Elite Rusia Mulai Bosan dengan Perang, Tak Yakin Putin Bisa Menang atas Ukraina
Bendera Ukraina berkibar di gedung Reichstag yang dihuni Bundestag (majelis rendah Jerman), menjadi latar belakang foto senjata tank Rusia T-34 ketika dipamerkan untuk Peringatan Perang Soviet di Distrik Tiergarten, Berlin, Senin (24/2/2025).(AFP/RALF HIRSCHBERGER)
10:30
4 Juni 2026

Elite Rusia Mulai Bosan dengan Perang, Tak Yakin Putin Bisa Menang atas Ukraina

Kebuntuan Rusia dalam perang di Ukraina mulai terlihat semakin jelas hingga memunculkan suara-suara dari kalangan elite Moskwa yang secara terbuka menyerukan agar konflik tersebut diakhiri.

Sejumlah tokoh garis keras Rusia bahkan menyatakan bahwa Moskwa mungkin tidak memiliki kemampuan untuk meraih kemenangan mutlak atas Ukraina.

Salah satu tokoh tersebut adalah Oleg Tsaryov, mantan anggota parlemen Ukraina yang melarikan diri ke Rusia pada 2014.

Baca juga: Intel Rusia Dilaporkan Makin Agresif Curi Teknologi Barat, Eropa Ungkap Modusnya

Dalam unggahan di Telegram bulan lalu, sebagaimana dikutip The Wall Street Journal, Rabu (3/6/2026), Tsaryov memperingatkan bahwa propaganda Rusia telah menciptakan ilusi berbahaya mengenai kemenangan yang pasti atas Ukraina.

“Cepat atau lambat, dunia ilusi dan kenyataan ini harus bertabrakan. Dan sekarang hal itu terjadi dalam bentuk yang paling menyakitkan," tulis Tsaryov.

Tokoh garis keras lain, sejarawan sekaligus mantan pejabat Kremlin Aleksey Chadaev, juga memperingatkan bahwa melanjutkan perang saat ini bukan hanya menuju “ketidakmenangan”, tetapi juga bisa berujung pada kekalahan besar.

Ia menyerukan jeda agar Rusia dapat mengatur ulang kekuatannya untuk menghadapi tahap konflik berikutnya.

Sebagian elite sebut tujuan Putin sulit terwujud

Vasily Kashin, direktur Center for Comprehensive European and International Studies di Higher School of Economics Moskwa, bulan lalu menerbitkan tulisan yang banyak diperbincangkan di jurnal kebijakan luar negeri utama Rusia.

Ia berpendapat Ukraina akan tetap menjadi negara yang anti-Rusia dan pro-Barat, terutama setelah ratusan ribu warga Ukraina tewas atau mengalami luka berat akibat perang.

Menurut Kashin, tujuan awal Putin untuk memasang pemerintahan yang bersahabat dengan Moskwa di Kyiv kini sudah tidak realistis.

Ia juga menyinggung perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dengan mengatakan bahwa eskalasi besar seperti pembunuhan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky serta kepemimpinan militer dan sipil Ukraina kemungkinan justru akan melahirkan generasi pemimpin Ukraina yang “lebih aktif, ambisius, dan radikal”.

Kashin juga menilai Rusia tidak memiliki kepentingan untuk menghancurkan potensi teknologi dan manusianya demi mengejar “tujuan-tujuan imajiner” di medan perang.

Perdebatan internal Rusia makin terbuka

Pandangan tersebut belum menjadi suara mayoritas. Akademisi garis keras Rusia Sergey Karaganov tetap berulang kali mengancam penggunaan senjata nuklir terhadap Barat jika Ukraina tidak menyerah.

Namun, sejumlah analis Rusia mengatakan, pendekatan yang lebih pragmatis mulai mendapat dukungan di beberapa bagian Kremlin, termasuk dari wakil kepala staf Putin, Sergey Kiriyenko, badan intelijen luar negeri SVR, serta kelompok ekonomi yang ingin kembali pada kondisi yang lebih normal.

Direktur Carnegie Russia Eurasia Center di Berlin, Alexander Gabuev, mengatakan bahwa sebagian elite Rusia mulai menyadari bahwa perang berkepanjangan tidak banyak meningkatkan posisi Moskwa dalam perundingan.

