Iran Sebut AS Langgar Gencatan Senjata Selama 48 Jam Terakhir, Ancam Perdamaian?
- Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Amerika Serikat (AS) melanggar gencatan senjata selama 48 jam terakhir di provinsi Hormozgan selatan Iran.
Tuduhan tersebut disampaikan dalam sebuah pernyataan pada Selasa (26/5/2026), tanpa menyebutkan insiden spesifiknya.
"Tentara teroris AS, yang melanjutkan tindakan ilegal dan tidak beralasan sejak gencatan senjata ... telah, dalam 48 jam terakhir, melakukan pelanggaran berat terhadap gencatan senjata di wilayah Hormozgan," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP.
Teheran menganggap Washington bertanggung jawab atas semua konsekuensi yang timbul dari tindakan agresif dan tidak beralasan tersebut.
Baca juga: Presiden Iran Minta Akses Internet Dibuka Kembali
Kementerian tersebut juga mengatakan bahwa tindakan itu menunjukkan "kebencian dan kemunafikan" pemerintah AS terhadap Iran. Teheran tidak akan ragu untuk membela diri.
Sebelumnya pada Senin (25/5/2026), militer AS melakukan serangan di Iran selatan terhadap kapal-kapal yang mencoba memasang ranjau dan lokasi peluncuran rudal. AS menyebut serangan itu sebagai tindakan defensif.
Media Iran melaporkan pada Selasa pagi bahwa suara ledakan terdengar di Bandar Abbas di provinsi Hormozgan.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan telah menembak pesawat AS yang mencoba memasuki wilayah udara negara itu.
Baca juga: Iran Disebut Ingin Bebaskan Rp 427 T Aset Beku dalam Kesepakatan dengan AS
IRGC beri tanggapan tegas untuk pelanggaran gencatan senjata
Komandan Angkatan Udara IRGC, Seyed Majid Moosavi, mengatakan pihaknya siap merespons menyusul pelanggaran gencatan senjata AS selama perundingan perdamaian yang sedang berlangsung.
Dalam unggahannya di X, Moosavi mengkritik diplomasi yang sedang berlangsung dengan mengatakan “negosiasi dengan musuh hanyalah kerugian”.
Dia mengatakan angkatan udara, yang mengawasi program rudal balistik strategis dan drone Iran, akan selalu berwaspada.
“Sangat waspada, sepenuhnya siap untuk respons yang tegas dan cepat,” dan sedang menunggu perintah akhir dari panglima tertinggi.
Baca juga: Uni Eropa Paksa Iran Buka Selat Hormuz, Siapkan Sanksi Baru
Serangan AS jadi upaya untuk mendapatkan pengaruh
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman
Samir Puri, dosen tamu bidang studi perang di King's College London, mengatakan serangan terbaru AS di Iran selatan mungkin untuk mendapatkan pengaruh dalam perundingan mengenai Selat Hormuz
“Mengingat lokasi sebenarnya dari serangan itu, ini tepat di sebelah tempat Iran ingin mengendalikan Selat Hormuz,” kata Puri kepada Al Jazeera, Selasa.
“Salah satu interpretasi dari serangan-serangan ini adalah bahwa sebenarnya militer AS sedang menunjukkan bahwa Iran tidak akan mampu mengerahkan pasukan secara besar-besaran tepat di Selat Hormuz jika mereka ingin membentuk lembaga pengumpulan bea dan inspeksi serta hal-hal lainnya,” lanjutnya.
Baca juga: Selat Hormuz Mau Dibuka Setelah AS-Iran Damai, Bebas Biaya Transit
Baik Washington maupun Teheran, tambahnya, saling memberikan sinyal untuk memperkuat posisi dalam negosiasi.
“Kedua belah pihak memberikan sinyal niat, kemampuan, dan komitmen selama negosiasi ini, dan mereka menggunakan tindakan serta kata-kata. Terkadang mereka menggunakan tindakan sebagai pengganti kata-kata,” ujar Puri.
Dia juga menegaskan bahwa serangan tersebut menciptakan "situasi yang sangat genting" yang harus diatasi oleh para negosiator.
Tag: #iran #sebut #langgar #gencatan #senjata #selama #terakhir #ancam #perdamaian