Selat Hormuz Jadi Taruhan, Iran Minta Isu Nuklir Tak Dibahas Dulu
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.(NASA EARTH OBSERVATORY via AFP)
08:30
28 April 2026

Selat Hormuz Jadi Taruhan, Iran Minta Isu Nuklir Tak Dibahas Dulu

Iran menawarkan membuka kembali Selat Hormuz di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat, dengan syarat blokade terhadap negaranya dicabut dan perang diakhiri.

Tawaran itu sekaligus meminta agar pembahasan soal program nuklir Iran ditunda ke tahap berikutnya.

Proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan kepada pihak Amerika. Namun, sinyal dari Washington menunjukkan kesepakatan semacam ini sulit terwujud dalam waktu dekat.

Baca juga: Negosiasi Buntu, Trump Panggil Tim Keamanan Bahas Nasib Konflik Iran

Tawaran Iran

Dilansir Associated Press (AP), dua pejabat regional pada Senin (27/4/2026) menyebut Iran bersedia mengakhiri tekanan di Selat Hormuz jika AS mencabut blokade dan menghentikan perang.

Dalam skema ini, pembahasan mengenai program nuklir Iran akan ditunda, bukan dihapus.

Selat Hormuz sendiri menjadi jalur vital karena dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.

AS bersikukuh soal nuklir

Foto ini diambil pada 10 November 2019, menunjukkan bendera Iran di pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr Iran, selama upacara resmi untuk memulai pekerjaan pada reaktor kedua di fasilitas tersebut. AFP/ATTA KENARE Foto ini diambil pada 10 November 2019, menunjukkan bendera Iran di pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr Iran, selama upacara resmi untuk memulai pekerjaan pada reaktor kedua di fasilitas tersebut.

Pemerintahan Donald Trump dinilai kecil kemungkinan menerima tawaran tersebut. Salah satu alasannya adalah karena isu utama yang memicu konflik—yakni program nuklir Iran—justru tidak diselesaikan dalam proposal itu.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan sikap keras Washington. Ia mengatakan, “Kami tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja. Kami harus memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dibuat benar-benar mencegah mereka bergerak cepat menuju senjata nuklir kapan pun.”

Dampak global atas penutupan Selat Hormuz

Ketegangan di Selat Hormuz berdampak luas pada ekonomi global. Penutupan jalur tersebut membuat harga minyak melonjak tajam, dengan harga Brent ditutup di atas 108 dollar AS (sekitar Rp 1,8 juta) per barrel—sekitar 50 persen lebih tinggi sejak perang dimulai.

Kondisi ini juga menyebabkan kapal tanker terjebak di Teluk dan mengganggu distribusi energi global. Kenaikan harga energi kemudian merembet ke harga pupuk, pangan, dan kebutuhan dasar lainnya.

Baca juga: Lewat Pakistan, Iran Kode Siap Akhiri Blokade Selat Hormuz, asalkan...

Puluhan negara mendesak agar jalur pelayaran itu segera dibuka kembali. Dalam pernyataan bersama yang dipimpin Bahrain, negara-negara tersebut menekankan pentingnya menjaga arus perdagangan global.

Sekretaris Jenderal António Guterres memperingatkan dampak kemanusiaan yang semakin besar. Ia mengatakan, “Tekanan ini menjalar menjadi tangki bahan bakar kosong, rak-rak kosong—dan piring-piring kosong.”

Kritik juga datang dari Kanselir Jerman Friedrich Merz yang menilai AS telah memulai perang tanpa strategi yang jelas.

Ia mengatakan, “Masalah dengan konflik seperti ini selalu sama: bukan hanya soal masuk, tapi juga bagaimana keluar.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengkritik semua pihak. Ia menyebut serangan awal AS dan Israel dilakukan tanpa tujuan jelas dan melanggar hukum internasional, namun tetap menegaskan bahwa Iran bertanggung jawab atas penutupan jalur tersebut. “Selat adalah arteri dunia. Itu bukan milik satu pihak,” ujarnya.

Diplomasi masih buntu

Meski gencatan senjata rapuh masih berlaku, belum ada kesepakatan permanen. Iran juga terus menjalin komunikasi dengan Rusia, dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bertemu Presiden Vladimir Putin di St. Petersburg.

Putin memuji rakyat Iran sebagai pihak yang “berjuang dengan berani dan heroik untuk kedaulatan mereka” dan menyatakan Rusia akan melakukan segala upaya untuk membawa perdamaian di Timur Tengah.

Di sisi lain, Araghchi menilai AS tidak mencapai tujuannya dalam perang. Ia mengatakan, “Mereka tidak mencapai satu pun tujuan mereka. Itulah sebabnya mereka meminta negosiasi. Kami sekarang sedang mempertimbangkannya.”

Baca juga: Trump Jual Mahal, Suruh Iran Telepon Duluan jika Mau Akhiri Perang

Tag:  #selat #hormuz #jadi #taruhan #iran #minta #nuklir #dibahas #dulu

KOMENTAR