AS Diam-diam Bantu Kapal Tanker Sebrangi Selat Hormuz
- Menurut pejabat militer Amerika Serikat, Angkatan Laut AS diam-diam membantu penyeberangan kapal melalui Selat Hormuz.
Dikutip dari The Wall Street Journal, Selasa (26/5/2026), para pejabat mengatakan, sebuah kapal tanker super Yunani yang bermuatan 2 juta barrel minyak mentah dipandu oleh Angkatan Laut AS saat melintasi jalur air di lepas pantai Oman.
Kapal tersebut terdampar di Teluk Timur Tengah sejak awal Maret dan sekarang sedang menuju India untuk mengirimkan muatannya.
Para pejabat menuturkan, Angkatan Laut AS berencana membantu sekitar selusin kapal, termasuk kapal tanker super dan kapal kontainer, untuk melintasi jalur air tersebut dalam beberapa hari mendatang.
Baca juga: Kurang Dilibatkan di Negosiasi AS-Iran, Netanyahu Rapat Bersama Menteri Pertahanan
Bukan bagian "Project Freedom"
Namun, seorang juru bicara Komando Pusat AS (Centcom) menuturkan, pihaknya tidak melanjutkan "Project Freedom".
Menurutnya, pemberitaan yang mengatakan proyek itu akan dilanjutkan kembali adalah tidak akurat.
Awal bulan ini, AS berupaya memandu kapal-kapal melalui koridor pelayaran vital sebagai bagian dari inisiatif yang disebut "Project Freedom".
Namun, proyek yang diinisiasi oleh Presiden AS Donald Trump itu cepat dihentikan setelah 36 jam.
Media pemerintah Iran pun mengejak langkah Trump yang menghentikan "Project Freedom" di Selat Hormuz itu sebagai kegagalan.
"Trump menghentikan misi tersebut setelah pasukan Amerika gagal mengamankan jalur pelayaran kapal tanpa izin Iran,” bunyi laporan Press TV milik pemerintah Iran awal bulan ini.
Baca juga: AS Disebut Akan Kurangi Bantuan Militer ke NATO dalam Situasi Krisis
Alasan "Project Freedom" dibatalkan
Saat itu, Trump menegaskan, keputusan itu diambil dengan alasan hampir mencapai kesepakatan dengan Iran.
Namun, laporan NBC News menyebut adanya alasan sebenarnya, yang berkaitan dengan Arab Saudi, di balik penundaan Project Freedom.
Pasalnya, Trump disebut mengejutkan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk ketika mengumumkan “Project Freedom” melalui media sosial.
Ia bahkan disebut baru berbicara dengan para pemimpin Qatar setelah operasi sudah berjalan.
Sebagai respons, Arab Saudi dikabarkan memberi tahu AS bahwa mereka tidak mengizinkan pesawat militer Amerika beroperasi dari Pangkalan Udara Prince Sultan di tenggara Riyadh maupun melintas di wilayah udara Saudi untuk mendukung operasi tersebut.
Trump sempat melakukan percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namun, pembicaraan itu dilaporkan gagal mencapai solusi.
Situasi itu memaksa Trump menghentikan “Project Freedom” demi memulihkan akses militer AS ke wilayah udara penting di kawasan.
Tag: #diam #diam #bantu #kapal #tanker #sebrangi #selat #hormuz