Tak Lagi Andalkan AS, Negara Teluk Borong Drone Pencegat Murah dari Ukraina
Negara-negara Teluk mulai mengubah strategi pertahanan mereka setelah stok sistem pertahanan udara terkuras akibat serangan intens dalam konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran sejak akhir Februari.
Dengan gencatan senjata rapuh antara kedua negara, sekutu dekat Washington kini berlomba mencari cara cepat untuk memperkuat pertahanan.
Ketergantungan pada pasokan senjata dari AS mulai dipertanyakan, terutama karena keterbatasan produksi dan lamanya waktu pengiriman. Dalam situasi ini, berbagai alternatif—termasuk drone pencegat murah dari Ukraina—menjadi pilihan yang semakin dilirik.
Baca juga: Ukraina Mulai Beraksi Jatuhkan Drone Iran di Timur Tengah
Kerja sama dengan Ukraina
Menurut laporan The Wall Street Journal, Minggu (12/4/2026), negara-negara Teluk mulai memperdalam kerja sama dengan Ukraina untuk memperkuat pertahanan mereka.
Arab Saudi telah menandatangani kesepakatan kerja sama pertahanan yang berfokus pada produksi senjata dan berbagi pengalaman.
Qatar juga meneken perjanjian serupa dan bahkan mengirim pejabatnya untuk mengunjungi lokasi pelatihan drone pencegat di Ukraina serta bertemu dengan perwakilan perusahaan pertahanan besar di negara tersebut.
Selain itu, perusahaan dan unit militer Ukraina menyebut bahwa pejabat dari negara Teluk telah meminta drone pencegat dan peralatan perang elektronik.
Namun, produsen Ukraina menghadapi keterbatasan pasokan dan kemampuan ekspor. Salah satu pemasok menyebut produksinya masih dibutuhkan untuk memenuhi permintaan tinggi di dalam negeri, sementara ekspor juga memerlukan persetujuan pemerintah.
Jajaki senjata dari negara lain
Selain Ukraina, negara-negara Teluk juga mulai menjajaki opsi dari Korea Selatan.
Arab Saudi disebut telah menghubungi perusahaan seperti Hanwha dan LIG Nex1 untuk mempercepat pesanan sistem M-SAM.
Sistem pertahanan udara jarak menengah ini mampu mencegat drone, rudal, dan pesawat, dan telah digunakan oleh Uni Emirat Arab untuk menjatuhkan amunisi Iran, menurut seorang anggota parlemen Korea Selatan.
Uni Emirat Arab juga dilaporkan meminta tambahan rudal pencegat dari perusahaan Korea Selatan.
Baca juga: Iran Tembak Jatuh Drone China, Tuding UEA-Saudi Ikut Perang
Tak hanya itu, mereka juga melirik teknologi baru dari perusahaan rintisan, termasuk Cambridge Aerospace dari Inggris, yang menurut pemerintah Inggris pada Jumat akan memasok negara-negara Teluk dengan rudal kecil berbiaya rendah yang dirancang untuk menghancurkan drone dan amunisi lainnya.
Alasan “berpaling” dari AS
Pergeseran ini terjadi di tengah keterbatasan kapasitas industri senjata Amerika Serikat dalam memenuhi lonjakan permintaan global. Kondisi tersebut telah terasa sejak meningkatnya kebutuhan akibat perang di Ukraina.
“Investasi dalam kapasitas baru sudah mulai dilakukan, tetapi belum dengan intensitas yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan saat ini,” kata Adrien Rabier, analis di Bernstein.
Pemerintah AS memang melanjutkan penjualan senjata senilai 23 miliar dollar AS (sekitar Rp 393 triliun) ke Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Yordania, termasuk sistem pertahanan udara, radar, dan rudal Patriot PAC-3. Namun, sebagian pasokan tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikirim.
Selain itu, hampir 20 negara menggunakan sistem Patriot, dan persediaannya telah terkuras oleh perang di Ukraina. Bahkan, Swiss mempertimbangkan membatalkan pesanannya karena keterlambatan pengiriman.
Serangan Iran jadi pemicu
Tangkapan layar dari video ledakan serangan Iran ke pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain. Iran menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah untuk membalas serangan Israel, di antaranya mencakup Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Langkah negara-negara Teluk ini tidak lepas dari dampak serangan balasan Iran yang mengejutkan AS dan sekutunya.
Skala serangan tersebut menunjukkan bagaimana drone murah mampu digunakan untuk melancarkan serangan massal.
Drone seperti Shahed memungkinkan serangan dalam jumlah besar dengan biaya rendah, sehingga menantang efektivitas sistem pertahanan mahal.
Baca juga: Nelayan Lombok Temukan Drone Bawah Laut China, Australia Pantau Ketat
Tag: #lagi #andalkan #negara #teluk #borong #drone #pencegat #murah #dari #ukraina