Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat: Harga Pangan hingga Risiko PHK
Nilai tukar rupiah kembali tertekan menembus level Rp 17.600 per dollar AS. Apa yang Terjadi Jika Rupiah Tembus Rp 20.000 per Dollar AS? Ekonom Ungkap Jadi Posisi Terberat(ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
21:08
21 Mei 2026

Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat: Harga Pangan hingga Risiko PHK

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.

Pada hari ini, Kamis (21/5/2026), rupiah ditutup melemah 13,50 poin atau 0,08 persen ke level Rp 17.667 per dollar AS.

Kondisi pelemahan rupiah memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai penyebab pelemahan rupiah dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Rupiah hingga Rupee Tertekan, Asia Hadapi Dilema Ekonomi Baru

Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Dampak rupiah melemah.PEXELS/DEFRINO MAASY Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Dampak rupiah melemah.

Sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik.

Dampaknya dinilai tidak hanya terasa di pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, energi, hingga keberlangsungan usaha dan lapangan pekerjaan.

Harga pangan dinilai paling cepat terdampak

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Hani Perwitasari mengatakan fluktuasi nilai tukar rupiah dapat berdampak langsung terhadap stabilitas harga pangan nasional.

Menurut Hani, Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah komoditas seperti kedelai, gandum, dan bawang putih.

Baca juga: IHSG Hari Ini (21/5) Anjlok 3,54 Persen ke 6.094, Rupiah Ikut Tertekan

Ketika rupiah melemah, biaya impor pangan dan bahan baku produksi ikut meningkat sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.

“Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” ujar Hani, dikutip dari laman resmi UGM.

Ia menjelaskan dampak pelemahan rupiah terhadap harga pangan berbeda-beda tergantung jenis komoditas dan kondisi pasokan di dalam negeri.

Kondisi Pasar Kebalen di Kota Malang, Jawa Timur sepi pembeli menandakan daya beli masyarakat menurun saat harga kebutuhan pokok merangkak naik pada Kamis (21/5/2026).KOMPAS.com/ PUTU AYU PRATAMA SUGIYO Kondisi Pasar Kebalen di Kota Malang, Jawa Timur sepi pembeli menandakan daya beli masyarakat menurun saat harga kebutuhan pokok merangkak naik pada Kamis (21/5/2026).

Komoditas yang stoknya mencukupi cenderung lebih stabil, sementara komoditas yang sulit disubstitusi dan pasokannya terbatas lebih rentan mengalami kenaikan harga.

Baca juga: Rupiah Tertekan, Pasar Soroti Kebijakan Ekspor Komoditas lewat BUMN

“Komoditas yang tidak bisa disubstitusi dan memiliki keterbatasan pasokan akan lebih sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar,” kata Hani.

Selain memengaruhi harga pangan, pelemahan rupiah juga disebut berdampak terhadap biaya produksi sektor pertanian dan peternakan. Menurut Hani, sejumlah input produksi masih berkaitan dengan pasar global sehingga sensitif terhadap perubahan kurs.

“Kenaikan biaya input pada akhirnya akan meningkatkan total biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha,” ujarnya.

Kenaikan biaya produksi tersebut kemudian berpotensi diteruskan menjadi kenaikan harga barang di tingkat masyarakat.

Baca juga: Rupiah Tertekan, Kelas Menengah dan APBN Ikut Terdampak

Dollar AS menguat, rupiah tertekan

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring menguatnya dollar AS di tengah meningkatnya risiko inflasi global akibat lonjakan harga minyak dunia.

“Penguatan dollar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim.

Kenaikan harga energi membuat pasar memperkirakan bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Kondisi tersebut mendorong investor global memindahkan dana ke aset berbasis dollar AS yang dianggap lebih aman.

Baca juga: Industri Tekstil Tertekan Pelemahan Rupiah, Asosiasi Usulkan Kebijakan Ini

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga disebut memperburuk tekanan terhadap rupiah.

Ilustrasi uang dollar AS. FREEPIK/PVPRODUCTIONS Ilustrasi uang dollar AS.

Serangan drone di wilayah Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, ditambah memanasnya hubungan AS dan Iran, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.

Situasi tersebut mendorong harga minyak melonjak dan memperbesar tekanan inflasi global. Indonesia yang masih mengimpor minyak dalam jumlah besar ikut terkena dampaknya karena kebutuhan dollar AS meningkat.

Ibrahim juga menilai komunikasi pemerintah turut memengaruhi persepsi pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Imported inflation ancam daya beli masyarakat

Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Rijadh Djatu Winardi mengatakan pelemahan rupiah dapat memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.

Baca juga: Mampukah Suku Bunga 5,25 Persen Mendongkrak Rupiah?

Menurut dia, ketika rupiah melemah, harga barang impor dan bahan baku industri menjadi lebih mahal. Situasi tersebut meningkatkan biaya produksi perusahaan dan pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga barang konsumsi.

“Pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan energi,” ujar Rijadh.

Ia menjelaskan subsidi energi menjadi salah satu sektor yang paling terdampak karena masih bergantung pada komponen impor. Ketika rupiah melemah, beban subsidi pemerintah ikut meningkat sehingga mempersempit ruang fiskal negara.

“Tekanan kurs menambah beban subsidi energi dan utang luar negeri sehingga mempersempit fleksibilitas fiskal pemerintah,” kata Rijadh.

Baca juga: Rupiah Pagi Lanjut Menguat, IHSG Masih Loyo

Menurut dia, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap harga energi maupun biaya transportasi masyarakat.

Ketika biaya energi meningkat, biaya distribusi barang ikut naik dan berpotensi diteruskan menjadi kenaikan harga di tingkat konsumen.

Rijadh menilai tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.

Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Nilai tukar rupiah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Apa yang terjadi jika rupiah melemah. Kenapa rupiah melemah.PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Nilai tukar rupiah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Apa yang terjadi jika rupiah melemah. Kenapa rupiah melemah.

Kepercayaan investor ikut menentukan

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi kondisi fundamental ekonomi domestik dan tingkat kepercayaan investor.

Baca juga: Rupiah Melemah Tajam, Harga Pupuk Subsidi Nasional Ikut Naik?

“Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?” kata Bhima, Senin (18/5/2026).

Menurut Bhima, ketika kurs rupiah berfluktuasi tajam, investor asing cenderung menarik modal dari pasar saham dan obligasi Indonesia untuk mengurangi risiko.

Arus modal keluar tersebut kemudian memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Ia mengingatkan, apabila pelemahan berlangsung terus tanpa intervensi efektif, rupiah berpotensi menembus level Rp 20.000 per dollar AS.

Baca juga: Mengintip Sejarah Rupiah 1997-1998

“Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS,” ujar Bhima.

Bhima mengatakan pelemahan rupiah bukan hanya persoalan pasar keuangan, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat.

Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku, mesin industri, hingga energi menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga barang dan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.

“Pelaku usaha pasti melihat pelemahan kurs akan memengaruhi daya beli dan inflasi, sehingga mereka mulai merombak strategi bisnisnya di Indonesia,” katanya.

Baca juga: Rupiah Melemah Tajam, Harga Pupuk Subsidi Nasional Ikut Naik?

Dunia usaha hadapi tekanan biaya

Pelemahan rupiah juga mulai dirasakan sektor industri, terutama manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (14/4/2026).KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (14/4/2026).

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam mengatakan, sekitar 70 persen bahan baku sektor manufaktur masih berasal dari impor. Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah langsung memukul biaya produksi industri.

“Sekitar 70 persen bahan baku sektor manufaktur masih impor. Dalam setahun terakhir rupiah juga sudah terdepresiasi lebih dari 7 persen dan itu langsung memukul biaya produksi,” ujar Bob.

Menurut dia, dunia usaha saat ini menghadapi tekanan berlapis mulai dari kenaikan biaya logistik, gangguan rantai pasok global, hingga melemahnya daya beli masyarakat.

Baca juga: IHSG Ditutup Melemah ke 6.318, Rupiah Justru Menguat usai BI Rate Naik

Kondisi tersebut memaksa perusahaan melakukan efisiensi agar tetap bertahan di tengah kenaikan biaya produksi yang terus meningkat.

“Dunia usaha sekarang dipaksa melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas semaksimal mungkin karena kenaikan biaya sudah dua digit, sementara harga jual tidak bisa dinaikkan sembarangan,” katanya.

Bob mengatakan, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai membayangi sektor padat karya apabila tekanan biaya terus berlangsung.

Selain itu, pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya investasi dan pembiayaan perusahaan. Risiko kurs yang tinggi membuat bunga obligasi dan biaya pinjaman perbankan berpotensi naik.

Baca juga: Rupiah Sempat Rp 17.700 Per Dollar AS, BI Gencar Intervensi di Pasar Valas

Bhima mengatakan kondisi tersebut membuat investor menjadi lebih berhati-hati untuk menanamkan modal di Indonesia, terutama untuk investasi jangka panjang seperti pembangunan pabrik dan ekspansi industri.

“Kalau kondisi kurs terus berubah-ubah seperti sekarang, rencana bisnis investor juga ikut berubah. Akibatnya ada potensi capital flight, investor yang tadinya mau masuk akhirnya batal, sementara industri yang sudah ada bisa menunda ekspansi atau bahkan relokasi,” ucap Bhima.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, para ekonom menilai dampak pelemahan nilai tukar pada akhirnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, biaya transportasi, energi, hingga tekanan terhadap lapangan kerja dan aktivitas usaha.

Tag:  #dampak #pelemahan #rupiah #masyarakat #harga #pangan #hingga #risiko

KOMENTAR