Israel Incar Jalur Pipa Lintas Semenanjung Arab Usai Perangi Iran
Ilustrasi pipa gas.(SHUTTERSTOCK/KLOTR)
12:24
21 Maret 2026

Israel Incar Jalur Pipa Lintas Semenanjung Arab Usai Perangi Iran

- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta agar dibangun jalur pipa minyak dan gas lintas Semenanjung Arab menuju pelabuhan-pelabuhan Israel. 

Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk menghindari ancaman Iran di Selat Hormuz dan perairan Teluk lainnya, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (20/3/2026).

Dalam konferensi pers yang berlangsung selama 45 menit pada Kamis (19/3/2026), Netanyahu memaparkan idenya mengenai perubahan peta energi regional setelah berakhirnya perang dengan Iran.

Baca juga: AS-Israel Mulai Beda Tujuan di Iran, Trump-Netanyahu Tak Padu

"Cukup dengan membangun pipa minyak dan gas yang mengarah ke barat melalui Semenanjung Arab, tepat ke Israel, hingga ke pelabuhan Mediterania kami, maka Anda telah meniadakan choke points selamanya," ujar Netanyahu.

Dia meyakini bahwa rute alternatif ini akan menjadi perubahan nyata yang mengikuti akhir dari konflik tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu di tengah kecamuk konflik Timur Tengah yang hampir memasuki pekan keempat.

Konflik Timur Tengah dimulai oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari dan membuat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur.

Teheran melancarkan serangan blasan dan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang menyumbang seperlima pasokan minyak dunia.

Baca juga: Trump Telah Larang Netanyahu Serang Gas Iran, AS-Israel Mulai Berseberangan?

Tekanan dari Trump

Usulan ini muncul di tengah eskalasi konflik setelah Israel menyerang ladang gas utama Iran di South Pars. 

Serangan tersebut memicu balasan serupa terhadap fasilitas energi di seluruh kawasan Teluk, yang berdampak pada melonjaknya harga energi dunia.

Terkait serangan di South Pars, Netanyahu menegaskan bahwa Israel bertindak sendiri. 

Namun, dia mengungkapkan adanya komunikasi dengan sekutu utama mereka, terutama Presiden AS Donald Trump.

"Presiden Trump meminta kami untuk menahan diri dari serangan-serangan di masa depan," kata Netanyahu menanggapi pertanyaan wartawan.

Trump sendiri diketahui berada dalam posisi politik yang rentan akibat kenaikan harga bahan bakar di kalangan pemilih intinya. 

Dia sempat melontarkan kritik kepada para sekutu yang dianggap ragu-ragu dalam membantu pengamanan Selat Hormuz, jalur yang melayani sekitar seperlima kebutuhan minyak dunia.

Baca juga: Terus Dirumorkan Tewas, Netanyahu Rilis Video: Saya Masih Hidup

Silang pendapat kemampuan nuklir Iran

Selain membahas logistik energi, Netanyahu mengeklaim bahwa kekuatan militer Iran telah melemah secara signifikan setelah konflik yang dimulai sejak 28 Februari lalu.

"Iran hari ini tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium dan tidak ada kemungkinan untuk memproduksi rudal," klaim Netanyahu tanpa memberikan bukti pendukung.

Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Kepala IAEA, Rafael Grossi, menyatakan bahwa infrastruktur nuklir Iran tidak sepenuhnya hancur.

"Banyak yang selamat dari kapasitas pengayaan nuklir Iran. Mereka memiliki kapabilitas, pengetahuan, dan kemampuan industri untuk melakukan hal tersebut," tegas Grossi.

Meski serangan udara terus digencarkan, Netanyahu mengakui bahwa penggulingan pemerintahan Iran tidak bisa dicapai hanya melalui serangan dari langit. 

Dia mengisyaratkan adanya kemungkinan operasi militer di jalur darat.

"Harus ada komponen darat juga. Ada banyak kemungkinan untuk komponen darat ini, dan saya memilih untuk tidak membagikan semua kemungkinan itu kepada Anda," tuturnya.

Baca juga: Netanyahu Unggah Video Baru Diduga AI Lagi, Cincin Tiba-tiba Hilang

Tag:  #israel #incar #jalur #pipa #lintas #semenanjung #arab #usai #perangi #iran

KOMENTAR