Perang Memanas, Iran Tuding AS Langgar Gencatan Senjata
Personel Angkatan Laut Iran saat melakukan latihan militer Velayat-90 di Selat Hormuz pada 1 Januari 2012.(JAMEJAMONLINE/EBRAHIM NOROOZI via AFP)
07:13
27 Mei 2026

Perang Memanas, Iran Tuding AS Langgar Gencatan Senjata

- Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat (AS) telah melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah melancarkan serangan udara di dekat Selat Hormuz. 

Ketegangan baru di salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia ini dikhawatirkan dapat mempersulit upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan, serangan AS di Provinsi Hormozgan pada Selasa (26/5/2026) dini hari merupakan pelanggaran berat terhadap gencatan senjata yang berjalan hampir tujuh minggu.

Baca juga: Mojtaba Khamenei Sebut Israel Sedang Mendekati Hari-hari Terakhirnya

Di sisi lain, pihak Washington berkilah bahwa operasi militer tersebut bersifat defensif, sebagaimana dilansir Reuters

Militer AS mengeklaim serangan itu sengaja ditargetkan pada situs-situs rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau di jalur perairan tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi perdagangan global yang biasanya dilalui seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. 

Sejak perang dimulai, volume lalu lintas kapal di selat ini merosot tajam.

Kendati demikian, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melaporkan bahwa ada 25 kapal tanker minyak dan kapal lainnya yang diizinkan melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir. 

Selama ini, Teheran menerapkan kebijakan selektif dengan memberikan prioritas pelayaran bagi kapal-kapal dari negara sekutu dekat mereka.

Baca juga: Trump Desak Iran Akur dengan Israel, Mojtaba Khamenei Balas Ancaman Keras

Negosiasi buntu

Meskipun situasi di lapangan kembali memanas, upaya diplomasi di balik layar sebenarnya masih terus diupayakan. 

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkapkan bahwa diperlukan waktu beberapa hari untuk merundingkan kesepakatan guna menghentikan konflik ini secara total.

Sebelum serangan terjadi, kedua belah pihak sempat menunjukkan sinyal positif terkait draf kesepakatan awal untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz.

Melalui kesepakatan awal ini, para negosiator nantinya akan diberikan waktu selama 60 hari untuk menyelesaikan isu-isu yang jauh lebih pelik, termasuk program nuklir Iran. 

Baca juga: AS-Iran di Ambang Damai, Israel Justru Ketakutan

Berdasarkan keterangan sumber dari pihak Iran, fase awal ini ditargetkan mampu menghentikan pertempuran di semua lini serta memulihkan lalu lintas kapal dalam waktu 30 hari.

Namun, masalah finansial menjadi batu sandungan terbesar. 

Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dilaporkan baru saja kembali dari Qatar untuk menuntut pencairan dana Iran yang dibekukan sebesar 24 miliar dollar AS sebagai syarat kesepakatan awal. 

Kantor berita Iran, Fars, menyebutkan bahwa isu dana beku ini menjadi poin krusial terakhir yang menghambat tercapainya kesepakatan.

Baca juga: Trump Ajak Iran Gabung Abraham Accords Usai Perang Berakhir, Satu Aliansi dengan Israel

Saling ancam

Merespons serangan udara AS, Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa mereka memiliki hak penuh untuk melakukan aksi balasan. 

Mereka mengeklaim unit pertahanan udaranya telah menembak jatuh satu drone milik AS, serta melepaskan tembakan ke arah satu drone lain dan sebuah jet tempur AS yang dinilai melanggar wilayah udara Iran di kawasan Teluk.

Ketegangan politik ini pun diperparah oleh pernyataan keras dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei. 

Dalam pesan tertulis di saluran Telegram-nya menyambut musim haji tahunan, Khamenei menyerukan perlawanan global.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga memanfaatkan momentum krisis ini untuk mendesak negara-negara Arab dan Muslim lainnya, termasuk Arab Saudi, untuk menandatangani Abraham Accords guna menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. 

Baca juga: Usai Perang Berakhir, Trump Mau Negara-negara Muslim Akur dengan Israel

Namun, Arab Saudi secara konsisten menolak ajakan tersebut sebelum adanya peta jalan yang jelas bagi pembentukan negara Palestina.

Di sisi lain, Iran juga mendesak agar pertempuran di Lebanon segera dihentikan. 

Gencatan senjata yang sempat disepakati pada pertengahan April lalu gagal membendung konflik bersenjata antara militer Israel dan kelompok Hizbullah yang disokong Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pihaknya justru akan terus mengintensifkan serangan. 

Dia menuturkan, Israel saat ini tengah memperdalam operasinya di Lebanon dan bergerak dengan "pasukan besar di darat.

Baca juga: Lewat Medsos, Trump Paksa Arab Saudi dan Qatar Damai dengan Israel

Tag:  #perang #memanas #iran #tuding #langgar #gencatan #senjata

KOMENTAR