Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Berapa Kurs ''Wajar'' untuk Ekonomi Indonesia?
- Nilai tukar atau kurs rupiah yang mencetak rekor terlemah sepanjang masa menimbulkan kekhawatiran dari seluruh pihak terkait dampaknya terhadap aspek ekonomi sehari-hari.
Nilai tukar rupiah yang mencapai level psikologis Rp 18.000 per dollar AS juga memunculkan pertanyaan terkait berapa kurs yang dapat disebut wajar atau aman untuk ekonomi saat ini.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menjelaskan, pada dasarnya tidak ada angka kurs yang disebut aman atau ideal untuk nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
"Tidak ada angka sakral, tapi ada beberapa referensi rentang wajar," kata dia kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
Ia menjabarkan, pada 2025, beberapa pejabat dan ekonom menilai level kurs 16.500–17.000 per dollar AS masih sesuai fundamental dan batas normal.
Baca juga: Kurs Rupiah Anjlok ke Rp 18.000, Ekonom Minta Pemerintah Kembalikan Kepercayaan Investor
Kondisi tersebut harus dicapai dengan catatan pelemahan sejalan dengan pergerakan mata uang negara berkembang (emerging markets) lain, bukan pencilan (outlier) sendiri.
Outlier sendiri kerap diartikan sebagai titik data yang nilainya menyimpang atau berbeda secara ekstrem dari sebagian data lainnya.
"Naiknya (kurs) ke area Rp 18.000 menandakan rupiah sudah bergerak jauh di luar rentang yang sebelumnya dianggap wajar, sehingga risiko ke inflasi, biaya impor, dan kepercayaan investor meningkat tajam," urai dia
Nanang menjelaskan secara konsep, kurs yang dianggap aman untuk ekonomi bisa dipandang sebagai kurs yang depresiasinya moderat bertahap juga sejalan dengan terms of trade serta diferensial inflasi.
Dengan demikian, harapannya sektor riil punya waktu menyesuaikan kurs tersebut.
Nilai tukar yang aman dapat dipandang sebagai kondisi ketika rasio utang valas korporasi atau pemerintah masih dapat diatur (manageable).
Kondisi kurs yang aman juga tercemin dari neraca transaksi berjalan (current account) yang tidak tertekan berlebihan.
Baca juga: Rupiah Terpuruk ke Rekor Terendah, Cek Kurs Dollar AS di Bank-bank Besar
Selanjutnya, Nanang menyebut kurs bisa dibilang aman ketika ekspektasi inflasi tetap terjangkar dan tidak memicu flight to safety lebih besar.
Flight to safety kerap diartikan sebagai fenomena yang terjadi saat investor memindahkan modal secara massal dari aset berisio seperti saham ke aset yang lebih aman (safe haven) akibat meningkatnya ketidakpastian global.
Arus modal asing keluar jadi faktor penetu
Bank Indonesia (BI) mencatat arus modal asing keluar atau capital outflow portofolio baik saham, Surat Berharga negara SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) senilai puluhan triliun rupiah sejak awal tahun.
"Ini diakui sebagai salah satu faktor utama tekanan rupiah menuju level psikologis tinggi," ucap dia.
Sebelumnya ia bilang, Dewan Ekonomi Nasional sempat menekankan pelemahan rupiah mencerminkan tekanan pada neraca pembayaran karena arus modal keluar.
Kondisi tersebut juga dipicu kombinasi faktor global seperti indeks dollar AS DXY yang menguat, suku bunga tinggi global, dan faktor geopolitik.
Tak hanya itu, faktor domestik juga turut ambil peran dengan adanya persepsi risiko domestik seperti konsistensi kebijakan serta ketidakpastian fiskal atau politik.
Dari sisi mekanisme, Nanang bilang, ketika investor asing melepas SBN atau saham dan keluar ke dollar AS, permintaan valuta asing (valas) jangka pendek melonjak.
Kondisi itu jadi lebih menantang ketika terjadi di tengah neraca perdagangan yang tidak super?kuat dan harga komoditas yang tinggi. Sedikit catatan, beberapa proyeksi menyebut harga minyak dapat mencapai lebih dari 100 dollar AS per barrel.
"Efek ke rupiah menjadi sangat signifikan," ungkap Nanang.
Bank Indonesia perlu ambil langkah cepat
Secara resmi, Bank Indonesia (BI) menyatakan terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Hal itu dilakukan dengan beberapa instrumen operasional yang sudah dan bisa terus mereka pakai.
BI juga dapat melakukan intervensi valas dan pasar obligasi. BI menyebut akan menguatkan intervensi di pasar off?shore melalu Non-Deliverable Forward (NDF) dan on?shore melalui spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder.
"Untuk menahan depresiasi yang terlalu tajam dan volatilitas berlebihan," ucap dia.
Nanang menyebut, BI juga memperketat tata kelola transaksi valas. Saat ini, transaksi di atas 50.000 dollar AS wajib ada dokumen underlying. Aturan ini untuk mencegah spekulasi murni yang menambah permintaan (demand) valas tanpa dasar transaksi riil.
"Ini adalah first line of defense yang bisa dan harus terus dilakukan sebelum RDG formal, karena sifatnya taktis dan bisa dieksekusi harian," tutup Nanang.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 18.049 per dollar AS pada Kamis (4/6/2026), melemah 82 poin atau 0,45 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp 17.967 per dollar AS.
Posisi tersebut sekaligus menjadi level penutupan rupiah terlemah sepanjang sejarah.
Di kawasan Asia, rupiah termasuk mata uang dengan pelemahan terbesar. Ringgit Malaysia mencatat depresiasi 0,61 persen, disusul rupiah 0,45 persen, won Korea Selatan 0,27 persen, dollar Taiwan 0,12 persen, dollar Singapura 0,08 persen, dan rupee India 0,05 persen.
Tag: #rupiah #cetak #rekor #terlemah #berapa #kurs #wajar #untuk #ekonomi #indonesia