Trump-Netanyahu Berdebat soal Iran, Keputusan Perang Ada di Tangan AS
- Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan percakapan telepon yang penuh perdebatan pada Selasa (19/5/2026) malam.
Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, Netanyahu mengecam pakta untuk mengakhiri perang dengan Iran, sedangkan Trump membela proses diplomatik.
Israel telah lama menyatakan keraguannya bahwa Iran akan mematuhi perjanjian apa pun untuk menghentikan program nuklirnya dan menahan diri dari serangan terhadap negara-negara di kawasan tersebut.
Netanyahu mengulangi poin-poin tersebut selama panggilan telepon dengan Trump.
Trump pun menegaskan, ia akan terus berupaya mencapai kesepakatan yang mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Baca juga: Iran Kini Incar Kabel Optik di Selat Hormuz, Apa yang Perlu Diketahui?
Netanyahu bersedia turuti Trump
Berbicara kepada wartawan pada Rabu (20/5/2026), Trump mengatakan, percakapannya dengan Netanyahu berjalan lancar.
"Dia (Netanyahu) akan melakukan apa pun yang saya inginkan," ujarnya, dikutip dari The Wall Street Journal, Rabu.
Ketika ditanya mengenai keputusan tentang Iran, Trump menjawab sudah di ambang batas.
“Kita harus mendapatkan jawaban yang tepat—jawaban itu harus benar-benar 100 baik,” katanya mengenai tanggapan Iran.
Gedung Putih dan kantor perdana menteri Israel tidak menanggapi permintaan komentar.
Baca juga: Trump Tahan Serangan ke Iran Usai Diperingatkan Negara Teluk soal Haji
Perbedaan pandangan AS-Israel
Namun, percakapan telepon tersebut menyoroti perbedaan kepentingan kedua sekutu itu saat mereka mempertimbangkan akhir perang.
Trump berupaya mengakhiri konflik yang merugikan secara ekonomi dan tidak populer di dalam negeri.
Sementara, Israel berharap dapat melanjutkan kampanye pengeboman yang terhenti sebelum gencatan senjata dan menimbulkan kerusakan yang lebih luas untuk melumpuhkan Iran.
Para pejabat di Timur Tengah menjelaskan, AS dan Israel dapat memperbarui serangan terhadap Iran dalam beberapa minggu mendatang.
Trump juga mengadakan pertemuan pada Senin (18/5/2026) dengan tim keamanan nasional AS untuk membahas opsi-opsi yang dimilikinya terkait Iran.
Baca juga: Negosiasi AS-Iran Berada di Ambang Batas, antara Damai atau Perang
Keputusan perang di tangan Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara kesehatan di South Court Auditorium, Gedung Putih, Washington DC, 18 Mei 2026.
Para pejabat AS menyatakan, semakin banyak konsensus di dalam pemerintahan Trump bahwa tekanan ekonomi terhadap Iran mulai membuahkan hasil.
Jika Trump memerintahkan serangan, targetnya bisa mencakup sektor energi dan infrastruktur untuk meningkatkan dampak ekonomi, menurut sumber itu.
Israel juga akan menjadi bagian dari serangan tersebut, yang mungkin juga mencakup pembunuhan lebih terarah, kata beberapa orang.
Namun, keputusan tersebut berada di tangan Trump.
Baca juga: Netanyahu Buka Suara Usai Aktivis Flotilla Diminta Berlutut dan Tangan Diikat
“Satu-satunya pertanyaan adalah apakah kita akan menyelesaikannya, apakah mereka akan menandatangani dokumen? Mari kita lihat apa yang terjadi,” kata Trump saat pidato wisuda kepada angkatan lulusan Akademi Penjaga Pantai AS, Rabu.
Israel berada dalam mode siaga tinggi untuk kemungkinan dimulainya kembali serangan.
Pasukan AS dan aset militer yang dibutuhkan masih ditempatkan di Israel, termasuk puluhan pesawat tanker yang diparkir di bandara internasional Ben Gurion dan pangkalan udara militer di Israel selatan.
Israel bergantung pada pesawat tanker AS untuk mengisi bahan bakar jet tempur dalam misi jarak jauh ke Iran.
Baca juga: AS Ancang-ancang Mulai Perang Lagi, Iran Tetap Tak Mau Tunduk
Negosiasi masih berlangsung
Serangkaian aktivitas diplomatik tingkat tinggi berlangsung minggu ini antara para mediator, termasuk Pakistan, untuk mencegah serangan baru terhadap Iran.
Para mediator melaporkan sedikit kemajuan dalam negosiasi di awal minggu, karena AS dan Iran masing-masing mendorong posisi keras tanpa tanda-tanda kompromi pada isu nuklir, Selat Hormuz, atau pencabutan sanksi.
Beberapa analis menilai, nota kesepahaman yang menunda isu-isu paling sulit dapat dicapai dengan beberapa kompromi mendasar.
Arab Saudi pada Rabu mendesak Iran untuk mencapai kesepakatan guna menghindari eskalasi lebih lanjut.
Sementara, Iran mengancam akan meningkatkan eskalasi dengan cara-cara baru dan memperluas perang di luar kawasan jika diserang lagi.
Tag: #trump #netanyahu #berdebat #soal #iran #keputusan #perang #tangan