Jerman Kembangkan Sistem Prisai Anti-Drone untuk Antisipasi Sabotase
Ilustrasi drone terbang.(Freepik/diana.grytsku)
15:12
13 Mei 2026

Jerman Kembangkan Sistem Prisai Anti-Drone untuk Antisipasi Sabotase

- Perusahaan di Jerman sepakat berkolaborasi di bidang keamanan untuk mengembangkan perisai pertahanan anti-drone.

Produsen senjata akan bekerja sama dengan Deutsche Telekom meningkatkan upaya untuk melindungi infrastruktur penting di Jerman dari potensi tindakan sabotase.

Kedua perusahaan mengembangkan teknologi dengan menggabungkan sumber daya di bidang keamanan siber, sensor fisik, dan jaringan telekomunikasi negara tersebut.

Baca juga: Israel Kirim Pertahanan Udara Iron Dome ke UEA untuk Tahan Serangan Iran


“Ancaman yang ditimbulkan oleh drone sangat bersifat digital. Inilah mengapa pertahanan yang efektif membutuhkan kombinasi sensor, efektor, dan jaringan komunikasi yang aman,” kata CEO Rheinmetall, Armin Papperger, dilansit Wall Street Journal, Rabu (13/5/2026).

Deteksi drone bukanlah hal baru bagi kedua perusahaan tersebut. Pada Desember 2025, Rheinmetall menjalin kemitraan dengan kepolisian dan otoritas pelabuhan di kota Hamburg untuk mengembangkan teknologi perlindungan infrastruktur maritim, sipil, dan penting.

Sementara itu, Deutsche Telekom mendeteksi drone atas nama kepolisian selama kejuaraan sepak bola Eropa pada tahun 2024.

Baca juga: Peluang Damai AS-Iran Menyempit akibat Perang Drone di Lebanon

Memanfaatkan frekuensi radio

Mereka mengatakan bahwa sensor frekuensi radio menawarkan metode umum untuk mendeteksi drone.

Sebab, sebagian besar drone diterbangkan dalam jarak pandang menggunakan kendali jarak jauh radio yang berkomunikasi melalui frekuensi radio.

Sensor RF (radio-frequency) dapat melacak sinyal dan mengungkapkan posisi drone serta pengendalinya.

Baca juga: Militer Iran Ancam Serang Pangkalan AS, Rudal dan Drone Sudah Kunci Sasaran

Drone DJI Matrice 400 telah dibekali sertifikasi ketahanan dengan rating IP55. Artinya drone ini sudah tahan terhadap air dan debu sehingga cocok dioperasikan di berbagai kondisi ekstrem, seperti suhu antara minus (-) 20 derajat sampai 50 derajat celcius. petapixel Drone DJI Matrice 400 telah dibekali sertifikasi ketahanan dengan rating IP55. Artinya drone ini sudah tahan terhadap air dan debu sehingga cocok dioperasikan di berbagai kondisi ekstrem, seperti suhu antara minus (-) 20 derajat sampai 50 derajat celcius.

Namun, meningkatnya jumlah drone yang dioperasikan melalui jaringan seluler menimbulkan tantangan karena ia menyatu dengan lalu lintas jaringan yang sah.

Perusahaan-perusahaan tersebut mengatakan, jaringan seluler akan bertindak sebagai sensor di masa depan untuk mendeteksi perubahan dan anomali dalam lalu lintas data dari kendali drone, lalu membuatnya terlihat oleh layanan darurat.

Kedua perusahaan mengatakan akan mengungkapkan detail lebih lanjut tentang kemitraan deteksi drone mereka di kemudian hari.

Baca juga: 3 Kapal Perang AS Diserang Iran di Selat Hormuz, Rudal dan Drone Diluncurkan

Kekhawatiran adanya sabotase menggunakan drone

Sebelumnya di tahun lalu, Jerman melaporkan serangkaian pelanggaran wilayah udara oleh drone, yang memaksa penutupan sementara bandara Munich.

Kondisi tersebut sempat mengganggu penerbangan dan membuat penumpang terlantar di ibu kota Bavaria.

Berlin kemudian berjanji untuk memperketat undang-undang keamanan agar memungkinkan deteksi dan penghancuran drone yang lebih cepat.

Baca juga: Di Balik Drone Shahed Iran, Peran Rahasia China Mulai Terungkap

Selain itu, serangkaian penampakan pesawat nirawak juga dilaporkan muncul di dekat instalasi militer di Belgia dan Denmark dalam beberapa bulan terakhir.

Ini meningkatkan kekhawatiran di kalangan pejabat Eropa tentang kemungkinan kegiatan mata-mata dan tindakan sabotase.

Tag:  #jerman #kembangkan #sistem #prisai #anti #drone #untuk #antisipasi #sabotase

KOMENTAR