AS-Iran di Ambang Damai, Israel Justru Ketakutan
- Amerika Serikat (AS) dan Iran kini membahas garis besar kesepakatan damai untuk mengakhir perang.
Bahkan, ketika armada AS menyerang kapal pemasang ranjau Iran di Selat Hormuz pada Senin (25/5/2026), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tetap optimistis bahwa perdamaian tinggal menghitung hari.
Di sisi lain, perkembangan situasi ini memicu gelombang kekhawatiran, kekecewaan, dan kemarahan yang meluas di Israel.
Baca juga: Selat Hormuz Mau Dibuka Setelah AS-Iran Damai, Bebas Biaya Transit
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Februari lalu.
Saat itu, keputusan Presiden AS Donald Trump menyerang Iran bersama Israel dipuji banyak pihak sebagai puncak kejayaan karier politik dan diplomatik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Namun, tiga bulan berlalu, rezim di Tehran rupanya masih kokoh berdiri.
Trump kini justru berbalik mengejar kesepakatan baru demi membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal-kapal tanker minyak.
Langkah ini dinilai mengorbankan kepentingan keamanan Israel. Kritik pedas dari dalam negeri Israel pun tak terhindarkan.
Baca juga: Meski Jet Tempur AS Hancurkan Kapal Iran, Menlu AS Optimistis Damai
Kolumnis Ben Caspit, dalam tulisannya di harian Ma'ariv, menyoroti kegagalan strategi Netanyahu.
Alih-alih menghancurkan program nuklir Iran seperti yang dijanjikan, dampak perang dan rencana gencatan senjata ini justru berisiko mempercepatnya.
"Kesepakatan yang muncul ini jauh lebih buruk daripada yang sebelumnya," tulis Ben Caspit.
Kekhawatiran ini diperparah oleh dampak gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selama perang berlangsung.
Di satu sisi, pembunuhan itu menyingkirkan sosok yang mendirikan program nuklir, sebagaimana dilansir The Guardian Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Trump Ajak Iran Gabung Abraham Accords Usai Perang Berakhir, Satu Aliansi dengan Israel
Namun di sisi lain, hal itu juga menghilangkan figur yang selama ini menahan Iran untuk tidak melangkah ke fase akhir pembuatan senjata nuklir.
Kecaman serupa datang dari Nahum Barnea melalui harian Yedioth Ahronoth.
Dia menyebut strategi Netanyahu sebelum dan selama operasi militer, yang dinamai Operation Epic Fury oleh AS dan Operation Roaring Lion oleh Israel, telah berakhir gagal total.
"Israel sepenuhnya bergantung pada keputusan presiden Amerika yang tidak menentu, hampa, dan putus asa," tulis Barnea.
"Semakin besar kemarahan, semakin besar raungan, semakin besar pula kekalahannya. Jika perjanjian yang sedang dibicarakan saat ini ditandatangani, kerusakannya akan jauh lebih buruk. Miliaran dana yang akan mengalir ke kantong rezim tersebut akan berdampak sangat luas," lanjutnya.
Baca juga: Nyaris Damai, AS Malah Bombardir Kapal Penebar Ranjau Iran
Israel dikucilkan dari meja negosiasi
Menurut laporan The New York Times, posisi Israel dalam pusaran diplomasi ini sangat memprihatinkan.
Tel Aviv tidak hanya dikucilkan dari meja perundingan antara AS dan Iran, tetapi juga sama sekali tidak diberi tahu mengenai perkembangan prosesnya.
Akibat keterbataaan informasi ini, pemerintah Israel terpaksa mengandalkan sekutu regional dan jaringan intelijen mereka sendiri untuk memata-matai pergerakan para pemimpin Iran.
Garis besar kesepakatan yang digodok tim Trump diprediksi akan jauh lebih longgar ketimbang Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) era Barack Obama pada 2015, yang dulu sempat ditentang habis-habisan oleh Netanyahu di Washington DC.
Baca juga: Negosiasi Mandek Lagi, AS dan Iran Masih Berselisih soal Ini
Selain masalah nuklir, hal-hal krusial lain yang mengancam Israel, seperti jaringan proksi regional Iran dan arsenal rudal balistik yang sempat menghujani Israel, dilaporkan sama sekali tidak masuk dalam pembahasan meja perundingan.
Sejak awal perang, elite keamanan Israel sebenarnya telah memperingatkan Netanyahu.
Ambisinya mengejar perubahan rezim di Iran demi mendongkrak popularitas menjelang pemilu Oktober berisiko mengorbankan aset kebijakan luar negeri paling vital, dukungan bipartisan di AS.
Kini, jajak pendapat di AS mengonfirmasi bahwa rusaknya warisan hubungan bilateral tersebut menjadi dampak yang paling membekas bagi Israel.
Baca juga: Rencana Netanyahu Bisa Berantakan jika AS Damai dengan Iran, Ini Sebabnya
Merosotnya dukungan publik
Tangkapan layar dari video militer Israel memperlihatkan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menghancurkan infrastruktur Hizbullah di Lebanon pada 27 April 2026, di tengah masa gencatan senjata kedua kubu.
Rencana kesepakatan ini langsung memicu keretakan di internal pemerintahan Israel.
Anggota koalisi sayap kanan kini mendesak Netanyahu untuk bersikap keras menentang Trump.
Terutama terkait kesepakatan gencatan senjata parsial dengan Hizbullah di Lebanon yang diterapkan akibat tekanan Washington.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melayangkan protes kerasnya melalui media sosial pada Senin.
Baca juga: Trump Kejar Damai dengan Iran, Tanda Tak Percaya Netanyahu Lagi?
"Sudah waktunya bagi perdana menteri untuk menggebrak meja Trump dan memberi tahu dia bahwa kita akan kembali berperang di Lebanon," tulis Ben-Gvir.
Di tingkat akar rumput, sentimen publik Israel juga mulai bergeser.
Berdasarkan survei dari Israel Democracy Institute, dukungan masyarakat terhadap keputusan perang awalnya sangat kuat karena dipicu oleh ketakutan atas ancaman Iran dan sekutunya.
Namun, dukungan terhadap kinerja pemerintah terus merosot seiring konflik yang berlarut-larut tanpa ada tanda-tanda tumbangnya rezim Teheran.
Segera setelah gencatan senjata diumumkan, lebih dari sepertiga warga Yahudi Israel menyatakan sangat atau agak tidak puas dengan penghentian perang.
Baca juga: Bukan Tarif Tol, Iran Sebut Pungutan di Selat Hormuz untuk Biaya Keamanan
Sementara itu, hanya sekitar seperempatnya yang mengaku senang.
Ariel Kahana, kolumnis untuk harian berbahasa Ibrani Israel Hayom, mengakui bahwa situasi akhir ini tidak menguntungkan bagi posisi Israel di mata dunia.
"Intinya adalah Iran dapat dan sedang menunjukkan gambaran kemenangan kepada dunia karena fakta bahwa mereka masih berdiri tegak," tulis Kahana.
"Trump, untuk saat ini, belum memiliki gambaran tandingan serupa untuk ditunjukkan. Itu bukan kabar yang sangat baik bagi rakyat Israel," tambahnya.
Baca juga: Apa Jadinya Jika Perang Iran Benar-benar Berakhir?