Kunjungi China Setelah Trump, Putin Bisa Dapat Info Rahasia dari Xi Jinping
Dalam foto yang didistribusikan oleh badan pemerintah Rusia Sputnik ini, Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping selama pertemuan di Balai Agung Rakyat di Beijing pada 2 September 2025. Reuters menarik video CCTV yang menampilkan obrolan Xi Jinping dan Vladimir Putin yang bocor soal hidup abadi hingga 150 tahun, usai TV China memintanya dihapus.(AFP/POOL/SERGEY BOBYLEV)
15:54
19 Mei 2026

Kunjungi China Setelah Trump, Putin Bisa Dapat Info Rahasia dari Xi Jinping

- Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan tiba di Beijing pada Selasa (19/5/2026) untuk melangsungkan pertemuan puncak dengan pemimpin China, Xi Jinping. 

Kunjungan ini dilakukan hanya berselang beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambangi ibu kota China tersebut.

Pertemuan kedua pemimpin negara kekuatan nuklir ini bertujuan untuk memperdalam kemitraan strategis, sebagaimana dilansir AFP.

Baca juga: Ketika Xi Jinping Mencoba Mendefinisikan Ulang “Thucydides Trap”

Agenda utama pembicaraan diperkirakan akan berfokus pada kekuatan ekonomi China dan produksi minyak Rusia yang melimpah.

Kunjungan ini menandai perjalanan ke-25 Putin ke China. Kementerian Luar Negeri China menyatakan, kedua pemimpin telah bertemu puluhan kali dan sering bertukar pesan, termasuk ucapan ulang tahun.

Sejumlah pakar menilai waktu kunjungan yang berdekatan dengan kedatangan Trump memiliki signifikansi tersendiri. 

Pakar dari King's College London Natasha Kuhrt menyebutkan bahwa urutan kunjungan ini memungkinkan Xi untuk memberikan informasi kepada Putin mengenai hasil pertemuannya dengan Trump.

Baca juga: Drone Rusia Hantam Kapal China Sehari Sebelum Putin bertemu Xi Jinping

"Ini adalah pengingat bagi Washington bahwa ini adalah hubungan yang solid yang telah terjalin selama lebih dari 30 tahun," ujar Kuhrt.

Senada dengan hal tersebut, Zhao Long dari Shanghai Institutes for International Studies (SIIS) menuturkan bahwa citra hubungan yang kuat adalah prioritas bagi Putin.

"Moskwa menginginkan kepastian bahwa Rusia masih menempati tempat istimewa dalam kalkulasi strategis China," kata Zhao.

Putin sendiri menyatakan keyakinannya bahwa ia dan Xi akan melakukan segala kemungkinan untuk memperdalam kemitraan Rusia-China.

Baca juga: Iran Ternyata Sita Kapal China di Selat Hormuz Saat KTT Trump-Xi, Ada Apa?

Ketergantungan ekonomi

Meskipun hubungan keduanya mesra, data menunjukkan adanya ketimpangan ekonomi. 

Sejak invasi ke Ukraina, perdagangan bilateral melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan level tahun 2020.

Berdasarkan data Mercator Institute for China Studies (MERICS) sekitar 70 persen impor China dari Rusia terdiri dari bahan bakar mineral. 

Ekspor minyak Rusia ke China naik sekitar 30 persen sejak 2022.

China juga menyumbang lebih dari sepertiga impor Rusia dan lebih dari seperempat ekspornya pada tahun 2025.

Baca juga: KTT Trump-Xi Minim Hasil, Rivalitas AS-China Dinilai Masuk Babak Baru

Sebaliknya, impor dari Rusia hanya mencakup sekitar 5 persen dari total impor China pada periode yang sama.

Kendati ada ketimpangan, kedua negara yang berbagi perbatasan sepanjang 4.000 kilometer ini sepakat menentang tatanan dunia yang didominasi oleh AS dan Barat.

Di samping itu, sektor energi tetap menjadi tulang punggung kerja sama. 

Saat ini, kedua negara sedang mendiskusikan pembangunan pipa gas alam Power of Siberia 2 melalui Mongolia. 

Pipa ini menjadi alternatif darat yang penting bagi China, terutama setelah krisis Selat Hormuz pada akibat serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Baca juga: Di Balik Hangatnya KTT Trump-Xi, Mengapa Tak Ada Kesepakatan Besar?

Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saat  menghadiri Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat China yang digelar di Tian’anmen, Beijing, China, Rabu (03/08/2025).Dok. Sekretariat Presiden Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saat menghadiri Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat China yang digelar di Tian’anmen, Beijing, China, Rabu (03/08/2025).

Di sisi lain, Kuhrt mencatat bahwa Beijing tetap berhati-hati. 

"China cenderung lebih memilih diversitas pasokan. China tidak ingin terlalu bergantung pada Rusia untuk energi," tuturnya.

Terkait konflik di Ukraina, China tetap memposisikan diri sebagai pihak netral dan menyerukan dialog tanpa pernah mengecam pengiriman pasukan Rusia. 

Meski Trump sempat menyatakan keinginannya untuk melihat penyelesaian di Ukraina usai pertemuannya dengan Xi, Zhao Long menilai China tidak akan menjadi arsitek utama dalam proses perdamaian tersebut.

"Setiap pengaturan gencatan senjata yang konkret atau peta jalan politik pada akhirnya akan bergantung pada inisiatif dari para aktor utama yang terlibat," papar Zhao.

Baca juga: Pertemuan Puncak Trump-Xi, Upaya Menyulap Jurang Jadi Jembatan

Tag:  #kunjungi #china #setelah #trump #putin #bisa #dapat #info #rahasia #dari #jinping

KOMENTAR