Kisah Irfan Prasatya Aktif Lari Maraton di Usia 60, Saraf Kejepit Jadi Titik Balik
Irfan Prasatya (60) bersama sang istri (58) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.(dok. pribadi)
19:20
21 Januari 2026

Kisah Irfan Prasatya Aktif Lari Maraton di Usia 60, Saraf Kejepit Jadi Titik Balik

- Karyawan swasta Irfan Prasatya (60) mungkin tidak pernah membayangkan bahwa di usianya saat ini, ia justru aktif mengikut berbagai ajang lari.

Padahal, belasan tahun lalu, pria yang kini aktif menggunakan transportasi umum dan gemar intermittent fasting (IF) itu, sempat mengalami masa sulit akibat gangguan saraf serius. Kini, keseharian Irfan identik dengan gaya hidup aktif.

Ia memilih berjalan kaki, serta memanfaatkan transportasi umum seperti TransJakarta, MRT, dan JakLingko, untuk beraktivitas.

“Memang yang menjadi titik baliknya itu adalah ketika saya berumur 46 tahun, saya kena HNP (Hernia Nukleus Pulposus), saraf kejepit. Dipastikan enggak bisa jalan waktu itu, sampai harus pakai kursi roda, dan kemudian pakai tongkat,” ungkap Irfan saat dihubungi pada Selasa (20/1/2026).

Gaya hidup yang belum terlalu sehat

Sebelum terkena saraf kejepit, Irfan mengatakan bahwa gaya hidupnya sudah cukup sehat, tetapi tidak seperti sekarang ini.

Saat itu ia aktif berolahraga di gym, dengan lari seadanya, yaitu lari sejauh 1 kilometer dengan diselingi jalan santai. Namun, ia terpaksa berhenti karena terkena saraf kejepit.

Saraf kejepit jadi titik balik untuk hidup lebih sehat

Irfan Prasatya (60) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.dok. pribadi Irfan Prasatya (60) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.

Saraf kejepit sempat membuat Irfan sulit berjalan. Setelah fase kursi roda, ia masih harus menggunakan tongkat. Ia membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk kembali bisa beraktivitas dengan relatif normal.

Kondisi fisiknya saat itu juga tidak ideal. Berat badannya hampir menyentuh 90 kilogram dan sudah masuk kategori obesitas. Dokter sempat menyarankan operasi sebagai jalan keluar.

Namun, Irfan memilih jalur berbeda. Risiko operasi yang disampaikan kepadanya terasa terlalu besar, sehingga ia memutuskan fokus pada terapi dan perubahan gaya hidup.

“Tapi saya memilih untuk tidak operasi. Waktu itu dibilang 50-50, bisa sembuh bisa lumpuh. Wah ngeri, mendingan saya terapi saja,” kata dia.

Pilihan itu membawanya pada aktivitas fisik yang awalnya terasa sangat berat.

Belajar pulih lewat renang dan lari

Renang gaya bebas menjadi langkah pertama yang ia lakukan untuk memulihkan tubuhnya secara perlahan. Namun, karena Irfan lebih suka lari, ia beralih ke olahraga tersebut.

Irfan Prasatya (60) bersama sang istri (58) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.dok. pribadi Irfan Prasatya (60) bersama sang istri (58) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.

Aktivitas yang sebelumnya hanya ia lakukan sesekali, kini menjadi sarana pemulihan. Rasa sakit masih ada, bahkan terasa luar biasa di awal, tetapi ia memilih untuk tetap konsisten.

“Lari itu susah, sakitnya luar biasa. Tapi ya dihajar aja, terus hajar aja. Lama-lama kok berkurang, kok lama-lama jadi hilang,” tutur Irfan.

“Karena saya orangnya introvert, olahraga lari yang paling cocok buat saya. Jadi saya lari, lari, dan kemudian di umur 50 tahun, saya baru memutuskan untuk serius larinya. Saya tekuni karena saya pengin ikut race,” ucap Irfan.

Menurunkan 17 kilogram lewat Intermitten Fasting

Salah satu tantangan terbesar Irfan kala itu adalah berat badan. Dengan bobot hampir 90 kilogram, ia menyadari perlunya perubahan pola makan agar tubuhnya lebih ideal dan mampu menunjang aktivitas lari jarak jauh.