“Sepertinya pada tahun kelima perang, sebagian orang mulai menyadari bahwa melanjutkan perang satu atau dua tahun lagi tidak secara serius memperbaiki posisi negosiasi Rusia. Semakin jelas bagi mereka bahwa sudah waktunya untuk mengakhirinya,” kata Gabuev.

Baca juga: Drone Rusia Hantam Negara NATO, F-16 Langsung Terbang

“Diskusi di kalangan elite mengenai hal ini mulai dinormalisasi, dengan berbagai catatan soal loyalitas. Namun apakah Putin menyadari bahwa dia berada di jalan buntu, dan bahwa perang ini kini memberikan hasil yang semakin kecil? Kita tidak tahu. Tidak ada yang menunjukkan bahwa dia telah mengubah pikirannya.”

Mantan Menteri Luar Negeri Ukraina Pavlo Klimkin mengatakan, sifat negara Rusia yang sangat termiliterisasi membuat Putin kecil kemungkinan mendengarkan suara-suara yang menyerukan perubahan.

“Perang adalah cara hidup rezim ini; ini seperti mengendarai sepeda—jika mereka berhenti, mereka jatuh,” ujar Klimkin.

Putin tingkatkan serangan

Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa hari terakhir justru meningkatkan serangan rudal terhadap Kyiv dan kota-kota Ukraina lainnya.SPUTNIK/ALEXANDER KAZAKOV via AFP Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa hari terakhir justru meningkatkan serangan rudal terhadap Kyiv dan kota-kota Ukraina lainnya.

Di tengah munculnya keraguan dari sebagian elite, Putin dalam beberapa hari terakhir justru meningkatkan serangan rudal terhadap Kyiv dan kota-kota Ukraina lainnya.

Serangan besar-besaran pada Senin malam menewaskan 22 warga sipil dan melukai lebih dari 100 orang, menjadi salah satu serangan paling berdarah dalam perang tersebut.

Dalam pertemuan dengan pejabat keamanan beberapa jam sebelumnya, Putin mengatakan, Ukraina harus menghadapi “kualitas baru dari seluruh konflik”.

Peningkatan serangan itu disebut sebagai balasan atas serangan drone Ukraina yang menurut Rusia menewaskan mahasiswi di asrama sebuah kampus pendidikan di wilayah Starobilsk yang diduduki Rusia. Ukraina menyatakan, serangan itu menargetkan pangkalan tim drone Rusia.

Sementara itu, serangan drone jarak menengah Ukraina dalam beberapa hari terakhir dilaporkan mengganggu logistik Rusia di wilayah pendudukan.

Serangan tersebut menyasar truk bahan bakar dan konvoi militer di jalur yang menghubungkan Rusia dengan Semenanjung Crimea serta pangkalan di garis depan.

Pengamat militer Rusia juga mulai memperingatkan kemungkinan serangan besar Ukraina. Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina disebut lebih berhasil melakukan serangan jarak jauh ke wilayah Rusia, termasuk serangan terhadap terminal minyak di St Petersburg.

Wakil Menteri Pertahanan Jerman Nils Schmid mengatakan, kampanye drone Ukraina menunjukkan potensi kerusakan besar yang dapat ditimbulkan Kyiv terhadap Rusia.

“Hal itu mungkin membutuhkan waktu untuk menyebar ke masyarakat dan pengambilan keputusan politik di Moskwa karena mereka memiliki kendali otoriter yang kuat terhadap populasi dan rezim yang relatif bersatu dalam mengejar perang,” kata Schmid.

Di sisi lain, kelompok garis keras Rusia berusaha membatasi penyebaran pandangan yang lebih pragmatis.

Sebuah artikel yang banyak dibicarakan di media pro-Kremlin Moskovski Komsomolets bahkan dihapus setelah membahas bagaimana kekalahan Rusia dalam perang masa lalu pernah membawa perubahan dan kemakmuran bagi rakyat.

Baca juga: AS Disebut Mau Tempatkan Senjata Nuklir Dekat Rusia, Incar Wilayah Ini

Tag:  #elite #rusia #mulai #bosan #dengan #perang #yakin #putin #bisa #menang #atas #ukraina

KOMENTAR