Tak Dilibatkan, Israel Mata-matai Tim Negosiasi Trump Terkait Iran
Pemerintahan PM Israel Benjamin Netanyahu diduga memata-matai tim negosiasi Donald Trump terkait Iran.(AFP/JIM WATSON)
19:54
7 Juni 2026

Tak Dilibatkan, Israel Mata-matai Tim Negosiasi Trump Terkait Iran

Intelijen Amerika Serikat melaporkan adanya dugaan operasi mata-mata Israel terhadap sejumlah pejabat tinggi yang terlibat dalam upaya diplomasi Presiden Donald Trump terkait Iran.

Menurut laporan yang dikutip The Telegraph, Minggu (7/6/2026), beberapa anggota tim negosiasi yang diduga dipantau Israel termasuk Steve Witkoff selaku negosiator utama Trump, Elbridge Colby yang merupakan pejabat kebijakan tertinggi Pentagon, serta Michael DiMino, penasihat senior kebijakan Timur Tengah.

Israel disebut berupaya mendapatkan informasi mengenai strategi negosiasi Washington dan perubahan sikap Trump dalam mencari kesepakatan jangka panjang dengan Teheran.

Baca juga: Ejek Aktivis dan Dukung Penghapusan Palestina, 2 Menteri Israel Dilarang Masuk Irlandia

Dugaan tersebut muncul meski selama perang berlangsung, AS dan Israel tetap menjalin kerja sama militer yang erat. Para perwira Israel disebut masih bekerja bersama mitra mereka di Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) dan berbagi informasi operasional.

Level ancaman kontraintelijen Israel naik

Kekhawatiran tersebut tercantum dalam penilaian Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) yang juga melibatkan badan intelijen militer lain serta Badan Kontraintelijen dan Keamanan Pertahanan AS.

Laporan itu disebut telah menaikkan tingkat ancaman kontraintelijen Israel dari kategori “tinggi” menjadi “kritis”, level tertinggi yang digunakan dalam penilaian tersebut.

Dilaporkan New York Times, penilaian itu menyebut Israel kini menjadi kekhawatiran kontraintelijen yang lebih besar bagi AS dibandingkan sekutu Amerika lainnya, bahkan dibandingkan beberapa negara musuh.

Pejabat AS mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa satu-satunya sekutu AS yang mendekati tingkat ancaman Israel adalah Korea Selatan, dan itu hanya dalam kondisi tertentu.

Salah satu pejabat senior Amerika bahkan menggambarkan skala pengumpulan intelijen Israel selama pemerintahan kedua Trump “tidak terkendali".

Dugaan operasi intelijen berlangsung selama bertahun-tahun

Laporan DIA itu disebut dibuat setelah staf pertahanan AS di Israel menemukan perangkat lunak yang mampu menyadap komunikasi telah diam-diam dipasang di ponsel mereka.

Dokumen tersebut juga mencantumkan sejumlah dugaan insiden spionase selama beberapa tahun terakhir. Pada 2021, pejabat intelijen militer Israel disebut tertangkap sedang memasang perangkat pendengar di markas DIA.

Tahun lalu, pejabat dari Shin Bet, badan keamanan dalam negeri Israel, juga diduga mencoba menempatkan alat penyadap di dalam kendaraan Dinas Rahasia AS.

Laporan itu menyebut insiden kontraintelijen mulai meningkat pada akhir 2024 ketika pemerintahan Joe Biden saat itu menekan Israel untuk membatasi operasi militernya di Gaza. Aktivitas tersebut disebut berlanjut pada 2025 ketika pemerintahan Trump membahas berbagai pilihan untuk menghadapi Iran.

Baca juga: Bayi 7 Bulan Meninggal Ditembak Pasukan Israel, Sang Ibu Terluka

Israel membantah tuduhan

Sejumlah pejabat Amerika yang dikutip surat kabar tersebut mengatakan beberapa tokoh senior pemerintahan Trump membuat diri mereka lebih rentan terhadap pengawasan karena menggunakan ponsel pribadi untuk urusan resmi, bepergian dengan pesawat pribadi, atau menolak bantuan staf kedutaan AS saat melakukan kunjungan luar negeri.

Juru bicara Kedutaan Besar Israel di Washington membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya “sepenuhnya salah”.

“Israel tidak mengumpulkan intelijen mengenai pihak-pihak Amerika, apalagi pejabat pemerintah AS,” kata juru bicara tersebut.

“Upaya pengumpulan intelijen Israel ditujukan kepada musuh-musuhnya, bukan sekutunya. Klaim sebaliknya adalah akibat informasi yang keliru atau bermotif politik.”

Pentagon menolak berkomentar mengenai laporan tersebut. Sementara itu, Gedung Putih mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Seluruh cerita ini salah dan bersumber dari seseorang yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.”

Perbedaan sikap soal Iran

Warga mengibarkan bendera Iran dalam kampanye mendukung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei di Teheran, 29 April 2026.AFP Warga mengibarkan bendera Iran dalam kampanye mendukung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei di Teheran, 29 April 2026.

Ketegangan antara AS dan Israel meningkat ketika Trump mendorong jalur diplomasi dengan Teheran, sementara Israel memilih pendekatan yang lebih agresif untuk semakin melemahkan pemerintahan Iran dan pengaruhnya di kawasan.

Sebuah jajak pendapat Institut Demokrasi Israel bulan lalu menemukan bahwa 64 persen warga Yahudi Israel dan 48,5 persen warga Arab Israel menilai mengakhiri perang Iran tidak sejalan dengan kepentingan keamanan Israel.

Survei yang sama juga menemukan bahwa 51 persen warga Israel menilai pemerintahan AS memiliki pengaruh lebih besar terhadap keputusan pertahanan Israel dibandingkan pemerintah Israel sendiri.

Baca juga: Pentagon Siaga Tinggi, Intel Israel Makin Sering Sadap Pejabat Senior AS

Tag:  #dilibatkan #israel #mata #matai #negosiasi #trump #terkait #iran

KOMENTAR