Gastritis akibat Stres, Ketika Tekanan Emosi Menyerang Lambung
Ilustrasi(FREEPIK)
09:35
21 Januari 2026

Gastritis akibat Stres, Ketika Tekanan Emosi Menyerang Lambung

- Emosi dan lambung memiliki hubungan yang cukup erat. Rasa takut, stres, cemas, bahagia, hingga emosi yang intens, dapat memengaruhi kerja lambung. Salah satu dampak yang bisa muncul adalah gastritis akibat stres (stress-induced gastritis).

Dosen Gastroenterologi di UinCamillus, Profesor Giovannia Leonetti, menjelaskan, gastritis akibat stres adalah peradangan pada lapisan lambung yang disebabkan oleh stres dan kecemasan.

"Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti kesulitan dalam pekerjaan, perubahan gaya hidup, masa belajar yang intens, serta masalah emosional, keluarga, dan kesehatan,” ujar Leonetti.

Ketika stres dan kecemasan berada pada tingkat yang sangat tinggi, produksi cairan pencernaan yang bersifat asam meningkat.

Pada saat yang sama, jumlah lendir dan prostaglandin yang berfungsi melindungi lapisan lambung, justru menurun.

"Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tetapi sangat mengganggu dan dapat berdampak besar pada kualitas hidup penderitanya," ucap Leonetti.

Dengan kata lain, stres menjadi penyebab gastritis karena kecemasan menciptakan kondisi hormonal yang meningkatkan produksi asam lambung, sehingga memicu nyeri, kembung, asam, dan sensasi terbakar di perut.

Apa bedanya dengan rasa panas di dada dan perut kembung?

Gastritis

Leonetti menjelaskan, nyeri lambung merupakan salah satu gejala yang paling sering muncul. Keluhan ini dapat dirasakan sebagai nyeri tajam, kram, rasa berat di perut, hingga gangguan pencernaan, dan sering kali disertai gejala lain.

Penyebabnya juga beragam, mulai dari gangguan di lambung, usus, hingga organ lain di rongga perut.

Sensasi panas di dada

“Rasa panas di dada atau ulu hati (pirosis) adalah sensasi nyeri di bagian atas perut yang disebabkan oleh peningkatan produksi asam,” kata dia.

“Keluhan ini sering dikaitkan dengan gejala lain seperti sendawa dan regurgitasi, yaitu naiknya cairan atau makanan dari lambung ke kerongkongan, bahkan hingga ke mulut, yang dapat menimbulkan rasa terbakar di tenggorokan dan mulut. Ini adalah gejala yang dapat memiliki banyak penyebab berbeda," lanjut Leonetti.

Perut kembung

Sementara itu, perut kembung ditandai oleh dua gejala utama, yakni pembengkakan perut dan rasa nyeri.

Biasanya, rasa penuh dan kembung di perut bagian atas bersifat sementara dan akan mereda dengan sendirinya setelah proses pencernaan selesai.

“Namun, jika rasa penuh tersebut disertai nyeri menusuk yang menetap, hal ini bisa berkaitan dengan kondisi fungsional dan/atau organik pada saluran pencernaan. Dalam kasus seperti ini, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat,” ujar Leonetti.

Jika tidak ditangani, Leonetti menuturkan bahwa gastritis dapat berkembang menjadi refluks gastroesofageal dan tukak lambung.

Kemudian adalah perdarahan lambung, gangguan penyerapan zat besi dan vitamin B12, serta menimbulkan rasa tidak nyaman secara menyeluruh.

Siapa saja yang lebih berisiko?

Ada kelompok tertentu yang lebih rentan mengalami gastritis akibat stres. Salah satunya adalah mereka yang memiliki pekerjaan dengan ritme sangat padat dan tengat waktu mepet.

Selanjutnya adalah individu yang mengalami masalah emosional dengan pasangan, penderita penyakit kronis, atau mereka yang akan menjalani prosedur medis yang rumit.

"Orang yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi kesehatan serius, serta individu yang menunggu hasil pemeriksaan klinis penting atau ujian akademik maupun pekerjaan," kata Leonetti.

Bagaimana cara mencegah dan mengobatinya?

Leonetti menyarankan untuk mengonsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi sering, dan mengunyah makanan dengan baik.

"Ini mempermudah pencernaan dan mengurangi waktu makanan berada di lambung, serta mengelola stres dengan memilih aktivitas fisik yang menenangkan seperti yoga,” kata dia.

Dalam kondisi tertentu dan atas anjuran dokter, penggunaan antasida dapat membantu menetralkan asam lambung dan meredakan nyeri dengan cepat.

Selain itu, obat penekan sekresi asam lambung seperti proton pump inhibitor (PPI) juga dapat digunakan untuk mengurangi produksi asam oleh sel lambung.

Makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari

Beberapa jenis makanan dan minuman diketahui dapat memperparah kondisi lambung. Makanan manis dan berlemak, ikan berlemak, keju berlemak, serta penggunaan bumbu dan rempah yang terlalu kuat, sebaiknya dibatasi.

Mengonsumsi daging berlebihan juga sebaiknya dihindari untuk sementara waktu. Untuk minuman, teh, kopi, dan minuman berkarbonasi juga perlu dihindari.

Hal yang sama berlaku untuk makanan cepat saji, buah asam seperti lemon, jeruk mandarin, jeruk, citron, nanas, kismis, delima, serta buah kering yang kaya lemak dan protein.

Tag:  #gastritis #akibat #stres #ketika #tekanan #emosi #menyerang #lambung

KOMENTAR