Peringatan Singapura, Selat Malaka Lebih Bahaya dari Hormuz jika AS-China Perang
Menlu Singapura Vivian Balakrishnan(AFP PHOTO/LILLIAN SUWANRUMPHA)
17:18
28 April 2026

Peringatan Singapura, Selat Malaka Lebih Bahaya dari Hormuz jika AS-China Perang

- Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menegaskan, dampak geopolitik dari blokade Selat Hormuz di Timur Tengah hanyalah “latihan awal”.

Menurutnya, pusat ketegangan dunia yang sebenarnya berada di Pasifik, yang melibatkan hubungan geostrategis antara Amerika Serikat dan China. 

Jika hubungan kedua raksasa tersebut retak hingga memicu perang, Selat Malaka akan menjadi titik paling krusial.

"Bahaya utamanya adalah jika hubungan itu retak akibat perang di Pasifik. Apa yang Anda saksikan sekarang di Selat Hormuz hanyalah latihan awal," kata Balakrishnan dalam sesi panel CNBC Converge Live di Singapura, dikutip dari SCMP, Selasa (28/4/2026).

Ia menjelaskan, Singapura, Malaysia, dan Indonesia memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga Selat Malaka tetap terbuka, bahkan di tengah ancaman pengenaan biaya tol pada jalur perairan strategis di Asia Tenggara tersebut.

Baca juga: Malaysia dan Singapura Tolak Wacana RI Pungut Tarif Kapal di Selat Malaka

Kepentingan AS-China di Asia Tenggara

Selama sesi panel di CNBC Converge Live di Singapura, ia ditanya apakah negaranya berada di bawah tekanan dari Amerika Serikat dan China untuk memilih di antara keduanya mengingat iklim geopolitik saat ini.

“Belum bagi kami,” katanya di forum di Jewel Changi Airport, dikutip dari SCMP, Selasa (28/4/2026).

Ia mencatat, saat berinteraksi dengan Presiden Donald Trump, ia mengingatkan pemimpin AS tersebut tentang kepentingan signifikan yang dimiliki Washington di Asia Tenggara dalam bentuk investasi langsung asing yang nilainya lebih besar daripada gabungan investasi dari India, China, Jepang, dan Korea Selatan.

Balakrishnan juga menyatakan, AS memiliki surplus perdagangan yang sehat dengan Singapura. 

Baca juga: Tak Tiru Malaysia, Singapura Enggan Negosiasi dengan Iran soal Selat Hormuz

Demikian pula dengan China, negara kota ini termasuk di antara beberapa sumber utama investasi asing.

Ia menekankan, bahaya sesungguhnya terjadi lebih dekat, karena masa depan tidak hanya soal minyak dan gas, melainkan juga hubungan geostrategis antara China dan AS.

“Revolusi dalam kecerdasan buatan, revolusi dalam bioteknologi, dan revolusi dalam energi terbarukan, dalam semua hal itu, saya berpendapat, aksi sesungguhnya ada di Pasifik,” jelas dia.

Ia mengaku telah menyampaikan kepada Washington dan Beijing bahwa Singapura memandang transit melalui perairan internasional sebagai hak, bukan hak istimewa.

Baca juga: Kelahiran Anjlok ke Rekor Terendah, Singapura Terancam Menyusut di 2040

Tak mau ikut pasang tarif Selat Malaka

Tangkapan layar Google Maps, Selat Malaka.Tangkapan layar Google Maps Tangkapan layar Google Maps, Selat Malaka.

Balakrishnan juga menyoroti risiko pungutan bea di Selat Malaka. Apalagi, Singapura, Indonesia, dan Malaysia bergantung pada perdagangan.

“Di antara kami bertiga, kami memiliki mekanisme kerja sama untuk tidak memungut biaya, melainkan menjaga agar selat tetap terbuka dan mempertahankan posisi tersebut," tuturnya. 

"Intinya di sini adalah bahwa ketiga negara memiliki kepentingan strategis dan secara strategis sejalan dalam menjaga agar selat tetap terbuka. Itu bukanlah sesuatu yang dapat dianggap remeh di banyak tempat lain,” tambahnya.

Singapura telah menyampaikan kepada AS dan China bahwa pihaknya beroperasi berdasarkan UNCLOS dan hak lintas transit dijamin bagi semua pihak.

Baca juga: Kapal-kapal Tanker Iran Macet di Selat Hormuz, Blokade AS Sukses?

“Kami tidak akan ikut serta dalam upaya apa pun untuk menutup, menghalangi, atau mengenakan tol di wilayah kami,” katanya.

Pernyataan Balakrishnan tersebut muncul bersamaan dengan pernyataan Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya sedang menjajaki kemungkinan mengenakan pungutan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka.

Purbaya mengatakan, usulan tersebut kemungkinan besar tidak akan segera diterapkan, mengingat kompleksitas dalam mencapai kesepakatan di antara negara-negara pesisir dan potensi penolakan dari kepentingan pelayaran global.

Baca juga: Lewat Pakistan, Iran Kode Siap Akhiri Blokade Selat Hormuz, asalkan...

Alasan Singapura ogah negosiasi dengan Iran

Awal bulan ini, Balakrishnan menekankan bahwa Singapura tidak akan bernegosiasi dengan Iran mengenai jaminan keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Pasalnya, sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, hal ini merupakan hak dan bukan hak istimewa, sebuah poin yang diperdebatkan oleh beberapa politisi Malaysia.

Balakrishnan mencatat, lebih banyak minyak laut mengalir melalui Selat Malaka dan Selat Singapura daripada Selat Hormuz. 

Baca juga: Selat Hormuz Jadi Taruhan, Iran Minta Isu Nuklir Tak Dibahas Dulu

Ia juga menyoroti bahwa sementara titik tersempit di Selat Hormuz berukuran 21 mil laut, titik ter sempit di Selat Singapura kurang dari 2 mil laut.

Ketika ditanya apakah ia telah melakukan komunikasi dengan mitranya dari Iran, Balakrishnan mengaku telah menghubungi pihak tersebut.

Namun, ia menekankan bahwa Singapura tidak setuju dengan penutupan Selat Hormuz, terutama mengingat Selat Malaka memiliki titik kemacetan yang lebih sempit.

“Ini bukan masalah pribadi, ini soal prinsip. Begitulah cara Singapura beroperasi. Namun, kami memiliki hubungan yang baik dengan Iran,” kata Balakrishnan.

Tag:  #peringatan #singapura #selat #malaka #lebih #bahaya #dari #hormuz #jika #china #perang

KOMENTAR