Rusia Tuduh AS Ingin Kendalikan Pasar Energi Global
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov berbicara kepada wartawan selama konferensi pers selama sesi ke-76 Majelis Umum PBB, Sabtu, 25 September 2021 di markas besar PBB. Baru-baru ini, mewakili Rusia, dia memperingatkan Moldova untuk tidak menganggu tentara Rusia di Transdniestria.(AP PHOTO/MARY ALTAFFER)
18:36
13 Mei 2026

Rusia Tuduh AS Ingin Kendalikan Pasar Energi Global

- Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menuding pemerintahan Trump berupaya untuk merebut pengaruh atas pasar energi global.

Lavrov menyebut, Washington ingin memaksa perusahaan energi Rusia seperti Lukoil dan Rosneft keluar dari pasar internasional sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengendalikan aliran energi global.

Baca juga: Trump Marah Usai Media Bongkar Detail Internal Perang Iran, Minta Jaksa Bertindak

Amerika Serikat (AS) telah mengadopsi serangkaian dokumen doktrin, salah satunya menyatakan bahwa AS harus mendominasi pasar energi global,” katanya dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi RT India, Rabu (13/5/2026), dilansir Anadolu.

“Jadi tujuan mereka sangat jelas: mereka ingin mengendalikan setiap jalur pasokan energi yang signifikan,” lanjutnya.

Sebagai bagian dari strategi ini, menurut Lavrov, AS berupaya mengendalikan jalur transit energi utama, termasuk pipa Nord Stream yang rusak dan infrastruktur transit gas melalui Ukraina.

Baca juga: Buronan Skandal 1MDB yang Seret Hollywood, Kini Minta Pengampunan Trump

AS ingin menetapkan harga energi Eropa

Lavrov mengklaim bahwa rencana Washington juga mencakup upaya untuk membentuk skema penetapan harga dan pasokan energi Eropa di masa depan, kata Lavrov.

Jika jalur pipa Nord Stream digunakan kembali, harga energi di Eropa tidak lagi ditentukan melalui kesepakatan antara Rusia dan Jerman, melainkan oleh AS.

Hal ini menurut Lavrov berupaya untuk mendapatkan kendali yang lebih besar atas infrastruktur dan pasokan energi Eropa.

"Mereka ingin membelinya dengan harga sekitar sepersepuluh dari harga yang dibayarkan oleh orang Eropa," ujarnya.

Baca juga: Rusia Perbesar Pabrik Drone Bergaya Shahed, Pasok Senjata ke Iran

Pada saat yang sama, Lavrov mengatakan Moskwa menyambut baik kontak yang diprakarsai oleh Trump dan mencatat bahwa saluran komunikasi antara kedua negara tetap aktif, termasuk antara Kementerian Luar Negeri Rusia dan Departemen Luar Negeri AS.

“Namun, tidak ada yang terjadi dalam kehidupan nyata. Selain dialog rutin ini, yang merupakan hal normal dalam hubungan antar individu dan negara, semuanya mengikuti pola yang diprakarsai oleh Presiden (Joe) Biden,” katanya.

Lavrov juga mencatat bahwa sanksi yang diberlakukan di bawah pemerintahan AS sebelumnya tetap berlaku dan langkah-langkah tambahan yang menargetkan ekonomi Rusia telah diadopsi sejak saat itu.

Baca juga: Putin Tawarkan Bantuan, Sebut Rusia Siap Angkut Uranium Iran

Penutupan Selat Hormuz sangat berdampak bagi Eropa

Ilustrasi Selat Hormuz.Wikimedia Commons Ilustrasi Selat Hormuz.

Mengomentari ketegangan di Selat Hormuz, Lavrov memperingatkan bahwa ketidakstabilan di sekitar jalur perdagangan maritim utama dapat sangat memengaruhi pasar energi global.

"Eropa kemungkinan akan lebih terdampak dari wilayah lain oleh krisis di Selat Hormuz,” ujar Lavrov.

Selain itu, larangan impor gas dan minyak Rusia berarti beralih ke gas alam cair AS, yang jauh lebih mahal.

"Jalur pipa Nord Stream telah diledakkan. Sekarang kita menyaksikan agresi di Selat Hormuz,” pungkasnya

“Tersiar kabar bahwa Selat Bab-el-Mandeb juga bisa menjadi zona konfrontasi, dan kerusakan yang ditimbulkan pada pasar energi global akan tak terukur.”.

Tag:  #rusia #tuduh #ingin #kendalikan #pasar #energi #global

KOMENTAR