Kisah Michael Morton, Pria AS yang Dipenjara 25 Tahun akibat Tuduhan Palsu Jaksa
Michael Morton.(michaelmorton.com)
21:18
2 April 2026

Kisah Michael Morton, Pria AS yang Dipenjara 25 Tahun akibat Tuduhan Palsu Jaksa

- Kasus salah vonis yang menimpa Michael Morton menjadi potret buram penegakan hukum di Amerika Serikat.

Morton harus kehilangan 25 tahun masa mudanya di penjara atas pembunuhan yang tidak pernah ia lakukan, akibat ulah jaksa yang sengaja menyembunyikan bukti meringankan.

Peristiwa ini bermula pada 13 Agustus 1986 di Williamson County, Texas.

Baca juga: Kasus Andrie Yunus, Usman Hamid Tegaskan Jaksa Agung Penentu Jalur Peradilan

Istri Morton, Christine, ditemukan tewas di rumah mereka tepat sehari setelah perayaan ulang tahun Morton yang ke-32.

Meski saat kejadian Morton sedang bekerja, polisi dan jaksa justru menetapkannya sebagai tersangka tunggal.

Dakwaan Tanpa Bukti Fisik

Dalam persidangan tahun 1987, Jaksa Penuntut Ken Anderson gagal menyajikan bukti ilmiah maupun saksi mata.

Namun, jaksa membangun narasi emosional di depan para hakim juri dengan menuduh Morton membunuh istrinya karena ditolak berhubungan intim.

"Tidak ada bukti ilmiah, tidak ada saksi mata, tidak ada senjata pembunuh. Saya tidak mengerti bagaimana orang yang rasional bisa menganggap itu cukup untuk vonis bersalah," ujar Morton, dikutip dari CNN.

Meski minim bukti, juri tetap menyatakan Morton bersalah dan menjatuhkannya hukuman penjara seumur hidup.

Ilustrasi pembunuhan.tribratanewsntt.com Ilustrasi pembunuhan.

Bukti Kunci yang Sengaja Disembunyikan

Kebenaran baru terungkap dua dekade kemudian setelah tim pengacara pro-bono (sukarela) melakukan penyelidikan ulang.

Ditemukan fakta bahwa Jaksa Ken Anderson sengaja menahan sejumlah bukti krusial yang seharusnya bisa membebaskan Morton sejak awal, di antaranya:

  • Kesaksian Anak: Eric, putra Morton yang saat itu masih balita, mengaku melihat pelaku dan menegaskan bahwa ayahnya tidak ada di rumah saat kejadian.
  • Laporan Saksi Mata: Tetangga melihat pria mencurigakan dengan mobil van hijau di sekitar TKP.
  • Bandana Berdarah: Ditemukan di dekat lokasi kejadian, tapi tidak pernah dihadirkan jaksa di persidangan.

Pada 2011, uji DNA terhadap bandana tersebut membuktikan bahwa darah yang ada bukan milik Morton, melainkan milik Mark Norwood, pria yang belakangan terbukti sebagai pembunuh asli Christine.

Kehilangan Hubungan dengan Anak

Dampak paling menyakitkan bagi Morton bukan hanya jeruji besi, melainkan hancurnya hubungan dengan putranya.

Selama 25 tahun, jarak emosional antara keduanya semakin lebar.

Eric bahkan sempat mengganti nama belakangnya karena malu memiliki ayah seorang narapidana.

"Itu adalah momen yang membuat saya mati rasa dan sakit hati," kata Morton saat mengenang saat Eric memutuskan untuk berhenti mengunjunginya di penjara.

Hukuman Jaksa Dinilai Terlalu Ringan

Michael Morton akhirnya bebas pada Oktober 2011 di usia 57 tahun.

Adapun jaksa yang mengajukan tuduhan palsu terhadap Morton, Ken Anderson, kala itu sudah menjabat sebagai hakim.

Ken Anderson kemudian diproses secara hukum atas tindakan penghinaan terhadap pengadilan karena menyembunyikan bukti.

Meski terbukti melakukan pelanggaran berat, Anderson hanya dijatuhi hukuman 10 hari penjara (hanya dijalani 5 hari karena perilaku baik), denda 500 dollar AS, dan pencabutan izin praktik hukum.

Baca juga: Berkaca dari Kasus Fandi dan Amsal Sitepu, Ada Apa dengan Kinerja Jaksa?

Hukuman ini dinilai publik tidak sebanding dengan 25 tahun hidup Morton yang telah dirampas.

Kasus ini kemudian melahirkan "Michael Morton Act" di Texas, sebuah undang-undang yang mewajibkan jaksa untuk membuka seluruh bukti kepada tim pengacara terdakwa guna mencegah terjadinya tuduhan keliru yang berakhir pada salah vonis di masa depan.

Tag:  #kisah #michael #morton #pria #yang #dipenjara #tahun #akibat #tuduhan #palsu #jaksa

KOMENTAR