan membuat lambung tetap memproduksi asam meski tidak selalu ada makanan yang dicerna. 

Lambung membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme baru ini. Dalam kondisi tersebut, sistem pencernaan bekerja lebih keras karena harus menyesuaikan produksi asam dengan waktu makan yang tidak lagi teratur. 

Jika adaptasi ini tidak diimbangi dengan pola makan yang tepat, keluhan lambung menjadi lebih mudah muncul.

Masalah akan makin berat ketika seluruh porsi makan disatukan saat berbuka puasa. Lambung yang sebelumnya kosong dalam waktu lama langsung menerima beban pencernaan dalam jumlah besar.

“Mentang-mentang enggak makan tiga kali, dijadikan satu semua. Itu justru memicu asam lambung,” kata dr. Irwan.

Atur strategi makan saat berbuka

Dokter Irwan menekankan pentingnya mengatur waktu dan porsi makan saat berbuka agar lambung tidak terbebani.

Ia menilai, makan besar sebaiknya tidak dilakukan terlalu dekat dengan waktu tidur karena perut masih membutuhkan waktu untuk mencerna makanan dengan optimal.

“Idealnya itu paling dua sampai jam lah. Makanya abis magrib, itu biasanya kan setelah salat, itu baru makan besar kan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan menunda makan besar hingga terlalu malam justru membuat perut masih penuh saat waktu istirahat. 

Kondisi ini dapat meningkatkan risiko asam lambung naik dan menimbulkan rasa tidak nyaman di dada maupun tenggorokan.

Dengan pengaturan waktu dan porsi makan yang lebih baik, dokter menilai risiko keluhan lambung saat puasa dapat ditekan, sehingga puasa tetap bisa dijalani dengan lebih nyaman.

Tag:  #mengapa #gerd #maag #sering #kambuh #saat #puasa #kata #dokter

KOMENTAR