Saat Harga Migas Melambung, Energi Terbarukan Jadi Penyelamat Negara Eropa
- Perang Iran yang mengganggu aliran minyak dan gas global telah menyebabkan harga energi dunia meroket tajam.
Namun, di tengah situasi sulit ini, Sungai Drin yang mengalir melalui pegunungan di utara Albania muncul sebagai "perisai" bagi krisis tersebut.
Berkat curah hujan musim dingin dan pencairan salju, sungai yang telah terpasang bendungan hidroelektrik dari era komunis ini memasok lebih dari 90 persen kebutuhan listrik Albania.
Listrik yang diproduksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sana terbukti ampuh menjaga stabilitas harga listrik di negara Balkan tersebut, sebagaimana dilansir Reuters.
Albania menjadi salah satu contoh bagaimana negara-negara dengan produksi energi terbarukan yang tinggi "selamat" dari lonjakan harga listrik yang ekstrem akibat perang Iran.
Konflik tersebut dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari. Teheran membalas dan menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen minyak dan gas dunia.
Baca juga: Dihantam Krisis Energi Imbas Situasi Hormuz, Warga Eropa Ramai-ramai Borong Panel Surya
Perbedaan harga listrik di Eropa
Data perbandingan harga di seluruh Eropa menunjukkan adanya jurang perbedaan antara negara yang bergantung pada bahan bakar fosil dengan negara yang telah beralih ke energi hijau.
Di Italia, yang menghasilkan lebih dari 40 persen listriknya dari gas, harga patokan listrik telah naik lebih dari 20 persen sejak perang pecah.
Sementara di Jerman, yang juga haus akan pasokan gas, harga patokan melonjak lebih dari 15 persen.
Kondisi berbeda terlihat di Perancis dan Spanyol. Perancis, yang mengandalkan 70 persen listriknya dari energi nuklir, mengalami kenaikan harga kurang dari setengah kenaikan di Italia.
Spanyol bahkan mencatatkan penurunan harga setelah meningkatkan output energi terbarukan hingga hampir 60 persen dari total produksi.
Baca juga: Perusahaan Italia Temukan Harta Karun di Laut RI, Siap Atasi Krisis Energi
Satyam Singh, analis dari firma riset energi Rystad, menjelaskan bahwa krisis ini menaikkan ambang harga regional bagi semua orang.
"Negara-negara dengan fleksibilitas paling rendah dan ketergantungan marginal terbesar pada bahan bakar impor merasakan dampak terkuat dalam volatilitas dan lonjakan harga," ujar Satyam Singh.
Meski negara seperti Italia, Jerman, dan Yunani memiliki produksi tenaga surya, ketergantungan yang berlebihan pada satu sumber ini memicu fenomena duck curve.
Fenomena ini menyebabkan harga listrik sangat rendah di siang hari, namun melonjak tajam pada pagi dan sore hari.
Alessandro Armenia, analis energi di Kpler, Paris, menyebutkan bahwa tantangan besar bagi negara-negara tersebut adalah membangun sistem penyimpanan energi jangka panjang.
"Tujuan bagi sebagian besar negara seperti Italia dan Jerman adalah membangun energi terbarukan dan penyimpanan jangka panjang yang mengimbangi gas. Ini akan menjadi tantangan besar," kata Alessandro.
Baca juga: Geopolitik Bergolak, Energi Terguncang: Ujian Strategis Indonesia
Dampak ke masyarakat
Meskipun kenaikan harga listrik membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sampai ke konsumen akhir, dampaknya mulai dirasakan oleh sektor usaha kecil dan rumah tangga.
Di Italia, Nico Vanni (47), pemilik toko roti La Nave, mulai merasa terdesak. Tokonya menggunakan 2.000 liter solar per bulan untuk pengiriman dan ovennya berbahan bakar gas alam.
"Kami bisa bertahan selama beberapa bulan, tetapi tidak untuk waktu lama. Risiko nyatanya adalah kami harus melakukan intervensi pada staf (PHK)," ungkap Nico.
Kisah serupa datang dari Siprus. Marios Georgiou, seorang operator mesin di percetakan Limassol, terpaksa berhenti dari salah satu pekerjaannya untuk mencari pekerjaan lain yang lebih dekat dengan rumah karena biaya bahan bakar melonjak 20 persen.
"Saya punya dua pekerjaan dan hampir tidak bisa mencapai titik impas. Semuanya naik begitu saja," keluh ayah dua anak tersebut.
Baca juga: Krisis Selat Hormuz Bukti Kerentanan Bahan Bakar Fosil, Transisi Energi Tak Bisa Ditunda
Ketahanan Albania mulai tertekan
Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.
Di Albania, ketergantungan pada bendungan tua peninggalan komunis memang membantu, tetapi pemerintah mulai merasakan tekanan finansial.
Kementerian Energi Albania menyatakan bahwa ketergantungan pada listrik dari PLTA memang sangat krusial dalam meredam dampak terburuk krisis.
Namun, Albania tetap harus mengimpor listrik saat permintaan mencapai puncak, dan pemerintah saat ini harus menyubsidi harga untuk melindungi konsumen.
"Konflik Iran telah meningkatkan tekanan di balik layar, terutama pada keuangan publik. Sistem ini terlihat stabil di permukaan, sementara beban nyata terus menumpuk di bawahnya," tulis pernyataan resmi Kementerian Energi Albania.
Kondisi ini semakin memperkuat dorongan bagi transisi energi hijau di Eropa, yang sebelumnya sempat dikritik karena kurangnya urgensi dalam pelaksanaannya.
Baca juga: Israel-AS Siap Serang Iran jika Gencatan Senjata Gagal, Targetkan Fasilitas Energi
Tag: #saat #harga #migas #melambung #energi #terbarukan #jadi #penyelamat #negara #eropa