Dari Vietnam hingga Iran, Kenapa Strategi Perang AS Dinilai Kerap Gagal?
Amerika Serikat memiliki militer paling kuat di dunia, namun dinilai kerap gagal mencapai kemenangan strategis dalam berbagai perang besar sejak Perang Dunia II.
Penilaian itu muncul dalam laporan Politico, Selasa (26/5/2026), yang menyoroti konflik-konflik yang melibatkan Washington, mulai dari Vietnam, Afghanistan, Irak, hingga Iran.
Laporan tersebut menyebut hanya Perang Teluk 1991 yang dianggap berhasil secara jelas, sementara perang lainnya dinilai berujung pada kebuntuan, kekalahan, atau menciptakan masalah strategis baru bagi AS.
Baca juga: Trump Ajak Iran Gabung Abraham Accords Usai Perang Berakhir, Satu Aliansi dengan Israel
Kekuatan militer dinilai tidak cukup
Masalah utama AS disebut bukan terletak pada kekuatan militernya, melainkan pada cara Washington menentukan tujuan perang.
Politico mengutip pemikir strategi militer Prusia, Carl von Clausewitz, yang mendefinisikan perang sebagai “kelanjutan politik dengan cara lain.” Namun dalam praktiknya, AS dinilai lebih dulu menggunakan kekuatan militer sebelum memiliki tujuan politik yang jelas.
“Washington memperlakukan perang bukan sebagai kelanjutan kebijakan, melainkan kegagalan kebijakan — pilihan terakhir ketika diplomasi runtuh, sering kali tanpa hasil politik yang jelas,” tulis laporan tersebut.
Akibatnya, AS disebut berulang kali mengerahkan kekuatan besar tanpa memiliki gambaran pasti mengenai bentuk kemenangan yang ingin dicapai.
Trump dan Perang Iran
Perempuan Iran membawa potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam kampanye mendukung dirinya di Enghelab Square, Teheran, 9 Maret 2026.
Presiden AS Donald Trump disebut sebagai contoh paling jelas dari pendekatan tersebut dalam konflik Iran.
Trump mengatakan, AS akan mendapatkan kesepakatan “baik” atau “menghancurkan mereka sampai berkeping-keping.” Namun, pendekatan itu dinilai tidak akan menghasilkan keduanya.
Diplomasi dijalankan oleh utusan yang dianggap “tidak memahami diplomasi maupun fisika nuklir,” sebelum akhirnya diikuti kampanye pengeboman besar-besaran terhadap Iran.
Tiga kelemahan strategi perang AS
Politico menyebut ada tiga kelemahan utama dalam strategi perang AS.
Pertama, Washington dinilai lebih dulu memilih kekuatan militer lalu berharap hasil politik mengikuti. Laporan itu mencontohkan operasi “Rolling Thunder” di Vietnam, “Shock and Awe” di Irak, hingga “Epic Fury” di Iran sebagai bentuk keyakinan bahwa penghancuran besar-besaran akan membuat lawan menyerah.
“Itu tidak pernah berhasil,” tulis laporan tersebut.
Kedua, AS disebut terlalu sering menetapkan tujuan perang yang sangat luas, seperti mengganti rezim, membangun demokrasi, atau mengakhiri terorisme.
Ketiga, para pengambil keputusan di Washington dinilai terlalu percaya bahwa kekuatan militer dapat mengalahkan motivasi lawan yang lebih besar.
“Amerika mungkin memiliki kekuatan, tetapi pihak lain memiliki kemauan,” tulis laporan itu, merujuk pada Vietcong, Taliban, hingga kelompok revolusioner Iran.
Baca juga: Negosiasi Mandek Lagi, AS dan Iran Masih Berselisih soal Ini
Vietnam hingga Irak jadi sorotan
Seorang tentara AS mengamati para pekerja membongkar salah satu patung dada perunggu raksasa Saddam Hussein di bekas istana kepresidenan di Baghdad, 2 Desember 2003. Koalisi pimpinan AS terlibat dalam pemindahan empat kepala perunggu besar pemimpin Irak yang digulingkan, Saddam Hussein, yang menghiasi bekas istana kepresidenannya di Baghdad, yang sekarang menjadi markas pengawas AS, Paul Bremer. Koalisi mengalokasikan 35.000 dolar untuk pemindahan kepala-kepala tersebut yang menggambarkan Saddam yang berwajah tegas dan mengenakan helm sebagai pejuang heroik Arab, Saladin.
Sebelumnya, militer AS menilai Vietnam kalah secara taktis dalam Serangan Tet 1968, tetapi hal itu justru menghancurkan dukungan publik AS terhadap perang.
Di Afghanistan, AS disebut berhasil cepat menggulingkan Taliban, tetapi tidak memiliki rencana jelas mengenai pemerintahan setelahnya.
Sementara di Irak, keputusan membubarkan tentara Irak disebut membuat ratusan ribu pria bersenjata kehilangan pekerjaan dan akhirnya memicu pemberontakan.
“Pemberontakan yang muncul setelah itu seharusnya tidak mengejutkan siapa pun, tetapi ternyata mengejutkan semua orang,” tulis laporan tersebut.
Iran disebut bisa jadi kesalahan strategis besar
Dalam konflik Iran, strategi AS dan Israel dinilai hanya berfokus pada upaya mengguncang kepemimpinan Iran tanpa rencana jelas mengenai langkah berikutnya.
Laporan tersebut juga menyebut tidak ada rencana jelas untuk mengantisipasi kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz.
Konflik Iran bahkan disebut berpotensi menjadi “kesalahan strategis terburuk” AS sejak Perang Dunia II.
Sebagai solusi, perang seharusnya dijalankan sesuai doktrin yang pernah dikembangkan mantan Menteri Pertahanan AS Caspar Weinberger dan mantan Ketua Kepala Staf Gabungan Colin Powell.
Doktrin tersebut menekankan bahwa perang hanya boleh dilakukan untuk kepentingan vital, dengan tujuan yang jelas dan realistis, dukungan publik yang kuat, strategi keluar yang pasti, serta menjadi pilihan terakhir setelah diplomasi gagal.
“AS terus kalah bukan karena militernya lemah, tetapi karena terus memilih instrumen sebelum menentukan tujuan,” tegas laporan tersebut.
Baca juga: Nyaris Damai, AS Malah Bombardir Kapal Penebar Ranjau Iran
Tag: #dari #vietnam #hingga #iran #kenapa #strategi #perang #dinilai #kerap #gagal