Takut Iran, Sekutu Teluk Larang AS Pakai Pangkalan dan Wilayah Udara
Arab Saudi dan Kuwait sempat melarang militer Amerika Serikat menggunakan pangkalan serta wilayah udara mereka untuk operasi di Selat Hormuz.
Pembatasan itu membuat Presiden AS Donald Trump menghentikan sementara operasi “Project Freedom” pada Selasa (5/5/2026) yang bertujuan untuk mengawal kapal-kapal melintasi Selat Hormuz.
Laporan The Wall Street Journal mengatakan, Trump sempat menelepon Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk membahas operasi tersebut. Namun, keduanya gagal mencapai kesepakatan hingga akhirnya Project Freedom batal dijalankan setelah satu hari diterapkan.
Baca juga: Balas Dendam, AS Gempur Fasilitas Peluncur Rudal dan Drone Iran
Menurut pejabat Saudi, Riyadh dan Kuwait memblokir akses tersebut setelah pejabat senior AS dianggap meremehkan serangan Iran di kawasan Teluk Persia yang muncul sebagai respons terhadap operasi tersebut.
Pejabat Saudi juga menegaskan bahwa negara-negara Teluk khawatir AS tidak akan melindungi mereka jika konflik semakin meluas.
Saudi cabut pembatasan
Menurut pejabat AS dan Saudi, akses penggunaan pangkalan dan jalur udara Saudi akhirnya dipulihkan setelah percakapan telepon lanjutan antara Trump dan Mohammed bin Salman.
Di sisi lain, Gedung Putih membantah adanya larangan atau pembatasan dari sekutu AS di Teluk.
Pemerintah AS bahkan menyatakan, sekutu-sekutu Teluk telah diberi pemberitahuan sebelum “Project Freedom” diluncurkan.
Pejabat pertahanan yang terlibat dalam proses itu mengatakan, bila operasi kembali dilanjutkan, kapal dagang yang berkoordinasi dengan AS akan diarahkan melewati jalur sempit yang telah dibersihkan dari ranjau dan dijaga kapal perang serta pesawat AS.
Iran serang UEA
Peluncuran gelombang ke-41 serangan rudal Iran oleh Garda Revolusi (IRGC) pada Kamis (12/3/2026), menargetkan aset-aset Israel dan Amerika Serikat di Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.
Saat operasi dimulai pekan ini, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa Washington telah membangun perlindungan besar di Selat Hormuz.
“Sebagai hadiah langsung dari Amerika Serikat untuk dunia, kami telah membangun kubah merah, putih, dan biru yang kuat di atas selat itu,” kata Hegseth.
Ia menambahkan, “Kapal perusak Amerika telah bersiaga, didukung ratusan jet tempur, helikopter, drone, dan pesawat pengintai yang memberikan pengawasan 24 jam bagi kapal dagang yang melintas dengan damai.”
Iran kemudian meluncurkan rudal dan drone ke Uni Emirat Arab sebagai respons atas upaya AS membuka kembali selat tersebut. Satu-satunya pusat ekspor minyak UEA yang masih berfungsi dilaporkan terkena serangan.
Baca juga: Trump Santai soal Baku Tembak AS-Iran di Selat Hormuz: Cuma Sentuhan Kasih Sayang
Arab Saudi disebut semakin khawatir setelah Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine menggambarkan serangan Iran terhadap kapal dan UEA hanya sebagai “gangguan tingkat rendah” seraya menegaskan bahwa gencatan senjata masih berlaku.
Bentrokan di laut
Saat dijalankan dalam hitungan jam, operasi Project Freedom berhasil mengeluarkan dua kapal berbendera AS dari Teluk Persia, tetapi juga memicu bentrokan baru.
Iran disebut menembakkan rudal jelajah dan drone ke kapal perang AS serta kapal komersial.
Namun, AS mengaku berhasil mencegat serangan itu dan menenggelamkan enam kapal cepat Iran.
Meski demikian, Iran disebut tetap berhasil menyerang sejumlah kapal non-AS.
Iran juga dilaporkan menembakkan 15 rudal dan sejumlah drone ke UEA hingga menghantam pusat minyak Fujairah. Serangan itu disebut menjadi yang pertama sejak gencatan senjata AS-Iran berlaku bulan lalu.
Menanggapi hal ini, Iran membantah melakukan operasi terhadap UEA, tetapi memperingatkan akan memberikan “respons menghancurkan” bila ada tindakan dari musuh terhadapnya yang diluncurkan dari negara Teluk tersebut.
Baca juga: 3 Kapal Perang AS Diserang Iran di Selat Hormuz, Rudal dan Drone Diluncurkan
Tag: #takut #iran #sekutu #teluk #larang #pakai #pangkalan #wilayah #udara