Bocor ke Publik, Telepon Trump Bikin PM Israel Panik dan Geram
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) saat bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) dalam jamuan makan malam di Ruang Biru, Gedung Putih, Washington DC 7 Juli 2025.(GETTY IMAGES NORTH AMERICA/ANDREW HARNIK via AFP)
18:12
21 Mei 2026

Bocor ke Publik, Telepon Trump Bikin PM Israel Panik dan Geram

- Hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan sempat memanas.

Ketegangan dipicu oleh pembicaraan via telepon yang berlangsung sengit mengenai arah kebijakan terhadap Iran. 

Keduanya bersitegang, apakah akan memilih jalur diplomasi atau melanjutkan perang.

Baca juga: Trump-Netanyahu Berdebat soal Iran, Keputusan Perang Ada di Tangan AS

Media yang berbasis AS, Axios, melaporkan bahwa percakapan telepon tersebut terjadi pada Selasa (19/5/2026).

Axios melaporkan, pembicaraan itu berjalan sangat sulit hingga membuat Netanyahu sangat panik dan geram.

"Rambut Bibi (panggilan Netanyahu) seperti terbakar setelah telepon itu," ujar seorang sumber, sebagaimana dilansir Axios via India Today, Kamis (21/5/2026).

Laporan tersebut juga diperkuat oleh pernyataan sumber lain yang menyebutkan bahwa Duta Besar Israel untuk Washington telah menyampaikan kekhawatiran Netanyahu ini kepada para anggota parlemen AS. 

Menurut sumber Axios, Netanyahu memang selalu merasa cemas selama tahap-tahap negosiasi sebelumnya, meskipun upaya-upaya terdahulu gagal menghasilkan kesepakatan.

"Bibi selalu khawatir," ungkap sumber tersebut.

Baca juga: AS-Israel Beda Sikap soal Iran: Trump Mau Negosiasi, Netanyahu Ingin Lanjut Perang

Perbedaan Trump vs Netanyahu

Inti dari ketegangan kedua pemimpin negara sekutu ini terletak pada perbedaan pandangan yang tajam mengenai masa depan perang Iran.

Dalam panggilan telepon itu, Trump mengungkapkan bahwa pihak mediator sedang mengupayakan sebuah letter of intent atau surat pernyataan kehendak yang akan ditandatangani oleh Washington dan Tehran.

Langkah ini bertujuan untuk mengakhiri perang secara resmi dan memulai periode negosiasi selama 30 hari. 

Agenda perundingan tersebut nantinya akan mencakup program nuklir Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Baca juga: Netanyahu Buka Suara Usai Aktivis Flotilla Diminta Berlutut dan Tangan Diikat

Namun, Netanyahu bersikap skeptis terhadap jalur negosiasi ini. 

Dia justru mendesak agar perang dilanjutkan demi menghancurkan kemampuan militer Iran secara lebih masif, sekaligus melemahkan rezim Tehran.

Di sisi lain, Trump memilih untuk memberikan kesempatan pada jalur diplomasi dalam beberapa hari ke depan, walau tetap menegaskan bahwa opsi militer tidak sepenuhnya hilang.

"Jika saya bisa menyelamatkan orang-orang dari kematian dengan menunggu beberapa hari, saya pikir itu adalah hal yang luar biasa untuk dilakukan," kata Trump.

Trump juga menyatakan bahwa perang bisa berlanjut "sangat cepat" jika AS tidak mendapatkan jawaban yang tepat dari Iran.

Baca juga: Kian Dekatnya UEA-Israel dan Teka-teki Kunjungan Rahasia Netanyahu

Posisi Iran dan AS

Saat berbicara di Akademi Penjaga Pantai pada Rabu (20/5/2026), Trump mengonfirmasi bahwa posisi AS dan Iran berada di titik penentuan.

"Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita akan maju dan menyelesaikannya (melalui perang) atau mereka akan menandatangani dokumen. Mari kita lihat apa yang terjadi," ujar Trump.

Dia menambahkan bahwa AS dan Iran saat ini berada di garis antara mencapai kesepakatan damai atau kembali memulai perang. 

Kendati sempat berselisih paham dengan Netanyahu mengenai Iran, Trump menegaskan bahwa hubungan mereka tetap baik dan koordinasi kedua negara tetap berjalan erat selama perang.

Baca juga: Iran Kecam Kunjungan Netanyahu ke UEA, Temuan Intelijen Teheran Makin Terbukti?

"Dia (Netanyahu) akan melakukan apa pun yang saya inginkan," papar Trump optimistis.

Sementara itu, pihak Iran memberikan respons yang cukup ketat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan, pembicaraan hanya akan berhasil jika AS menghentikan aksi "pembajakan" terhadap kapal-kapal Iran.

AS juga harus setuju untuk mencairkan dana Iran yang dibekukan. Selain itu, Iran juga menuntut agar Israel menghentikan perang di Lebanon.

Hingga saat ini, pihak Iran mengonfirmasi sedang meninjau proposal yang telah diperbarui oleh AS.

Baca juga: UEA Bantah Laporan Kunjungan Rahasia Netanyahu

Donald Trump tertangkap mikrofon saat meluapkan kekesalannya karena tidak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Tangkapan layar X @sentdefender Donald Trump tertangkap mikrofon saat meluapkan kekesalannya karena tidak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu menyatakan bahwa negosiasi terus berlanjut berdasarkan 14 poin proposal Iran. 

Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi bahkan telah berada di Tehran untuk kedua kalinya dalam sepekan demi membantu proses mediasi.

Meskipun demikian, sumber Axios menyebutkan belum ada tanda-tanda fleksibilitas dari pihak Tehran. 

Berdasarkan informasi dari dua pejabat Arab dan satu sumber Israel, Qatar baru-baru ini menyerahkan draf baru kepada AS dan Iran untuk menjembatani perbedaan dari proposal Pakistan sebelumnya. 

Baca juga: Netanyahu Tak Rela Perang Iran Berakhir, Tuntut Teheran Bereskan Ini Lebih Dulu

Namun, sumber lain membantah adanya draf terpisah dari Qatar dan menyebut Qatar hanya berusaha menyelaraskan perbedaan yang ada.

Tujuan utama dari draf terbaru ini adalah untuk mengamankan komitmen yang lebih konkret dari Iran terkait program nuklirnya.

Selain itu, komitmen yang lebih rinci dari AS mengenai pencairan dana Iran yang dibekukan secara bertahap. 

Walau begitu, ketidakpastian masih membayangi apakah Iran akan menerima draf baru ini atau mengubah posisinya secara signifikan.

Baca juga: Blak-blakan, Senator AS Sebut Trump dan Netanyahu Biang Keladi Konflik Timur Tengah

Tag:  #bocor #publik #telepon #trump #bikin #israel #panik #geram

KOMENTAR