Pakistan Bombardir Kabul, Konflik Perbatasan dengan Afghanistan Berpotensi jadi Perang Terbuka
Saling serang antara Pakistan dan Afghanistan berpotensi jadi perang terbuka. (Al-Jazeera)
15:27
28 Februari 2026

Pakistan Bombardir Kabul, Konflik Perbatasan dengan Afghanistan Berpotensi jadi Perang Terbuka

- Ketegangan militer antara Pakistan dan Afghanistan kembali memuncak setelah serangkaian serangan udara dan bentrokan lintas batas memicu eskalasi terbaru di kawasan Asia Selatan.

Ibu kota Afghanistan, Kabul, dilaporkan menjadi sasaran serangan pada Jumat lalu hanya beberapa jam setelah baku tembak sengit terjadi di wilayah perbatasan kedua negara.

Sejumlah ledakan terdengar di Kabul, sementara laporan juga menyebutkan serangan terjadi di provinsi Paktia dan Kandahar. Insiden ini menandai babak baru konflik antara dua negara bertetangga yang sebelumnya sempat menandatangani gencatan senjata hasil mediasi Qatar pada 2025.

Pemerintah Pakistan melalui Menteri Informasi dan Penyiaran Attaullah Tarar menyatakan bahwa serangan udara di Kabul, Paktia, dan Kandahar menewaskan 133 pejabat Taliban Afghanistan serta melukai lebih dari 200 orang. Ia menambahkan bahwa jumlah korban masih dapat bertambah.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menegaskan angkatan bersenjata negaranya siap 'menghancurkan' siapa pun yang dianggap sebagai agresor. Sementara itu, Menteri Pertahanan Khawaja Mohammad Asif menyebut situasi yang berkembang sebagai perang terbuka antara kedua negara.

Dalam pernyataan di platform X, Asif menuding Taliban telah mengumpulkan militan dari berbagai negara dan mengekspor terorisme ke Pakistan. Ia menyebut Islamabad sebelumnya berharap stabilitas regional terjaga setelah penarikan pasukan NATO dari Afghanistan, namun kenyataannya berbeda.

Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Afghanistan mengklaim 55 tentara Pakistan tewas dalam bentrokan perbatasan pada Kamis malam. Otoritas Kabul juga menyebut delapan tentaranya gugur dan 11 lainnya terluka.

Selain itu, Afghanistan mengklaim telah menghancurkan 19 pos militer dan dua pangkalan Pakistan. Perbedaan data korban dari kedua pihak menunjukkan sulitnya verifikasi independen di tengah konflik yang terus berkembang.

Pemerintah Taliban menyatakan serangan terhadap pasukan perbatasan Pakistan pada Kamis malam merupakan aksi balasan atas serangan udara mematikan yang lebih dulu dilakukan Pakistan di wilayah perbatasan Afghanistan pada akhir pekan sebelumnya.

Pola serangan balasan ini memperlihatkan eskalasi yang berlangsung selama berbulan-bulan. Sejak bentrokan besar pada Oktober lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang dari kedua sisi, hubungan bilateral terus memburuk. Sejumlah perlintasan darat utama bahkan ditutup akibat situasi keamanan yang memburuk.

Pakistan selama ini menuduh Afghanistan gagal menindak kelompok militan yang melakukan serangan di wilayahnya. Tuduhan tersebut dibantah oleh pemerintah Taliban yang menegaskan tidak mengizinkan wilayah Afghanistan digunakan untuk menyerang negara lain.

Sementara itu, mengutip Guardian, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mendesak kedua negara untuk melindungi warga sipil sesuai hukum internasional dan menyelesaikan perbedaan melalui jalur diplomasi. Seruan tersebut disampaikan melalui juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

Di tengah ketegangan, warga sipil menjadi pihak paling rentan. Otoritas Afghanistan mengevakuasi kamp pengungsi di dekat perlintasan Torkham setelah sedikitnya 13 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas dan beberapa lainnya terluka akibat kekerasan terbaru.

Di sisi Pakistan, aparat setempat melaporkan warga di wilayah perbatasan juga mengungsi ke daerah yang lebih aman. Sejumlah pengungsi Afghanistan yang hendak kembali ke negaranya turut dipindahkan demi menghindari risiko serangan lanjutan.

Sebagaimana diketahui, Pakistan dan Afghanistan berbagi garis perbatasan sepanjang 2.611 kilometer yang dikenal sebagai Garis Durand. Perbatasan ini telah lama menjadi sumber ketegangan karena Afghanistan tidak pernah secara resmi mengakuinya sebagai batas internasional yang sah.

Sengketa historis tersebut kerap memperumit hubungan kedua negara dan menjadi latar belakang berbagai bentrokan bersenjata yang berulang. Upaya membangun kesepakatan jangka panjang, termasuk melalui mediasi Qatar dan Turki pada Oktober tahun lalu, sejauh ini belum menghasilkan stabilitas permanen.

Dengan pernyataan keras dari pejabat tinggi Pakistan dan klaim balasan dari Afghanistan, risiko konflik yang lebih luas semakin nyata. Tanpa langkah diplomasi cepat dan efektif, eskalasi ini berpotensi memperburuk situasi keamanan dan kemanusiaan di kawasan yang telah lama dilanda ketidakstabilan. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan

Tag:  #pakistan #bombardir #kabul #konflik #perbatasan #dengan #afghanistan #berpotensi #jadi #perang #terbuka

KOMENTAR