Membaca Broken Strings Picu Reaksi Emosi, Ini Cara Tenangkan Diri
Tangkapan layar buku Broken Strings Aurelie Moeremans di akun Instagram pribadinya @aurelie. Saat membaca Broken Strings Aurelie Moeremans bikin emosi naik, tubuh justru perlu ditenangkan dulu.(Instagram/@aurelie)
18:35
15 Januari 2026

Membaca Broken Strings Picu Reaksi Emosi, Ini Cara Tenangkan Diri

Membaca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans memicu reaksi emosional pada sebagian pembaca.

Psikolog menegaskan bahwa saat emosi muncul tiba-tiba, tubuh perlu ditenangkan lebih dulu sebelum pikiran bisa diajak bekerja dengan jernih. Upaya mengatur pikiran justru sering tidak efektif ketika tubuh masih berada dalam kondisi tegang.

Penjelasan ini disampaikan psikolog Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi.

Ketika kisah Broken Strings membuat tubuh siaga

Buku Broken Strings mengisahkan pengalaman personal Aurelie Moeremans menghadapi relasi toksik, grooming, dan tekanan emosional sejak usia remaja, sebagaimana diberitakan Kompas.com sebelumnya.

Kisah tersebut dibaca banyak orang karena membuka sisi gelap relasi yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka.

Di tengah proses membaca, sebagian pembaca mengaku merasakan reaksi fisik seperti napas memendek, dada terasa berat, atau tubuh mendadak tegang.

Kondisi ini kerap muncul sebelum pembaca sempat memahami emosi apa yang sedang dirasakan.

Kenapa pikiran sulit ditata saat tubuh tegang

Ilustrasi depresi. Saat membaca Broken Strings Aurelie Moeremans bikin emosi naik, tubuh justru perlu ditenangkan dulu.freepik.com Ilustrasi depresi. Saat membaca Broken Strings Aurelie Moeremans bikin emosi naik, tubuh justru perlu ditenangkan dulu.

Menurut Yustinus, reaksi tersebut terjadi karena tubuh lebih dulu masuk ke mode waspada. Dalam kondisi ini, sistem saraf bekerja lebih cepat dibandingkan pikiran rasional.

“Kalau tubuh masih tegang, pikiran sulit diajak bekerja,” ujar Yustinus dalam wawancara dengan Kompas.com, Rabu (13/1/2026).

Hal inilah yang membuat sebagian orang merasa sudah mencoba berpikir logis, tetapi emosi tetap terasa berat.

Tubuh harus aman sebelum pikiran tenang

Yustinus menjelaskan bahwa langkah pertama saat merasa terpicu adalah membantu tubuh keluar dari kondisi ancaman.

Ketika tubuh mulai merasa aman, pikiran baru bisa mengikuti dan memproses emosi dengan lebih jernih. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dibandingkan memaksa diri menata pikiran di tengah ketegangan fisik.

Cara sederhana menenangkan tubuh

RAP Penjelasan Psikolog Yustinus Joko Dwi Nugroho soal dampak buku Broken Strings Aurelie Moeremans.

Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk menenangkan tubuh.

Salah satunya adalah teknik pernapasan four-six breathing, dengan menarik napas selama empat detik dan menghembuskannya selama enam detik secara perlahan.

Teknik grounding juga dapat membantu tubuh kembali ke kondisi aman dengan menyadari lingkungan sekitar melalui pancaindra. Cara ini memberi sinyal pada tubuh bahwa situasi saat ini tidak berbahaya.

Yustinus mengatakan aktivitas fisik ringan sering kali lebih membantu dibandingkan memaksa diri berpikir positif.

Berjalan sebentar, minum minuman hangat, atau sekadar mengubah posisi tubuh dapat membantu menurunkan ketegangan.

“Tubuh butuh bukti bahwa ia aman, bukan hanya diyakinkan lewat pikiran,” katanya.

Menurut Yustinus, menghentikan membaca atau mengambil jeda bukanlah tanda kelemahan. Langkah tersebut justru merupakan bentuk perlindungan diri.

“Healing bukan soal seberapa kuat menahan emosi, tetapi seberapa bijak menjaga diri,” ujar Yustinus.

Ia menegaskan bahwa menenangkan tubuh lebih dulu merupakan fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental.

Tag:  #membaca #broken #strings #picu #reaksi #emosi #cara #tenangkan #diri

KOMENTAR