Dulu Ditakuti, Kini Kekuatan Militer Kuba Merosot Hadapi AS
– Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Kuba kembali memanas.
Situasi panas ini terjadi seiring meningkatnya tekanan politik dan militer Washington terhadap pemerintah komunis di Havana.
Sebagai bagian dari kampanye penekanan ini, militer AS bahkan telah mengerahkan kapal induk ke kawasan Karibia.
Baca juga: Mau Tiru Taktik di Venezuela, Trump Incar Runtuhkan Kuba
Di satu sisi, berdasarkan laporan intelijen rahasia yang dikutip oleh Axios, Kuba dikabarkan telah mengakuisisi 300 drone.
Drone tersebut diduga dipersiapkan untuk menyerang pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo atau Key West, Florida, jika negara tersebut diserang.
Di sisi lain, Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menetapkan Kuba sebagai ancaman luar biasa bagi keamanan nasional karena menyelaraskan diri dengan musuh Washington.
Baru-baru ini, AS juga mendakwa mantan Presiden Kuba berusia 94 tahun, Raul Castro, atas tuduhan pembunuhan serta menjatuhkan sanksi baru terhadap kepemimpinan militer Havana.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut menuduh Kuba menampung pangkalan intelijen Rusia dan China.
"Memiliki negara gagal yang berjarak 90 mil dari pesisir kita dan dijalankan oleh teman-teman musuh kita," kata Rubio, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Jumat (22/5/2026).
Rubio menyebut peluang keberhasilan negosiasi yang sedang berlangsung saat ini tidak tinggi.
Baca juga: Trump Mau Tumbangkan Rezim Kuba, Cari “Pengkhianat” dari Internal Pemerintah
Sengaja dibocorkan
Namun, pakar studi pertahanan dari Florida International University, Brian Fonseca, menilai isu drone sengaja dibocorkan untuk membenarkan potensi invasi militer AS jika negosiasi gagal.
"AS membocorkan hal itu agar Kuba tampak seperti ancaman yang sudah di depan mata," ujar Fonseca.
Dia menegaskan Kuba tidak akan mengambil langkah fatal.
"Militer Kuba tidak akan pernah meluncurkan serangan preventif terhadap AS. Itu akan menjadi tindakan bunuh diri."
Menanggapi potensi agresi tersebut, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyampaikan peringatan keras bahwa tindakan militer terhadap negaranya akan memicu pertumpahan darah dengan konsekuensi yang tak terhitung.
Sebelumnya, dia juga bersumpah akan berjuang dan mati demi membela tanah airnya jika AS menyerang.
Baca juga: Terjepit Tekanan AS, Kuba Siap Buka Pintu Negosiasi dengan Washington
Kekuatan militer Kuba merosot tajam
Di sisi lain, para pengamat menilai militer Kuba saat ini sudah sangat melemah.
Mantan pejabat tinggi pertahanan AS untuk Amerika Latin, Frank Mora, menyebut kekuatan Havana kini hanyalah bayang-bayang masa lalu.
"Kuba dahulu memiliki militer Dunia Pertama di negara Dunia Ketiga. Ini adalah cangkang dari cangkang dari apa yang pernah ada sebelumnya," kata Mora.
Menurutnya, Kuba tidak memiliki peluang untuk melawan AS.
Pada puncak Perang Dingin, Kuba memiliki lebih dari 200.000 tentara aktif dengan jet tempur MiG Soviet dan tiga kapal fregat.
Baca juga: AS Dakwa Eks Presiden Kuba Raul Castro, Sinyal Gulingkan Rezim?
Kini, jumlah personel aktifnya menyusut drastis menjadi 40.000 hingga 45.000 orang.
Mora mengungkapkan bahwa jet tempur mereka kini kemungkinan besar tidak layak terbang.
Bahkan, kapal angkatan laut pun tidak berfungsi, kecuali perahu-perahu kecil yang itu pun milik penjaga pantai.
Kondisi ini diperparah oleh krisis ekonomi menahun, kelangkaan bahan bakar akibat blokade minyak AS, dan pemadaman listrik massal yang menguras moral prajurit.
Mantan Direktur Senior Urusan Belahan Bumi Barat di Dewan Keamanan Nasional AS, Craig Deare, menyoroti rapuhnya kesiapan tentara Kuba.
Baca juga: Disebut Bersiap Serang AS, Kuba Dilaporkan Borong 300 Drone dari Rusia dan Iran
Fidel Castro dan anak buahnya di Sierra Maestra, Kuba.
"Mungkin senapan mereka berfungsi dan mungkin mereka memiliki peluru," ujar Deare.
"Tetapi ketika Anda menghadapi yang terbaik di dunia, Anda tidak memiliki peluang," lanjutnya.
Untuk menghadapi invasi, Kuba mengandalkan doktrin Perang Semesta sejak 1980, di mana warga sipil lansia berlatih menembak AK-47 dan para ibu memasang ranjau.
Namun, Profesor Studi Amerika Latin di US Army War College, Evan Ellis, menilai Kuba murni hanya bisa bertumpu pada strategi bertahan hidup menggunakan taktik gerilya.
"Ini akan bergantung pada seberapa lama mereka dapat bertahan dengan taktik gerilya," kata Ellis.
Menurutnya, strategi inti dari Partai Komunis Kuba adalah bertahan hidup.
Baca juga: Disebut Bersiap Serang AS, Kuba Dilaporkan Borong 300 Drone dari Rusia dan Iran
Tag: #dulu #ditakuti #kini #kekuatan #militer #kuba #merosot #hadapi