“Karena saya pengin ikut race, tapi berat badan saya waktu itu lumayan berat. Gimana nih caranya untuk bisa ideal? Akhirnya saya melakukan intermittent fasting. Alhamdulillah itu tiga bulan waktu itu, saya turun dari 89 ke 72 kilogram,” ungkap dia.

Irfan Prasatya (60) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.dok. pribadi Irfan Prasatya (60) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.

Tekadnya yang kuat untuk mengikuti ajang lomba lari, membuat Irfan cukup “gila” dalam menjalani IF. Ia pernah menjalani one meal a day, alias hanya makan sekali dalam sehari.

Perpaduan antara puasa dan lari rutin membuat berat badannya turun drastis hingga 17 kilogram. Seiring waktu, nyeri akibat saraf kejepit pun semakin memudar.

Menaklukkan lari jarak jauh pasca-saraf kejepit

Setelah dua tahun konsisten berlatih, Irfan memberanikan diri mengikuti lomba lari pertamanya saat sudah berusia 52 tahun.

“Saya ikut race dulu kan pengin ngukur saja. Dari hasil saya latihan rutin ini saya sudah bisa belum ikut yang 10K. Eh, ternyata finish 10K,” tutur dia.

Keberhasilan itu mendorongnya mencoba jarak yang lebih jauh. Ia mendaftar half marathon 21K di Bandung, dan kembali berhasil menyelesaikannya dengan catatan waktu yang menurutnya cukup baik untuk pria berusia 52 tahun dengan riwayat saraf kejepit.

“Setelah itu saya hajar semua yang namanya trail run dan sebagainya,” kata Irfan.

Menjual kendaraan pribadi demi naik transportasi umum

Irfan Prasatya (60) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.dok. pribadi Irfan Prasatya (60) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.

Gaya hidup aktif Irfan tidak berhenti di lintasan lari. Sejak 2016, ia mulai lebih sering berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum.

“Di Jakarta kan jalan kaki lumayan. Naik turun tangga halte Transjakarta, MRT. Itu saya anggap sebagai latihan juga buat otot-otot kaki saya. Jadi saya lebih banyak pakai transportasi umum,” ucap Irfan.

Keputusan besar ia ambil pada 2020. Irfan menjual mobilnya dan memilih hidup tanpa kendaraan pribadi.

“Akhirnya sampai sekarang saya enggak punya mobil, enggak punya motor. Benar-benar pakai transportasi umum,” ungkap dia.

Bagi Irfan, semakin banyak bergerak justru membuat tubuhnya semakin terasa ringan dan sehat.

“Justru malah sembuhnya itu saraf kejepit adalah dengan berlari secara serius, ditambah dengan puasa intermitten. Berat badan menyusut banyak, saraf kejepitnya memudar sakitnya,” kata Irfan.

“Ternyata, semakin kita banyak bergerak, semakin insha Allah penyakit-penyakit itu menjauh karena kita akan aktif bergerak,” lanjut dia.

Lari sebagai gaya hidup, bukan prestasi

Irfan Prasatya (60) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.dok. pribadi Irfan Prasatya (60) yang masih aktif berolahraga lari, bahkan sampai menjual kendaraan pribadi supaya bisa berjalan kaki sambil memanfaatkan transportasi umum.

Meski telah menyelesaikan banyak lomba lari, Irfan tidak menganggap dirinya istimewa. Ia justru sering bertemu pelari lain yang usianya jauh lebih senior, bahkan di atas 70 tahun, dan tetap mampu menyelesaikan lari dengan senyum.

“Yang lebih senior dari saya banyak. Umur 70 tahunan, umur 75 tahun,” tutur dia.

Baginya, lari di usia matang adalah soal menikmati proses, bersenang-senang, dan menjaga tubuh tetap aktif. Bukan tentang podium atau kecepatan, melainkan tentang bertahan hingga garis akhir.

Kini, di usia 60 tahun, Irfan masih rutin berlatih lari dan berjalan kaki. Istrinya yang berusia 58 tahun juga menerapkan gaya hidup yang sama dengan Irfan.

Saat ini, Irfan tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti Sydney Marathon, salah satu ajang lari bergengsi dunia.

“Gaya hidup kami ya begitu, menikmati hidup aja. Apalagi yang saya cari selain sehat,” tutupnya.

Tag:  #kisah #irfan #prasatya #aktif #lari #maraton #usia #saraf #kejepit #jadi #titik #balik

KOMENTAR